RSS

Monthly Archives: April 2011

People Behind The Stars

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Tampaknya, peribahasa itu “tidak mempan” untuk Bill Clinton, mantan presiden AS. Ada dua “dosa besar” yang telah dilakukan oleh Clinton. Pertama, selama menjabat presiden AS, ia selingkuh dengan Monica Lewinsky. Kedua, ia berbohong telah selingkuh dengan Lewinsky (setelah tidak dapat mengelak dari bukti-bukti, kemudian ia mengakui perbuatannya dan kemudian meminta maaf).

Sekalipun sudah lancung, mujur bagi Clinton masih sempat menjadi presiden AS untuk kedua kali. Sekalipun sudah lancung, sungguh beruntung yayasan yang didirikan Clinton masih juga mendapat kepercayaan dari para donatur. Sekalipun sudah lancung, buku yang ditulis oleh Clinton masih laris manis. Mengapa begitu?

Peran people behind the stars tampaknya tidak dapat dipungkiri. ?Banyak orang yang sukses dan populer karena peran people behind the stars. Banyak orang mengetahui kehebatan pebasket AS Michael Jordan dan tandemnya Magic Johnson, tetapi mungkin tidak banyak orang yang mengetahui siapa yang “membesarkan” kedua pebasket ini. Banyak orang mengetahui siapa van der Sar, tetapi siapa pelatih kiper yang mampu membuat van der Sar sebagai kiper hebat yang masih mampu bertahan sampai dengan umur 40 tahun di level yang sangat kompetitif?

Tulisan ini berusaha untuk menunjukkan bahwa ada orang-orang yang senang bekerja di belakang layar dan membantu orang lain untuk mengubah “from zero to hero”. Siapakah mereka?

“All The President Men”

Dalam setiap kampanye pemilihan presiden selalu ada tim sukses (sebut saja mereka “All The President Men” – judul sebuah film tentang skandal watergate di era Nixon) yang terdiri dari berbagai profesi dan latar belakang pendidikan. Bagi saya pribadi, tim sukses Bill Clinton untuk pemilihan presiden (untuk periode jabatan kedua bagi Clinton) tergolong berani melawan arus.

Meskipun saat itu Clinton sudah ketahuan sebagai “playboy cap kampak”, tim sukses? justru “menjerumuskan” Clinton untuk maju kedua kalinya sebagai calon presiden dengan tema tentang perempuan. Dari hasil riset diketahui bahwa pada saat itu, mayoritas pemilih dari jenis kelamin perempuan relatif lebih banyak daripada pemilih laki-laki. Sudah kepalang basah, kalau mau merebut dukungan dan suara dari perempuan, tidak ada cara lain kecuali mengusung tema perempuan.

Terbukti kemudian Clinton menang untuk kedua kalinya berkat dukungan dan suara perempuan. Barangkali kalau tim sukses Clinton tidak tepat menganalisis keadaan dan salah mem ”positioning” kan Clinton, pilihan tema itu justru bisa jadi bumerang. Clinton sungguh beruntung karena kaum perempuan Amerika Serikat memaaftkannya. Mungkin kaum perempuan AS terinspirasi “kata-kata bersayap” dari Nelson Mandela bahwa “the evil must be forggiven, not forgotten.”

Pelatih.

Meskipun Roger Federer saat ini telah menjadi satu-satunya manusia di muka planet bumi? ini yang pernah meraih 16 gelar grandslam tenis putra (2 gelar lebih banyak dari gelar grandslam yang diperoleh Pete Sampras), Federer masih merasa perlu untuk merekrut Paul Annacone. Annacone adalah mantan petenis putra AS yang “hanya” mampu merebut 1 gelar grandslam dan karirnya cenderung datar-datar saja. Tetapi Annacone adalah pelatih tenis yang mengantarkan Pete Sampras meraih 14 grandslam tenis putra dan Sampras digelari sebagai The King of Swing.

Peran pelatih tidak dapat dipungkiri sangat vital bagi keberhasilan seorang olahragawan. David Beckham dan Christiano Ronaldo boleh saja menjadi pesepakbola hebat dan sangat populer di seantero bumi, tetapi tidak ada yang meragukan jasa Sir Alex Ferguson yang telah “membesarkan” mereka. Di cabang olah raga individual seperti tenis lapangan, peran seorang pelatih sangat kentara. Itulah sebabnya Federer di usianya yang menginjak 30 tahun ini masih yakin mampu bertahan dan bersaing di level tertinggi kalau ditangani oleh pelatih yang telah sukses melatih Sampras.

Sekondan.

Di mana sekarang Susanto Megaranto, pecatur Indonesia termuda yang meraih gelar Grand Master? Anak dari pasangan petani Wastirah dan Darsinah di Indramayu ini meraih gelar GM pada umur 17 tahun (4 tahun lebih muda dari Utut Adianto – gurunya di sekolah catur Utut Adianto – yang meraih gelar GM pada umur 21 tahun) pada tahun 2005. ?Megaranto memang pecatur berbakat, namun untuk tetap bertahan di level yang sangat kompetitif ia kesulitan menggaji sekondan.

Sekondan adalah sparing partner pecatur profesional. Sekondan tidak hanya sekedar lawan tanding, tetapi juga mengetahui kekuatan dan kelemahan pecatur-pecatur profesional, mampu memainkan gaya bermain catur pecatur yang akan menjadi lawan, dan lain sebagainya. Di Russia adalah “gudang”nya ?para sekondan dan di sana sekondan adalah juga pecatur-pecatur dengan gelar Grand Master (gelar tertinggi di olahraga catur) dan dibayar mahal. Itulah sebabnya, pecatur dunia seperti Gary Kasparov dapat bertahan lama di level tertinggi di tingkat internasional karena ia mampu membayar sekondan-sekondan hebat.

Sekondan adalah benar-benar orang yang bekerja di belakang layar untuk kepentingan seorang pecatur profesional. Hampir semua orang mengenal pecatur genius Bobby Fischer dan Gary Kasparov, tetapi barangkali tidak satupun orang (kecuali mereka yang benar-benar mengenal dunia catur) yang mengetahui siapa orang yang berperan di balik kesuksesan Fischer dan Kasparov. Tidak ada satupun pecatur kelas dunia yang sukses tanpa bantuan sekondan.

Talent Scoutter.

Klub-klub sepakbola profesional di Belanda, Inggris, Italia, Perancis, dan Spanyol dapat bertahan selama berpuluh-puluh tahun karena mengandalkan pembibitan dan pembinaan yang sistematis dan berkesinambungan. Berbeda dengan timnas sepakbola Indonesia yang “malas” berakit-rakit dahulu dan bersenang-senang kemudian (baca : cenderung memilih jalan pintas naturalisasi pemain asing daripada membangun fondasi yang kuat untuk pembibitan dan pembinaan), hidup mati klub-klub sepakbola profesional di Eropa dan Amerika Latin memang sangat tergantung dari pasokan pemain dari akademi sepakbola yang mereka dirikan.

Sebagian besar orang hanya mengenal beberapa pesepakbola papan atas seperti Lionel Messi, Christiano Ronaldo, Cecs Fabregas, dan Javier “Chicharito” Hernandez. Klub-klub papan atas mampu merekrut para pesepakbola profesional karena jasa dari para pemandu bakat. Bahkan Lionel Messi lengkap dengan keluarganya sudah diboyong ke Barcelona sejak berusia 13 tahun. Kejelian seorang talent scoutter “mengendus-endus” bakat bermain sepakbola sejak masa kanak-kanak dan kemudian akurasi prediksi keberhasilan talenta memang patut diacungi jempol.

Saat ini ada seorang pemandu bakat yang sedang “naik daun” dan menjadi rebutan klub-klub sepakbola di Inggris, yaitu? Steve Rowley. Kinerja Rowley di klub Arsenal, Inggris sebagai pemandu bakat yang jeli dibuktikan antara lain dari sejumlah pemain muda yang menjadi andalan Arsene Wenger saat ini seperti Cesc Fabregas, Robin van Persie dan Thomas Vermaelen.? Rowley jugalah yang menemukan pemain-pemain muda potensial seperti Alex Song, Wojciech Szczesny, Bacary Sagna dan Gael Clichy dengan harga yang terbilang murah (Daily Mail,13.2.2011)

Punokawan

Salah satu people behind the stars adalah punokawan yang berada di belakang Pandawa Lima. Punokawan adalah wong cilik yang bertugas melayani Pandawa Lima. Meskipun dari lapisan sosial lebih rendah dibandingkan Pandawa Lima, mereka “berani” memberikan masukan kepada “boss” mereka yang mereka sampaikan dalam kemasan humor.

Pandawa Lima memang hebat dan berhasil mengalahkan kaum Kurawa. Tetapi kehebatan mereka bukan turun begitu saja dari langit. Tanpa dukungan dari Punokawan, barangkali sejarah akan mencatat hal yang berbeda dari Pandawa Lima.

Vox Populli, Vox Dei.

Kalau tidak ada suara rakyat, maka para anggota dewan yang terhormat itu tidak akan pernah berada di gedung parlemen. Rakyat sejatinya adalah yang menjadikan mereka from zero to hero. Karena itu, para anggota dewan yang terhormat, para pejabat negara dan pejabat daerah, sudah sepatutnya tahu dan sadar bahwa “vox populli, vox dei” (suara rakyat adalah suarat Tuhan)

Tidak ada cerita bahwa menjadi wakil rakyat, pejabat negara dan pejabat daerah menderita dan tidak sejahtera. Yang sungguh-sungguh terjadi adalah rakyat tetap tidak sejahtera dan diperlakukan tidak adil, meskipun rakyat telah bersusah payah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi para wakil rakyat, pimpinan negara dan para pimpinan daerah. Orang-orang yang sejatinya bukan siapa-siapa kalau tidak ada suara rakyat sudah tinggal landas dan rakyat yang selalu berada di landasan untuk menjadi tempat take-off dan tempat landing bagi orang-orang yang mereka besarkan.

Militer dan para politisi di Mesir tidak akan mampu melengserkan Hosni Mubarak tanpa ada people power. Begitulah sejarah, selalu mencatat pengorbanan rakyat dan kemudian rakyat selalu dilupakan oleh orang-orang yang berkarakter “kacang ninggal lanjaran” (kacang melupakan kulit).

Bumi Serpong Damai, 27 April 2011.

 
Leave a comment

Posted by on April 28, 2011 in Selasar

 

Training Need Analysis

Sebelum membuat perencanaan dan melaksanakan pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia (selanjutnya dalam tulisan ini disebut “pelatihan”) ada tiga pertanyaan yang harus dijawab, yaitu :

  1. Di bagian mana organisasi yang membutuhkan pelatihan?
  2. Apa yang harus dipelajari oleh peserta pelatihan agar mereka dapat mengerjakan pekerjaannya secara efektif?
  3. Siapa yang membutuhkan pelatihan dan pelatihan apa yang dibutuhkan?

Ketiga pertanyaan tersebut harus terjawab dalam proses identifikasi kebutuhan pelatihan (training need analysis). Untuk menjawab pertanyaan pertama, dilakukan organizational analysis (analisis organisasi). Untuk menjawab pertanyaan kedua maka perlu dilaksanakan task analysis (analisis pekerjaan). Sedangkan jawaban dari pertanyaan ketiga diperoleh melalui proses person analysis (analisis orang).

Performance appraisal (penilaian kinerja) ?adalah salah satu metode person analysis untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan ?paling umum digunakan. Untuk menyusun program pelatihan, sebagian organisasi merasa sudah mendapatkan data dan informasi yang “cukup” dari hasil penilaian kinerja. Karena pada intinya tujuan pelatihan tidak hanya untuk kepentingan individu atau karyawan yang bersangkutan, proses identifikasi kebutuhan pelatihan selayaknya juga mencakup analisis organisasi dan analisis pekerjaan.

Perbedaan utama dari ketiga metode tersebut adalah penilaian kinerja lebih fokus pada kesesuaian kompetensi individual dengan persyratan pekerjaan, analisis pekerjaan fokus pada? isi pekerjaan, dan analisis? organisasi fokus pada tingkat organisasi dan perubahan-perubahannya yang berdampak pada kebutuhan kompetensi baru bagi karyawan. Idealnya, data dan informasi yang diperoleh dari ketiga metode tersebut menjadi dasar untuk merencanakan dan melaksanakan pelatihan. ?Hasil dari ketiga metode saling melengkapi dan karena itu perencanaan pelatihan akan lebih valid dan dapat diandalkan. Ketiga metode identifikasi kebutuhan pelatihan tersebut dapat digambarkan dalam model sebagai berikut :

Organizational Analysis (Analisis Organisasi).

Ruang lingkup analisis organisasi mencakup keseluruhan organisasi, faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi efektivitas suatu organisasi, sasaran dan strategi organisasi, sumber daya manusia yang saat ini dimiliki, dan iklim organisasi (terutama employee engagement).

Perubahan-perubahan yang semakin cepat dan kompleks yang terjadi di lingkungan eksternal organisasi berdampak pada organisasi. Salah satu dampak dari perubahan-perubahan adalah perubahan-perubahan pada proses bisnis dan proses kerja, baik dalam hal kecepatan maupun metode kerja. Organisasi dituntut lebih fleksibel dan cepat dalam menjalankan proses bisnis dan mengelola aktivitas-aktivitas untuk menghasilkan produk barang dan jasa. Setiap perubahan proses bisnis dan proses kerja akan berdampak pada pekerjaan individual maupun tim. Pada gilirannya, setiap perubahan pekerjaan (konteks, proses dan konten) akan berdampak pada persyaratan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang dibutuhkan.

Bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi, setiap perubahan teknologi komunikasi dan informasi berdampak langsung terhadap pengetahuan dan keterampilan kerja para teknisinya. Perusahaan dituntut selalu mengadakan pelatihan agar mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang teknologi komunikasi dan informasi yang baru.

Dalam konteks ini, keusangan kompetensi terjadi karena perubahan teknologi komunikasi dan informasi. Kompetensi SDM yang semula sudah sesuai dengan pekerjaan yang lama, maka dengan perubahan teknologi komunikasi dan informasi, pekerjaan yang sama menuntut persyaratan kompetensi yang berbeda.

Survei terhadap iklim organisasi perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana? sesungguhnya employee engagement terhadap organisasi dan pekerjaan. Jika karyawan memiliki persepsi negatif terhadap organisasi (antara lain kebijakan-kebijakan, sasaran dan strategi organisasi, prosedur, dan lain sebagainya) dan pekerjaan, maka rasa memiliki dan keterlibatan karyawan dalam pencapaian sasaran dan implementasi strategi organisasi akan lemah. Dengan melakukan analisis organisasi maka dapat diketahui masalah-masalah yang dihadapi organisasi dan bagian-bagian dalam organisasi yang relevan untuk menjadi materi pelatihan.

?

Task Analysis (Analisis Pekerjaan).

Task analysis adalah metode untuk menganalisis pekerjaan dengan tujuan memperoleh informasi tentang apa yang orang kerjakan, menggunakan alat-alat kerja apa, dan apa pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang harus dimiliki seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan.

Untuk setiap pekerjaan yang berbeda akan terdapat aktivitas-aktivitas yang berbeda, peralatan kerja yang berbeda, dan persyaratan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang berbeda. ?Karena itu diperlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental baru yang harus dikuasai oleh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan baru. Melalui analisis pekerjaan akan diperoleh data dan informasi tentang kesenjangan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental dan pelatihan yang dibutuhkan untuk mengatasi kesenjangan tersebut.

Dalam buku mereka Developing and Training Human Resources in Organizations, Wexley dan Latham (1991) menunjukkan aktivitas inti dari suatu analisis pekerjaan, yaitu : pertama, mempelajari uraian pekerjaan (job description) yang ada dalam suatu organisasi; kedua, mengidentifikasi tugas-tugas dalam suatu pekerjaan; ketiga, mengidentifikasi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills) dan sikap mental (attitude) yang diperlukan untuk mampu mengerjakan tugas-tugas; keempat, menetapkan tujuan pelatihan; dan kelima membuat desain pelatihan. Wexley dan Latham (1991) menggambarkan kelima aktivitas tersebut dalam gambar sebagai berikut ?:

Hasil dari analisis pekerjaan antara lain dapat menjadi masukan untuk menyusun program-program pelatihan yang dibutuhkan sehubungan dengan penempatan kembali karyawan (employment replacement). Penempatan kembali karyawan pada jabatan-jabatan baru menyebabkan kompetensi lama perlu ditambah dengan kompetensi baru yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan baru.

?

Person Analysis (analisis orang).

Penilaian kinerja merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan untuk melaksanakan identifikasi kebutuhan pelatihan. Fokus dari person analysis adalah individu atau karyawan. Dalam konteks identifikasi kebutuhan pelatihan, tujuan dari person analysis adalah untuk menjawab pertanyaan siapa yang membutuhkan pelatihan dan pelatihan apa yang dibutuhkannya.

Melalui penilaian kinerja dapat diketahui kinerja seorang karyawan pada suatu periode tertentu. Dari penilaian kinerja juga dapat diketahui kemampuan, kekuatan dan kelemahan karyawan melaksanakan pekerjaan. Jika hasil penilaian kinerja menunjukkan baik, maka secara umum karyawan dianggap mampu melaksanakan pekerjaan, mencapai sasaran dan target-target yang menjadi tanggung jawabnya. Jika hasil penilaian kinerja menunjukkan buruk atau di bawah rata-rata, maka karyawan dianggap tidak mampu melaksanakan pekerjaan, mencapai sasaran dan target-target yang menjadi tanggung jawabnya.

Penilaian kinerja harus menghasilkan data tentang kekuatan dan kelemahan karyawan. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental apa saja yang masih harus diperbaiki. Atau jika sudah baik, pengetahuan, keterampilan dan sikap mental apa saja yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Berdasarkan hasil penilaian kinerja dapat diketahui siapa saja yang masih harus dilatih dan jenis-jenis pengetahuan, keterampilan dan sikap mental apa saja yang harus dilatih.

Hasil-hasil dari proses analisis organisasi, analisis pekerjaan dan analisis orang inilah yang kemudian menjadi dasar untuk menyusun program-program pelatihan sehingga pelatihan yang dilaksanakan dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi proses maupun hasil pelatihan. Sebab, pelatihan yang diadakan adalah merupakan solusi dari masalah-masalah yang dihadapi di tingkat organisasi, unit kerja, pekerjaan, dan individu.

Perlu dipahami bahwa penggunaan ketiga metode tersebut dalam proses identifikasi kebutuhan pelatihan adalah kondisi yang ideal dan mungkin tidak mudah untuk dilaksanakan. Wexley dan Latham (1991) mengingatkan bahwa pertama, identifikasi kebutuhan pelatihan adalah proses yang membutuhkan waktu, terutama jika benar-benar menggunakan ketiga metode tersebut; kedua, identifikasi kebutuhan pelatihan adalah proses yang dilakukan berulang dan berkesinambungan setiap ada perubahan-perubahan terhadap organisasi, baik produk, jasa, teknologi maupun proses bisnis; dan last but not least, ketiga metode tersebut saling berhubungan dan melengkapi serta seyogyanya dilaksanakan secara simultan.

Pada akhirnya, kebutuhan dan pertimbangan masing-masing organisasi akan menentukan apakah untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan digunakan ketiga metode tersebut, atau seperti pada umumnya, hanya menggunakan person analysis (dalam hal ini penilaian kinerja) saja.

Bumi Serpong Damai, 31 Maret 2011.

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2011 in Human Capital

 

The Abundant Organization

An abundant organization is a work setting in which individuals coordinate their aspirations and actions to create meaning for themselves, value for stakeholders, and hope for humanity at large. An abundant organization is one that has enough and to spare of the things that matter most: creativity, hope, resilience, determination, resourcefulness, and leadership.

Abundant organizations are profitable organizations, but rather than focusing only on assumptions of competition and scarcity, abundant organizations also focus on opportunity and synergy. Rather than accepting the fear-based breakdown of meaning in hard times, abundant organizations concentrate on bringing order, integrity, and purpose out of chaos and disintegration. Rather than restricting themselves to narrow, self-serving agendas, abundant organizations integrate a diversity of human needs, experiences, and timetables.

In good times and in hard times, abundant organizations create meaning for both the employees who comprise them and the customers who keep them in business. Employees, customers, investors, and society benefit when employees find meaning at work and when companies give meaning to society. This logic applies to small and large organizations, to public agencies and private enterprises, to local storefronts and global conglomerates.

Dave Ulrich and Wendy Ulrich, “The Why of Work”

 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2011 in Management

 

Pembagian Kerja Secara Seksual (Bagian 1)

“Jujur saja, orang paling berjasa dalam keluarga kami adalah istri saya”, demikian pengakuan Sofjan Wanandi dalam wawancara dengan wartawan Stefanus Osa Triyatna dan Hamzirwan yang dimuat dalam rubrik Persona, Kompas, 6 Maret 2011. Masih di rubrik yang sama, Sofjan menambahkan “dalam keluarga, sejak dahulu ada semacam pembagian tugas. Istri menjaga dan mendidik anak-anak, sedangkan saya lebih banyak bertugas di luar. Saya memberikan pendidikan dan memotivasi anak-anak untuk menjadi yang terbaik di sekolah.”

Menjadi ibu rumah tangga adalah pasti pilihan bukan main-main dan hasilnya bisa bukan main. Saya yakin dua keponakan saya yang menjadi doktor adalah berkat kasih sayang, restu, dan do’a dari seorang ibu. Saya percaya bahwa pengorbanan seorang perempuan meninggalkan bangku kuliah dan kemudian “hanya” menjadi ibu rumah tangga mendampingi suaminya bertugas di pedalaman Irian Jaya (sekarang Papua) adalah pilihan mulia. Semua anak-anak mereka sekarang sudah “menjadi orang” dan menjalani kehidupan yang layak.

Meskipun menurut sistem kapitalis menjadi ibu rumah tangga bukan suatu “profesi” dan karena itu tidak dibayar, kontribusi seorang ibu bagi kemanusiaan, masyarakat, bangsa dan negara tidak bisa dianggap remeh temeh. Saya salut kepada ibu-ibu muda yang sempat menjadi duta ASI (antara lain Ine Febriyanti dan Sophie Novita) dan bersama para ibu lainnya (bahkan para selebriti seperti mantan putri Indonesia 2004 Atika Sari Devi) mereka aktif dalam kampanye ASI. Bahkan di berbagai media seringkali diberitakan para wanita karir yang memilih berhenti bekerja dan memilih full time sebagai ibu rumah tangga. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para wanita karir, sebagai “alumnus” PASI (penggemar air susu ibu), saya benar-benar salut kepada para perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga.

Setiap menjelang perayaan hari kemerdekaan Indonesia, ada tradisi “bagi-bagi” bintang tanda jasa kehormatan kepada orang-orang yang berjasa kepada bangsa dan negara. Tidak aneh kalau mereka yang mendapatkan bintang tanda jasa adalah seorang menteri dan mayoritas adalah kaum laki-laki. Kalau tidak salah, sekitar tahun 1992 Menkopolkam saat itu Laksamana (Purn) Soedomo mengumumkan beberapa anak bangsa mendapatkan bintang jasa kehormatan, di antaranya beberapa isteri menteri. Dasar pertimbangan pemberian bintang jasa kehormatan kepada para isteri menteri adalah karena mereka, sebagai ibu rumah tangga, telah berjasa mendukung para suami sehingga para suami merasa tenang dapat konsentrasi penuh untuk melaksanakan tugas-tugas yang diamanahkan oleh bangsa dan negara. Apapun yang terjadi di zaman orde baru orang bisa bilang itu sudah direkayasa. Tetapi menganggap remeh kontribusi seorang ibu rumah tangga mendukung karir suami dan mendidik anak-anak juga tidak tepat.

Pembagian kerja secara seksual ada dalam masyarakat manapun yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Tentu saja sudah ada perubahan sosial yang mengubah pola pembagian kerja secara seksual tidak lagi “murni” seperti yang dijelaskan oleh Sofjan Wanandi. Meskipun demikian, terutama di Indonesia, pembagian kerja secara seksual yang menempatkan perempuan di sektor domestik dan tidak mendapatkan gaji, sementara kaum laki-laki berada di sektor publik dan mendapatkan gaji, masih dianggap sahih dan tidak perlu diperdebatkan.

Tidak keliru kalau kemudian sosiolog Arief Budiman (1981) berkomentar bahwa pembagian kerja secara seksual adalah “sebuah persoalan yang sudah terlalu lama ter (di)kubur dalam sejarah perkembangan umat manusia.” Tidak hanya budaya Timur, melainkan juga budaya Barat masih melakukan “pembiaran” terhadap pembagian kerja secara seksual “konvensional” tersebut. Bahkan teori-teori sosiologi dengan pendekatan fungsional berusaha “melanggengkan” pembagian kerja secara seksual “konvensional” adalah “baik” karena memang dibutuhkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Secara garis besar terdapat dua teori tentang pembagian kerja secara seksual, yaitu teori nature dan teori nurture (Arief Budiman, 1981).? “Teori nature”, demikian Arief Budiman,? “beranggapan bahwa perbedaan psikologis antara laki-laki dan wanita disebabkan oleh faktor-faktor biologis kedua insan ini. Sedangkan teori nurture beranggapan bahwa perbedaan ini tercipta melalui proses belajar lingkungan.” Artinya, pembagian kerja secara seksual disebabkan oleh perbedaan faktor biologis antara kaum laki-laki dan perempuan, serta faktor sosio-kultural.

Sikap saya terhadap pembagian kerja secara seksual adalah netral. Artinya, setiap orang adalah pihak yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi keluarganya. Apapun keputusan setiap pasangan suami istri yang diambil berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, istri bekerja dan menjadi wanita karir atau “hanya” menjadi ibu rumah tangga, kedua-duanya adalah pilihan terbaik. Bagi saya pribadi, menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga, kedua-duanya adalah bekerja.

Perlu dicatat bahwa sistem masyarakat kapitalis berperan terhadap perlakuan tidak adil terhadap kaum wanita. Mereka? yang bekerja di luar rumah mendapatkan gaji dan bekerja di sektor rumah tangga tidak mendapatkan gaji. Pendapat dari Eli Zaretsky,? sebagaimana dikutip oleh Arief Budiman, menunjukkan bahwa “dalam sistem masyarakat kapitalis, sektor masyarakat dikaitkan dengan sistem pasar, sedangkan sektor rumah tangga merupakan sektor pribadi yang tidak dicampuri oleh sistem pasar. Dalam sistem masyarakat kapitalis, segala sesuatu dinilai menurut nilai tukarnya di pasar, berdasarkan permintaan dan penawaran.” (Arief Budiman, 1981). Dalam sistem masyarakat kapitalis, manusia juga diperlakukan sebagai komoditas, begitu juga perlakuan terhadap kaum perempuan yang berada di sektor domestik, tidak mendapatkan penghargaan apapun.

Sejarah pembagian kerja secara seksual menunjukkan bahwa pada suatu masa kaum perempuan pernah lebih “berkuasa” dibandingkan dengan kaum laki-laki. Arief Budiman (1981) mengutip pendapat Ernestine Friedl, seorang ahli anthropologi sebagai berikut : “di dalam masyarakat primitif, wanita lebih penting daripada laki-laki. Pada masyarakat primitif, ketika manusia hidup masih mengembara dalam kelompok-kelompok kecil, bahaya yang paling besar adalah musnahnya kelompok itu karena matinya anggota kelompok ini satu-satu. Karena itu, jumlah anggota kelompok harus sedapat-dapatnya diperbesar, dengan melahirkan bayi-bayi baru.”

Karena kebutuhan untuk mempertahankan kesinambungan kehidupan kelompok, maka kaum perempuan dianggap relatif lebih penting daripada kaum laki-laki. Karena tugasnya untuk melahirkan, kaum perempuan mendapatkan perlindungan dan dibebaskan dari kewajiban-kewajiban untuk melakukan pekerjaan berbahaya, dan karena itu harus tinggal di rumah. Inilah pembagian kerja berdasarkan seksual yang pertama-tama, di mana kaum laki-laki harus bekerja di luar rumah, dan kaum perempuan bekerja di dalam rumah tanggal yang relatif aman.

Sejatinya, sejarah juga mencatat bahwa pembagian kerja seksual lebih disebabkan oleh kebutuhan keluarga dan masyarakat, bukan disebabkan oleh faktor kekuasaan kaum yang satu terhadap kaum yang lain. Seperti dikatakan oleh Guettel, “pada waktu itu pembagian kerja secara seksual merupakan sesuatu yang tidak bersifat eksploatatif, dalam pengertian bahwa tidak ada pihak yang diuntungkan karena adanya pembagian kerja seperti itu.” (Arief Budiman, 1981).

Pembagian kerja secara seksual menjadi bersifat eksploatatif terjadi sejak sistem masyarakat kapitalis. Dalam sistem masyarakat kapitalis, mereka yang menguasai faktor-faktor produksi memiliki kekuasaan dan karena itu kedudukan sosial dalam masyarakat menjadi kuat.? Sistem masyarakat kapitalis menemukan “peak performance” dengan kehadiran revolusi industri. Dalam konteks pekerjaan, revolusi industri memisahkan secara tegas antara rumah sebagai tempat tinggal, sementara kantor dan pabrik adalah tempat kerja yang sesungguhnya.

Futurulog seperti John Naisbitt dan Patricia Aburdene (penulis buku Megatrends) maupun Alvin Toffler (penulis buku Future Shock dan The Third Wave) pernah meramalkan bahwa dalam masyarakat informasi dan pengetahuan, kaum perempuan akan sangat diuntungkan dengan kehadiran teknologi. “Ramalan” Toffler terbukti benar bahwa kehadiran teknologi telah memungkinkan sistem kerja baru telecommuting yang “mengembalikan” bersatunya tempat tinggal dan tempat kerja.

Saat ini kita memang sudah hidup di era yang disebut oleh Bill Gates sebagai web lifestyle (gaya hidup internet) dan web workstyle (gaya kerja internet). Teknologi informasi dan komunikasi mendukung siapa saja (termasuk kaum perempuan) untuk bekerja di rumah. Meskipun demikian, karena sistem masyarakat kapitalis masih dominan, perubahan persepsi tentang pembagian kerja secara seksual seolah-olah berjalan di tempat (bersambung).

Bumi Serpong Damai, 14 April 2011.

 
 

Esuk Tempe Sore Dele

Tidak terlalu sulit untuk mengetahui “bandwidth” seseorang. Para leluhur telah mewariskan segambreng peribahasa dan kata-kata bijak yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan. Dalam konteks “bandwidth” seseorang, kita bisa menggunakan peribahasa “tong kosong bunyinya nyaring” dan “air beriak tanda tak dalam”. Saya lebih suka menggunakan peribahasa dari Irlandia “everyone is wise until he speaks”. Apapun yang keluar dari mulut dapat mengindikasikan “bandwidth” dan seberapa bijak seseorang.

Esuk tempe sore dele. Inilah peribahasa yang paling sesuai untuk menggambarkan sikap dan perilaku seseorang yang tidak konsisten. Tempe adalah bahan makanan yang sudah siap untuk digoreng atau dibacem, sedangkan kedelai masih berupa bahan baku. Peribahasa ini menunjukkan bahwa orang yang tidak konsisten adalah orang yang membuat segala sesuatu sudah siap atau jadi dan tinggal dieksekusi menjadi mentah kembali dan mesti diulangi dari awal lagi. ?Dalam hal ini sesungguhnya telah terjadi pemborosan sumberdaya, antara lain waktu, tenaga, pikiran, dan biaya.

Jika dalam peribahasa esuk tempe sore dele dimensi waktu masih dalam hitungan hari, maka peribahasa orang Minang untuk mendeskripsikan orang yang tidak konsisten lebih heboh lagi, yakni ?“ibarat baling-baling di atas bukit”. Sebagaimana baling-baling yang mudah berputar dan berganti arah tergantung dari angin, demikian juga seseorang yang tidak konsisten cenderung akan berubah-ubah sikap dan pendirian, suka-suka kapan saja ?orang itu mau berubah. Bahkan perubahan orang yang tidak konsisten tidak lagi dihitung dalam hari, melainkan setiap saat.

Orang yang tidak konsisten memiliki sikap, perilaku dan karakter yang bertolak belakang dibandingkan dengan? orang yang keras kepala. Memang, berhubungan dengan orang yang tidak konsisten dan orang yang keras kepala sama-sama menyebalkan. Tetapi orang yang keras kepala cenderung konsisten, bahkan tidak mau mengubah pendiriannya, sekalipun pendiriannya sangat tidak masuk akal dan mengada-ada. Meskipun demikian, orang yang keras kepala, karena sikap dan perilakunya yang konsisten, otak dan kepentingannya masih bisa “dibaca”.

Daniel Pasarela adalah mantan kapten timnas Argentina yang berhasil membawa Argentina memboyong juara dunia sepak bola untuk pertama kalinya pada tahun 1978. Ketika menjadi pelatih timnas Argentina, Pasarela dikenal sebagai orang yang sangat keras kepala, suka mengada-ada, dan punya segudang alasan yang tidak masuk akal. Misalnya ia mengeluarkan aturan bahwa siapapun yang terpilih masuk timnas di bawah kepemimpinannya, tidak boleh berambut gondrong. Orang bodoh pun tahu bahwa tidak ada hubungan antara rambut gondrong dengan kompetensi dan kinerja pesepakbola. Salah satu korban dari sikap, perilaku dan karakter keras kepala Pasarela adalah seorang gelandang serang Fernando Redondo yang juga memilih bersikap “keras kepala” tidak mau mencukur rambutnya yang gondrong.

Sebaliknya, orang yang tidak konsisten dapat memiliki pendirian yang berubah-rubah dalam hitungan hari, bahkan setiap saat. Orang yang tidak konsisten biasanya juga punya alasan segambreng untuk menjelaskan pendiriannya yang berubah-ubah. Ironisnya, meskipun orang tidak konsisten, ?sebenarnya orang yang tidak konsisten cenderung memiliki sikap, perilaku dan karakter yang cenderung fleksibel dibandingkan dengan orang yang keras kepala, pendiriannya kadang-kadang juga tidak masuk akal dan mengada-ada. Tetapi karena sangat fleksibel orang yang tidak konsisten menjadi sulit “dibaca”. Ibaratnya, orang yang tidak konsisten itu seperti seorang sopir bajaj yang hanya dia dan Tuhan yang tahu kapan akan belok.

Setiap manusia memiliki naluri untuk tidak konsisten. Hanya saja, dalam menerapkan konsistensi, manusia memiliki standar ganda. Orang lain harus konsisten, sementara dirinya sendiri “boleh-boleh” saja tidak konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa sikap, perilaku dan karakter tidak konsisten memang menyakitkan, tetapi orang lebih mudah menyakiti orang lain daripada dirinya yang disakiti oleh orang lain.

Siapa saja juga bisa menjadi manusia yang tidak konsisten. Meskipun demikian, secara umum, seorang atasan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memiliki sikap, perilaku dan karakter tidak konsisten dibandingkan bawahan. Artinya, semakin tinggi jabatan seseorang, kesempatan dan probabilitas untuk memiliki sikap, perilaku dan karakter untuk tidak konsisten. Bukankah power abuse hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya power dan itu berarti seorang atasan? Sedangkan bagi bawahan, sama saja dengan “membangunkan singa tidur” kalau sampai berani bersikap dan berperilaku tidak konsisten ketika menghadapi atasan.

Daripada mengeluh dan mengelus dada menghadapi atasan yang tidak konsisten, mungkin lebih baik berdo’a dan bersabar menghadapinya. Dalam suatu organisasi, memiliki hak bersuara dan memberikan pendapat seringkali merupakan kemewahan. Tetapi tentu saja tidak perlu bersedih hati jika tidak atau belum bisa mendapatkan keistimewaan seperti punokawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) yang diberikan kekuasaan dan kebebasan memberikan masukan kepada ndhoro mereka, mengingatkan jika ada sikap dan perilaku ndhoro mereka yang kurang tepat.

Tetapi mengapa seseorang tidak konsisten? Tentu saja ada beberapa sebab, versi saya adalah sebagai berikut :

?

Kebutuhan vs. Keinginan

Anak kecil cenderung tidak konsisten, tetapi bukan disebabkan oleh karakter. Anak kecil tidak konsisten karena belum mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sikap dan perilaku anak kecil cenderung didominasi oleh keinginan. Jika seorang anak kecil menghendaki sesuatu barang, belum tentu mereka membutuhkannya. Tidak jarang ketika barang yang diminta sudah disediakan, seorang anak kecil sudah mempunyai keinginan yang lain lagi.

Seorang “dewasa” yang tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan akan cenderung terjebak pada sikap dan perilaku tidak konsisten. Kebutuhan adalah sesuatu yang mendesak dan karena itu harus diprioritaskan. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang tidak mendesak dan karena itu tidak harus diprioritaskan.

Kepentingan sesaat.

Prof. Soedjito, seorang sosiolog, pernah mengatakan bahwa “sikap adalah fungsi dari kepentingan”. Jika ingin mengetahui sikap dan perilaku seseorang, maka ketahuilah kepentingan orang tersebut. Jika kepentingan berubah, maka sikap dan perilaku juga akan berubah. Tidak terlalu sulit untuk “mengamini” dalil ini. Bukankan di dunia politik ada dalil “tidak ada musuh abadi, yang ada adalah kepentingan abadi”. Hari ini lawan, besok sudah menjadi kawan. Atau, hari ini kawan, besok sudah menjadi lawan.

Orang yang tidak konsisten ibarat baling-baling di atas bukit. Semakin kencang angin, semakin kencang pula putaran baling-baling. Jika arah angin berbalik arah, demikian juga arah putaran baling-baling akan mengikuti perubahan arah angin. Itulah sebabnya orang yang tidak konsisten susah “dipegang” dan hampir-hampir mustahil ditebak sikap dan perilakunya. Semua tergantung dari kepentingannya. Dalamnya laut dapat diketahui, tapi siapa dapat mengetahui secara pasti kepentingan seseorang dan perubahan-perubahannya?.

Kehilangan Popularitas.

Orang yang konsisten cenderung memiliki banyak “musuh”. Pada dasarnya manusia lebih suka dengan konsistensi. Meskipun demikian, sikap dan perilaku yang konsisten kadang-kadang menyakitkan pihak lain, terutama jika orang lain tersebut sudah memiliki agenda kepentingan sendiri. Karena itu, dengan memiliki sikap dan perilaku konsisten akan mengundang orang lain membenci diri kita sendiri. Tidak setiap orang siap kehilangan. Bahkan ketika seseorang tidak memiliki konsekuensi ekonomis apapun jika bersikap konsisten, tetap saja tidak menjamin seseorang berani bersikap dan berperilaku konsisten.

Kebutuhan manusia memang tidak hanya kebutuhan ekonomis. Kebutuhan sosial seperti mendapat puji dan puja dari orang lain, pertimbangan harmoni, dlsb menjadikan orang sulit untuk bersikap tegas. Kebutuhan sosial dapat menjadikan orang yang sangat kuat pun tidak berdaya. Betapapun hebat kuasa dan kekayaan yang dimiliki, seorang gembong narkoba seperti Pablo Escobar adalah makhluk sosial juga yang tidak tahan kalau tercerabut dari lingkungan sosialnya, baik keluarga maupun lingkaran sosial terdekatnya.

“Resep” menghadapi orang yang tidak konsisten.

Sesungguhnya tidak ada resep (baca : strategi dan solusi) yang berlaku umum untuk menghadapi orang yang tidak konsisten. Setiap manusia adalah unik sehingga strategi dan solusi yang mempan untuk menghadapi seseorang mungkin tidak efektif untuk menghadapi orang lain. Untuk menghadapi orang tidak konsisten, siapapun tidak dapat konsisten hanya bergantung pada satu strategi dan solusi saja.

Pada dasarnya mengapa seseorang “berani” bersikap dan berperilaku tidak konsiten adalah karena orang yang bersangkutan merasa bargaining position dan bargaining powernya lebih baik dibandingkan orang lain. Mana ada orang yang memiliki bargaining position dan bargaining power lebih lemah berani menantang orang yang memiliki bargaining position dan bargaining power lebih kuat? ?Sehebat-hebatnya dan se”galak-galak”nya seorang boss perusahaan, biasanya tidak lebih dari “jago kandang”. Walaupun berjanji akan sungguh-sungguh melaksanakan good corporate governance, kemungkinan juga tidak berkutik menghadapi seorang pejabat, apalagi kalau pejabat itu memiliki “bakat” dan “hobby” abuse of power dalam mengeluarkan perizinan yang menentukan “hidup-mati”nya sebuah perusahaan.

“Dunia ini panggung sandiwara”, demikian salah satu lirik lagu yang pernah dinyanyikan rocker Ahmad Albar. Barangkali, cara terbaik untuk menghadapi orang yang tidak konsisten adalah menganggap apa yang dilakukan oleh orang lain tidak lebih sekedar sandiwara. Persamaan matematisnya begini : orang yang konsisten adalah orang yang serius dan orang yang tidak konsisten adalah orang yang tidak mampu dan tidak mau serius. Jika kita terlalu serius menghadapi orang-orang yang punya “bakat” tidak konsisten juga tidak baik. Sebab manusia pada dasarnya mengharapkan orang lain untuk bersikap dan berperilaku konsisten, tetapi pada saat yang sama manusia tidak menyiapkan diri menghadapi situasi terburuk jika orang yang dihadapinya sedang bersandiwara (baca : tidak konsisten). Nah loooo!!!!

Bumi Serpong Damai, 16 April 2011

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2011 in Selasar

 

Leaders are meaning makers!

They set direction that others aspire to; they help others participate in doing good work and good works; they communicate ideas and invest in practices that shape how people think, act, and feel. As organizations become an increasing part of the individual’s sense of identify and purpose, leaders play an increasing role in helping people shape the meaning of their lives.

Too many leaders focus on where they are going and how to get there, without paying much attention to how it feels to those on the journey with them. When leaders make work meaningful, they help create abundant organizations where employees operate on a value proposition based on meaning as well as money.

Meaning becomes a multiplier of employee competence and commitment, a lead indicator of customer share, a source of investor confidence, and a factor in ensuring social responsibility in the broader community. We find that even the hardest-nosed leaders become interested in meaning when they realize its potential contribution to bottom-line realities. When leaders grasp the why of meaning, they then seek the how.

Dave Ulrich and Wendy Ulrich, “The Why of Work”

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2011 in Human Capital

 

Bukan Sekedar Ulat Bulu

Selamat datang ulat bulu. Terima kasih atas kehadiran kalian di muka bumi, khususnya di bumi pertiwi. Kehadiran kalian sungguh kami tunggu-tunggu karena kalian adalah salah satu makhluk yang membawa tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bagi mereka yang berpikir. Kalian juga telah, sedang, dan akan mengajarkan apa makna kehadiran kalian.

Ternyata memang tidak ada satu pun ciptaan Allah SWT di muka bumi ini yang sia-sia. Paling tidak hal ini dibuktikan dengan invasi ulat bulu yang menyerbu di beberapa kota di pulau Jawa. Para ahli serangga memahami kehadiran ulat bulu sebagai indikator perubahan iklim. Salah satunya seperti yang saya kutip dari harian Kompas, 14 April 2011 sebagai berikut :

“Peningkatan populasi ulat bulu yang sangat tinggi belakangan ini diduga turut disebabkan perubahan ekosistem secara global. Salah satu indikasinya, peningkatan tersebut merata di sejumlah daerah di Indonesia.

Hal ini dikemukakan oleh Prof Dr Deciyanto Soetopo, Peneliti Utama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan), di lokasi habitat ular bulu, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (13/4/2011).

“Secara global, ada gejala yang sama. Dari lingkungan biotik maupun abiotik, faktor penghambat atau penekan perkembangan ulat bulu semakin berkurang. Faktor biotik, misalnya, predator ulat bulu semakin langka. Sementara faktor abiotiknya, curah hujan yang tinggi sepanjang tahun lalu justru mengakibatkan predatornya berkurang,” papar Deciyanto.

Ia mencontohkan, di lokasi habitat ulat bulu di Tanjung Duren, Jakarta Barat, hampir tidak ditemukan spesies pemangsa ulat bulu, seperti burung, sejenis serangga seperti capung, dan semut. Parasitoid atau mikroorganisme parasit yang hidup di telur ataupun di tubuh ulat bulu pun belum terlihat.

Tanda-tanda tersebut menunjukkan adanya gangguan ekosistem, yakni hilangnya keseimbangan alami dalam lingkungan hidup.

Perubahan iklim juga dipandang sebagai salah satu pemicu pertumbuhan drastis ulat bulu. Curah hujan yang terlampau tinggi, misalnya, tidak terlalu berpengaruh terhadap ulat bulu, tetapi hal itu justru menjadi faktor penghambat perkembangan spesies pemangsanya.

Dengan adanya indikasi yang sama di berbagai daerah yang dilanda peningkatan populasi ulat bulu, Deciyanto menyimpulkan telah terjadi perubahan ekosistem secara global. “Gejala-gejala ini kan terlihat di mana-mana, termasuk di sini. Faktor penghambat populasi ulat bulu sudah semakin langka. Kita bisa berasumsi ada perubahan ekosistem secara global, baik lingkungan biotik (bernyawa) maupun abiotik (tak bernyawa),” jelas Deciyanto.”

***

Fenomena alam berupa wabah ulat bulu di beberapa daerah di pulau Jawa dapat dianggap sebagai persoalan biasa atau sebagai persoalan serius. Pada akhirnya, peristiwa apapun yang terjadi di dunia ini akan menjadi pelajaran yang berharga atau tidak, sangat tergantung dari persepsi manusia dan makna yang diberikan manusia kepada berbagai peristiwa itu sendiri.

Dalam rubrik going green di blog saya ada artikel tentang kodok yang saya unduh dari salah satu website. Ternyata hanya 1 pengunjung yang membaca “Why Frog Master”. Padahal, kodok adalah hewan yang menjadi indikator tentang perubahan iklim. Sebagaimana ditulis di Kompas, 18 Desember 2008kodok merupakan hewan yang sangat terikat pada habitatnya. Kodok juga sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan lingkungan di sekitarnya. Dampak perubahan lingkungan terlihat pada turunnya populasi yang disertai turunnya keanekaragaman jenis kodok.”

Dalam komunikasi, manusia dapat? menyampaikan pesan dalam berbagai bentuk, antara lain melalui bahasa dan simbol. Boleh-boleh saja kalau Allah SWT menyampaikan pesan melalui ciptaanNya di alam raya, entah itu? hewan, tumbuh-tumbuhan, atau bahkan manusia. Hewan seringkali memberikan petunjuk tentang alam atau lingkungan hidup dan perubahan-perubahannya yang telah, sedang dan akan terjadi. Mungkin banyak orang yang tidak atau kurang memperhatikan hubungan perilaku hewan dengan kejadian-kejadian di alam raya.

Mungkin sudah banyak yang melupakan berita di harian Kompas tentang tsunami di Aceh 2004 yang lalu. Saat itu ada 1 batalyon TNI AD yang telah selesai bertugas di Aceh dan akan kembali ke Jawa dengan menggunakan kapal laut. Pada saat menuju ke pelabuhan atau pantai, sang komandan batalyon melihat segerombolan burung yang terbang dari arah laut menuju darat. Melihat kejadian tersebut sebagai kejadian yang aneh, sang komandan memerintahkan pasukannya kembali ke darat. Alhamdulillah, berkat pengetahuannya tentang fenomena alam, analisis yang cepat dan tepat, ia berhasil mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat sehingga banyak nyawa manusia yang terselamatkan.

Tentu saja kebesaran dan perlindungan Allah SWT yang menentukan hidup dan mati manusia. Tetapi sungguh sangat naif memahami kejadian yang dialami batalyon TNI AD itu semata-mata karena Allah SWT masih melindungi umatNya. Para filsuf sepakat bahwa perbedaan antara manusia dan hewan adalah dalam hal otak sehingga manusia mampu berpikir dan sedangkan hewan hanya mampu menggunakan instingnya. Kemampuan berpikir dan memberikan makna terhadap suatu kejadian menjadi “keunggulan kompetitif” manusia terhadap hewan. Tetapi, ada kalanya manusia tidak terampil memanfaatkan keunggulan kompetitifnya dibandingkan hewan sehingga seolah-olah yang terjadi adalah insting lebih baik daripada berpikir.

Itulah sebabnya, mengapa pada saat tsunami Aceh tahun 2004, terlalu banyak korban manusia dibandingkan hewan. Moeller dan Bradi menjelaskan fenomena ini sebagai berikut :

“When the devastating tsunami struck Indonesia in 2004, two groups emerged relatively unscathed: they were indigenous tribal people and animals. They survived because they had instinctively moved to the safety of higher ground. They detected even the weakest signals because their senses were so acute and active. Because they recognized an existential environmental threat and also had a healthy respect for what the environment can do, their antennae were permanently up. They understood that if they ignored the environment, it could do them serious harm. Corporations that ignore the balance between internal and external demands are almost certainly doomed to the equivalent of business tsunamis.”

Moeller dan Bradi memang tidak sedang membual. ?Kompas juga pernah menulis ada masyarakat di Aceh yang selamat karena mereka mewarisi puisi atau karya sastra ?dari nenek moyang mereka. Puisi tersebut menceritakan tentang kejadian-kejadian alam yang berkaitan dengan tsunami. Ketika kemudian ada kejadian-kejadian alam yang “match” dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam puisi, mereka pun bersiap-siap menyelamatkan diri.? Meskipun ada tetap ada korban, tetapi penduduk di wilayah tersebut yang menjadi korban tsunami relatif sedikit.

Sejatinya, Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa tidak ada yang sia-sia dalam penciptaanNya dan ?segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini ada tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bagi orang yang berpikir. Dalam Surat Al-Imran ayat 190 Allah SWT berfirman sebagai berikut :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”? (http://www.alquran-indonesia.com/ diunduh pada tanggal 15 April 2011)

Mengapa manusia cenderung terlambat memahami segala sesuatu yang terjadi? Masalah yang dihadapi manusia bukan pada tidak adanya tanda-tanda yang menginformasikan tentang suatu peristiwa telah, sedang dan akan terjadi. ?Masalahnya juga bukan pada keterbatasan teknologi canggih untuk memahami tanda-tanda. Masalahnya juga bukan pada kekurangan jumlah ahli yang mampu memahami berbagai peristiwa alam.

Orang-orang Jepang karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah mereka capai memang mampu mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi tsunami. Tetapi tanpa harus menunggu menjadi masyarakat yang maju dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, siapapun yang mampu membaca dan memberikan makna terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah SWT tetap memiliki kesempatan untuk memberikan reaksi yang tepat terhadap suatu peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Moeller dan Bradi (2008) menulis sebagai berikut Intelligence failures generally occur despite the wealth of information available, because of a lack of suitable analysis for decision makers to draw upon”. Pada bagian lain dari buku mereka, Moeller dan Bradi (2008) menjelaskan bahwa, “most of the companies’ external sensory functions were either not working or not registering at the policy level. According to two Wharton professors, the President and CEO was not a “vigilant leader” but rather an operational leader (more controlling, focused on efficiency and cost cutting and doesn’t explore outside potential).” (Moeller & Bradi, 2008).

Sejatinya, masalah utama adalah pada sikap mental manusia. Allah SWT sudah memberikan kemampuan berpikir dan selalu mengingatkan manusia untuk selalu berpikir. Tetapi sikap mental manusia lah yang menjadikan kemampuan dan kemauan untuk berpikir menjadi terbatas. Bandwidth, antena dan sensor sudah built in atau in place dalam diri manusia, ?tetapi manusia lah yang tidak mampu dan tidak mau bersyukur menggunakan semua itu sesuai dengan peruntukannya.

Bumi Serpong Damai, 15 April 2011.

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2011 in Selasar

 

Citizen Journalism

Pesan yang disampaikan dalam bentuk suara dan gambar (atau kombinasi keduanya) akan relatif mudah diterima daripada pesan yang disampaikan dalam bentuk teks.? Itulah sebabnya, mengapa orang lebih mudah dan suka menonton film daripada membaca buku. Mungkin itu juga sebabnya, mengapa orang lebih suka dan ketagihan nonton blue film daripada membaca buku Kamasutra yang tebal, apalagi kalau dalam bahasa Inggris dan gambarnya sedikit.

Membaca dan memahami pesan yang disampaikan dalam bentuk teks (buku, surat kabar, majalah, journal) membutuhkan usaha relatif lebih berat dibandingkan dengan melihat dan memahami pesan yang disampaikan dalam bentuk suara, gambar (atau kombinasi dari keduanya), misalnya lagu, film, foto, lukisan dan lain sebagainya. Mestinya kecenderungan umum seperti itu, meskipun belum tentu mudah memahami lukisan aliran “abstrak” dan film-film “serius” yang ceritanya “njelimet” dan sampai selesai juga tidak bisa dimengerti.

Saya menduga, bahwa setelah saya “go public” di youtube, videoclip saya akan lebih banyak dilihat orang daripada tulisan-tulisan saya yang saya posting di blog wordpress. Dugaan saya salah, justru blog wordpress saya lebih banyak dikunjungi dan pengunjung mau bersusah payah membaca beberapa artikel. Dalam kurun waktu yang sama, account youtube saya hanya dikunjungi 230 orang, sementara blog per tanggal 14 April ?2011 telah dikunjungi 526 orang.

Saya tidak mengerti bagaimana menjelaskan bagaimana pesan yang disampaikan dalam bentuk teks jauh lebih menarik dibandingkan pesan yang disampaikan dalam bentuk suara dan gambar (atau kombinasi keduanya). Memang perbandingan apel to apel secara sempurna tidak dapat dilakukan. Di account youtube, meskipun pengunjung masuk ke channel saya, pengunjung yang tidak familiar dengan fasilitas youtube dapat segera menemukan seluruh videoclip saya.? Ibaratnya kalau masuk ke youtube pengunjung masih berada di samudera. Sementara di blog, begitu masuk ke account saya, pengunjung benar-benar berada di “rumah” saya dan bisa melihat semua konten dengan mudah. Keterbatasan bandwith juga mungkin jadi penyebab lainnya. Tapi, ya sudahlah.

Mengapa menulis di Blog?

Saya tidak ingin menyembunyikan alasan utama saya? menulis adalah mencari uang tambahan. Pertama kali menulis puluhan tahun yang lalu tulisan saya langsung dimuat di majalah Gadis. Setelah itu saya menulis dan mengirimkannya ke berbagai media, tetapi satupun tidak pernah lagi dimuat. Kebiasaan menulis saya tetap berjalan, meskipun tidak pernah saya kirimkan lagi ke berbagai media cetak.

Desember 2010 yang lalu saya mengikuti seminar sehari tentang penulisan komersial untuk konsumsi media cetak. Sebenarnya seminar itu tidak terlalu sesuai dengan kebutuhan saya yang lebih tertarik menulis buku. Tetapi dari seminar sehari tersebut saya mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menulis yang baik. Saran dari Toriq Hadad yang menjadi pembicara tunggal dalam seminar itu adalah agar saya menulis di blog.

Saya pikir ada yang lebih penting daripada sekedar uang. Kebutuhan untuk mengekspresikan gagasan jauh lebih penting dan mampu memberikan kepuasan tersendiri daripada sekedar uang.? Menurut? saya blog adalah media yang relatif sesuai dengan karakter saya yang tidak begitu suka tampil di muka publik untuk menyampaikan gagasan. Menulis di blog juga melatih saya berpikir terstruktur dan mencari cara-cara yang termudah agar banyak orang yang mampu memahami gagasan dalam tulisan saya.

Dalam waktu kurang lebih 1 bulan, blog saya telah dikunjungi oleh 370 pengunjung yang bersedia meluangkan waktu dan susah payah membaca tulisan saya. Sungguh tidak pernah terbayangkan orang bersedia meluangkan waktu dan bersusah payah membaca tulisan saya, justru pengunjung membaca pada hari libur (Sabtu dan Minggu). ?Logika sederhananya, lha wong Al-Qur’an (apalagi hadits) saja belum tentu setiap hari, atau bahkan seminggu sekali, orang mau membacanya. Apalagi tulisan saya yang tidak dapat dibandingkan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Sesungguhnya uang adalah efek samping saja. Jika memang tulisan saya baik dan layak dimuat di media cetak, uang akan mendatangi saya. Jadi, uang tidak perlu dicari. Menurut saya, proses yang tepat adalah menulis yang baik atau bermutu. Kalau nanti ada tulisan bagus dan ada media cetak yang bersedia memuatnya, anggap saja sebagai bonus.

Berbagi dan Berinteraksi.

Saat ini kita hidup di era yang disebut oleh sosiolog Spanyol Manuel Castells sebagai era “Galaxy Internet” dan oleh Bill Clinton (mantan Presiden Amerika Serikat) sebagai era “the internet superhighway”. Di era galaxy internet,? tidak ada lagi kendala jarak dan waktu bagi manusia dari berbagai belahan dunia manapun untuk terhubung, berinteraksi dan berbagi pada waktu yang sama. Di era galaxy internet juga terbuka berbagai kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, antara lain tentang citizen media dan citizen journalism.

Sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya, bahwa saya bisa memiliki personal blog yang memungkinkan saya menyampaikan gagasan saya kepada publik dalam bentuk tulisan, gambar ataupun rekaman audio dan video. Saya juga tidak bisa membayangkan saya (dan tentu saja) bisa “mempopulerkan diri” ?melalui social blog dengan cara sangat mudah dan biaya sangat murah. Era internet galaxy memberikan kemudahan yang luar biasa kepada setiap orang untuk bersuara dan berpendapat.? Di saat kita tidak dapat berharap banyak kepada para wakil rakyat untuk menyampaikan aspirasi rakyat, media social blog adalah salah satu alternatif solusi yang layak dipertimbangkan.

Social Blog.

Beberapa pembaca memuji tulisan saya dan menyarankan kepada saya agar memposting tulisan saya di Kompasiana. ?Dasar pertimbangannya adalah di Kompasiana lebih banyak pembacanya dan karena itu tujuan untuk sharing dan mendiskusikan gagasan tertentu melalui dunia maya akan lebih banyak pesertanya. Saya pernah mendengar istilah kompasiana, yaitu kolom khusus yang dibuat oleh pendiri harian Kompas, P.K. Ojong. Kini, Kompasiana hadir dalam format social blog.

Tentang kompasiana yang saya kutip dari www.kompasiana.com adalah sebagai berikut : “Kompasiana adalah sebuah Media Warga (Citizen Media). Di sini, setiap orang dapat mewartakan peristiwa, menyampaikan pendapat dan gagasan serta menyalurkan aspirasi dalam bentuk tulisan, gambar ataupun rekaman audio dan video. Di Kompasiana, setiap orang didorong menjadi seorang pewarta warga yang, atas nama dirinya sendiri, melaporkan peristiwa yang dialami atau terjadi di sekitarnya. Tren Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) seperti ini sudah mewabah di banyak negara maju sebagai konsekuensi dari lahirnya web 2.0 yang memungkinkan masyarakat pengguna internet (netizen) menempatkan dan menayangkan konten dalam bentuk teks, foto dan video.”

Citizen Journalism

Citizen journalism is the concept of members of the public “playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing and disseminating news and information.”? (www.en.wikipedia.org, 16 Maret 2011). Authors Bowman S. and Willis C. say: “The intent of this participation is to provide independent, reliable, accurate, wide-ranging and relevant information that a democracy requires.”

Citizen journalism should not be confused with community journalism or civic journalism, which are practiced by professional journalists, or collaborative journalism, which is practiced by professional and non-professional journalists working together. Citizen journalism is a specific form of citizen media as well as user generated content.

Menurut J.D. Lasica, personal blog termasuk dalam kategori citizen journalism, meskipun untuk blogger yang belum top, menyampaikan pesan melalui personal blog jauh lebih kurang efektif dibandingkan dengan blog yang dikelola oleh media cetak.

Ayo Mulai.

Salah seorang pembaca personal blog saya memberi semangat sebagai berikut : ?“yang penting sudah mulai”, demikian pesannya. Beberapa orang tidak menulis di personal blog maupun social blog adalah lebih karena alasan “mengada-ada”, antara lain “tidak punya waktu”, “belum pe-de”, “nggak mahir menulis” dan lain sebagainya.

Mengharapkan kesempurnaan hanya sebuah lelucon. Bagaimanapun orang awam yang tidak berlatar belakang pendidikan jurnalistik / publikasi dan tidak pernah dididik seperti layaknya seorang korensponden, reporter, dan wartawan, tidak seharusnya berharap tulisannya akan bagus. Intinya bukan di bagus, tetapi berinteraksi dan ?berbagi. ?Syukur-syukur gagasan yang disampaikan melalui media personal blog maupun social blog dapat dipahami oleh para pengunjung blog.

Di personal blog dan social blog, tidak ada redaktur yang begitu “sakti” sebagaimana layaknya di media cetak. Tidak ada kendala seperti di media cetak. Jadi, keputusan untuk memulai adalah keputusan individual yang tidak dipengaruhi oleh siapapun.

Bumi Serpong Damai, ?14 April 2011

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2011 in Selasar

 

Proses Pengambilan Keputusan

Luar biasa. Akhirnya saya seperti mendapatkan “durian runtuh”? (baca : konteks dan contoh) yang benar-benar dapat menjelaskan bahwa sejatinya proses komunikasi dan kerjasama dalam hal pengolahan informasi dan pengambilan keputusan bukan, bukan, dan bukan urusan sepele!!!

Berbagai media masa pada tanggal 12 April 2011 memberitakan “polemik” antara Presiden RI dengan Kejaksaan Agung RI. Intinya, Kejagung seolah-olah mengatakan bahwa SBY adalah sumber masalah dan tentu saja SBY segera bereaksi. Agar tidak salah, saya kutipkan berita yang ditulis dalam http://www.kompas.com tertanggal 12 April 2011 sebagai berikut :

“Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantah bahwa dirinya menghambat pemberantasan korupsi dengan tidak memberikan izin pemeriksaan terhadap 61 kepala daerah yang menjadi saksi atau tersangka dalam kasus dugaan korupsi.

“Biasanya, kalau masuk ke meja saya, sebelum jatuh tempo, pasti sudah keluar. Tidak ada yang bermalam. One day service,” kata Presiden ketika membuka Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (12/4/2011).

“Meja saya bersih setiap hari,” kata Presiden. Pernyataan bahwa Presiden belum menandatangani 61 surat izin pemeriksaan kepala daerah, sebagaimana yang disampaikan Kapuspen Kejaksaan Agung Noor Rachmad, dinilainya tidak akurat.

Sebelumnya, seperti diwartakan, Kejaksaan Agung mencatat, sejak tahun 2005, sebanyak 61 kepala daerah tidak dapat diperiksa sebagai tersangka atau saksi kasus dugaan korupsi karena tidak juga mendapatkan izin dari Presiden. Kejagung berpendapat bahwa izin dari Presiden harus diperoleh sebelum perkara dilimpahkan ke pengadilan.”

Dalam kasus ini, tidak penting untuk mengatakan siapa yang benar dan siapa yang salah. Dalam proses komunikasi, setelah pengirim pesan (komunikator) menyampaikan pesan dan pesan diterima oleh penerima pesan (komunikan), ada proses pemberian umpan balik. Dalam proses komunikasi, kedua belah pihak seharusnya aktif terlibat dalam proses penyampaian umpan balik. Dalam hal pemberantasan korupsi misalnya, baik Presiden dan Kejagung sama-sama berkepentingan menjadikan negara Indonesia bersih dari korupsi. Tetapi, komunikator seharusnya yang lebih aktif lagi untuk mengetahui, misalnya ?mengapa komunikan tidak atau belum memberikan umpan balik.

Sungguh sangat memalukan di tingkat kenegaraan masih terjadi kesalahan-kesalahan yang sangat elementer dalam mengadakan komunikasi dan kerjasama proses pengolahan data / informasi dan pengambilan keputusan. Tetapi adalah lebih bijak jika kita tidak terjerumus dalam situasi dan kondisi seperti yang dideskripsikan dalam peribahasa “kuman di seberang laut tampak, tetapi gajah di hadapan mata tidak tampak”. Jangan terlalu yakin bahwa kesalahan-kesalahan yang sangat elementer dalam proses komunikasi, pengolahan informasi dan pengambilan keputusan tidak terjadi di organisasi tempat kita bekerja.

Model Pengambilan Keputusan.

Jika disederhanakan, dengan menggunakan model input-process-output, maka proses pengambilan keputusan dapat digambarkan dalam sebuah model sebagai berikut :

Mengolah data dan informasi menjadi sebuah keputusan adalah pekerjaan sehari-hari dari seorang manajer dan direksi. Karena sudah menjadi pekerjaan sehari-hari, logikanya tidak ada kesulitan yang signifikan. Faktanya, proses pengolahan data/informasi sehingga menjadi sebuah keputusan oleh seorang manajer dan terutama direksi, seringkali menjadi proses yang melelahkan dan “menyakitkan”.

Dari model pengambilan keputusan dapat dijelaskan bahwa keputusan adalah dependent variable yang kualitasnya dipengaruhi oleh independent variable kualitas data/informasi dan moderator variable berupa proses berpikir dan proses pengolahan data/informasi. Semakin baik kualitas data/informasi dan semakin baik proses berpikir dan proses pengolahan data/informasi, maka akan semakin baik kualitas keputusan.

Menurut pendapat saya, faktor manusia dalam proses komunikasi, proses pengolahan data/informasi dan pengambilan keputusan relatif lebih penting daripada sistem dan teknologi. Betapapun hebatnya sistem komunikasi dan sistem informasi yang dibangun, dan bagaimanapun canggihnya teknologi yang digunakan, keduanya tidak lebih sebagai enabler.

Bandwidth” manusia (baca : pengetahuan, keterampilan dan sikap mental) berpengaruh besar terhadap proses komunikasi, proses berpikir, proses pengolahan informasi dan pengambilan keputusan. Pengetahuan dan keterampilan manusia dalam hal proses berpikir dapat ditingkatkan, antara lain dengan mengikuti pelatihan analytical thinking and problem solving dan systemic thinking. Tetapi fakta juga menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan dan keterampilan seseorang dalam berkomunikasi, berpikir, mengolah data/informasi, dan juga pengambilan keputusan sudah menunjukkan perbaikan, tetapi faktor sikap mental justru masih menjadi penghambat yang tidak mudah diatasi.

Dalam kasus polemik Presiden dan Kejagung sesungguhnya tidak ada masalah dengan jarak fisik dan teknologi yang digunakan untuk menunjang proses komunikasi dan pengolahan data/informasi. Tetapi manusia adalah tetap manusia. Faktor-faktor jarak psikologis, jarak sosial, dan sosial budaya seringkali menjadi variabel yang sangat menentukan keberhasilan kerja sama dan komunikasi.

Proses Pengambilan Keputusan.

Secara lebih rinci, proses pengambilan keputusan dapat dijelaskan melalui gambar sebagai berikut :

Data dan informasi yang baik dan penting harus memenuhi kriteria relevan, mudah dipahami, akurat, lengkap, terkini (up to date), dan tersedia cepat. Kata kunci dari proses pengumpulan data sampai dengan keputusan adalah kecepatan. Tentu saja conditio sine qua non yang harus terpenuhi adalah data harus relevan, mudah dipahami, akurat, lengkap dan terkini, namun jika semua kriteria tersebut telah terpenuhi, nilai dari data ditentukan dari kecepatan tersedianya.

Praktek menunjukkan bahwa proses dari data collecting sampai dengan decision making adalah proses yang tidak mudah, tidak efisien dan tidak efektif. Nilai dari data dan informasi seringkali menjadi berkurang karena data dan informasi yang dibutuhkan tidak tersedia pada waktu yang ditetapkan. Berbagai faktor mempengaruhi proses yang buruk mulai dari pengumpulan data sampai dengan pengambilan keputusan, antara lain teknologi, manusia, dan metode kerja.

Memahami Action Distance.

Antara? data, informasi dan keputusan terdapat proses “berdarah-darah” (baca : tidak efektif, tidak efisien, tidak produktif) sehingga menyebabkan keputusan yang diambil cenderung sudah “basi”. Hackathorn (2003) menyebutkan bahwa antara data dan informasi dengan tindakan terdapat action distance, yaitu ?“the measure of the effort required to understand information and to affect action based on that information.”

Lebih lanjut Hackathorn (2003) menjelaskan beberapa bentuk action distance sebagai berikut :

??????? Action distance could be the physical distance between information displayed and action controlled.

??????? It could be the time between information available and action taken.

??????? It could be the social gap between the person having the information and the person taking action.

Action distance”, demikian Hackathorn, “involves a complex mixture of technological (dashboard design), behavioral (motivation), and organizational (authority) factors.” Karena itu, untuk mengatasi masalah action distance, tidak hanya pemanfaatan teknologi yang diperlukan, melainkan juga perbaikan terhadap KSA (knowledge, skills, attitude) SDM, prosedur kerja dan metode kerja.

Value-Time Curve.

Hubungan antara suatu kejadian bisnis dengan tindakan dapat digambarkan dengan kurva. Idealnya, setelah terjadi peristiwa bisnis, sesegera mungkin diikuti dengan tindak lanjut. Semakin cepat tindakan yang diambil setelah terjadinya peristiwa, maka semakin bernilai tindakan tersebut. Karena nilai dari suatu tindakan yang dilakukan setelah terjadinya peristiwa bisnis cenderung menurun seiring berlalunya waktu, maka hal yang harus dilakukan adalah menghilangkan atau mengurangi latensi antara kejadian dan tindak lanjut.

Proses dari Peristiwa Bisnis sampai dengan Tindakan.

Pertama-tama transaksi bisnis terjadi pada suatu saat yang menghasilkan suatu komitmen atau pembatalan transaksi. Selanjutnya, data transaksi disimpan dalam “gudang data”. Proses selanjutnya adalah analisa data sehingga menjadi informasi, merangkum dalam bentuk laporan, dan kemudian menyerahkan informasi tersebut kepada orang yang berhak. Akhirnya, orang yang berwenang mengambil tindakan yang diperlukan? atas informasi yang diterimanya.

Dari perspektif waktu, action distance adalah waktu yang dibutuhkan untuk menindaklanjuti dari transaksi bisnis sampai dengan tindak lanjut dengan cara yang efektif dan efisien. Dalam action distance terdapat tiga latensi sebagai berikut :

  • Pertama, data latency, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk memproses transaksi bisnis menjadi data yang siap untuk dianalisis.
  • Kedua, analysis latency, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk memulai proses analisis, merangkum dalam suatu laporan, dan menyerahkan informasi tersebut ?kepada pihak yang berkepentingan.
  • Ketiga, decision latency, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk memahami informasi dan menindaklanjutinya dalam bentuk keputusan secara tepat.

Teknologi dan Pengambilan Keputusan.

Kualitas dari suatu keputusan tergantung dari kualitas input (baca : data dan informasi) dan kualitas proses. Secara umum kualitas proses pengambilan keputusan didukung oleh teknologi dan kualitas manusia. Kualitas teknologi yang digunakan dan kualitas manusia yang memproses data dan informasi berpengaruh terhadap kualitas dari sebuah keputusan.

Teknologi berfungsi sebagai enabler yang memfasilitasi pengambil keputusan menjadi lebih mudah, cepat dan akurat. Pemanfaatan teknologi dalam proses pengambilan keputusan dapat mengatasi berbagai masalah latensi yang sering dihadapi dalam suatu organisasi, antara lain dengan penggunaan business intelligence. Tujuan penggunaan teknologi seperti BI proses pengolahan data dan informasi menjadi sebuah keputusan menjadi lebih baik dalam hal kemudahan proses, kecepatan dan keakurasian hasil.

Howard Dresner mendefinisikan business intelligence sebagai “concepts and methods to improve business decision making by using fact-based support systems.”? Definisi lain dari BI adalah “a broad category of application programs and technologies for gathering, storing, analyzing, and providing access to data to help enterprise users make better business decisions.” (www.mirum.com, 2008).

Penggunaan teknologi tidak hanya menuntut kemampuan manusia untuk memahami fungsi-fungsi dari suatu teknologi dan cara pengoperasiannya, melainkan juga?? selalu menuntut sikap mental dan perilaku tertentu. Hanya manusia yang adaptif dalam arti mampu menyesuaikan sikap mental dan perilakunya, maka ia dapat menggunakan teknologi sesuai dengan tujuan penciptaannya dan fungsi-fungsi utama yang dimilikinya. Itulah sebabnya mengapa suatu teknologi yang dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai masalah seringkali tidak menghasilkan dampak yang signifikan karena faktor manusia memegang peranan penting.

Manusia dan Pengambilan Keputusan.

Tetapi bagaimanapun kecanggihan dari suatu teknologi yang digunakan untuk mendukung proses pengambilan keputusan, the man behind the gun merupakan faktor kunci dari kualitas keputusan yang akan diambil. Teknologi boleh canggih, tetapi tidak ada jaminan mutlak proses pengambilan keputusan akan menjadi serba mudah dan kualitas keputusan menjadi lebih baik.

Peringatan dari Moeller dan Bradi, Intelligence failures generally occur despite the wealth of information available, because of a lack of suitable analysis for decision makers to draw upon” (Moeller & Bradi, 2008). Ketidakmampuan menganalisis data dan informasi dapat menimpa siapa saja. Seperti dikatakan oleh Moeller dan Bradi (2008), “most of the companies’ external sensory functions were either not working or not registering at the policy level. According to two Wharton professors, the President and CEO was not a “vigilant leader” but rather an operational leader (more controlling, focused on efficiency and cost cutting and doesn’t explore outside potential).

Faktor manusia seringkali menjadi kendala utama dalam proses pengolahan data dan informasi menjadi sebuah keputusan. Untuk menjadi seorang knowledge manager yang efisien dan efektif, Bill Gates menyebutkan ada empat keahlian kunci yang dibutuhkan, yaitu memahami informasi, memproses informasi, mengkomunikasikan informasi, dan menghubungkan informasi (Robert Heller : 2008). Untuk mahir dalam empat keahlian kunci tersebut tergantung pada “bandwidth” seseorang (Gates terkenal sebagai seorang yang menggunakan kata “bandwidth” untuk menggambarkan kapasitas intelektual seseorang : sebuah metafora yang ditarik dari jumlah informasi yang dapat dibawa sebuah sistem komunikasi).

Jelas bahwa kemampuan memproses data dan informasi serta kemampuan mengambil keputusan bukan urusan remeh temeh. Jika seseorang tidak tahu apa yang penting, stratejik dan mendesak (urgent) bagi suatu organisasi, sulit diharapkan ia akan mampu mengambil keputusan yang penting, stratejik, dan mampu menyelesaikan masalah konkrit yang sedang dan akan dihadapi oleh organisasi di masa yang akan datang.

Atas dasar kenyataan bahwa proses mengolah data dan informasi menjadi sebuah keputusan adalah pekerjaan yang tidak mudah, saya menjadi mengerti mengapa di sekolah-sekolah manajemen bisnis mata kuliah Analytical Thinking and Problem Solving dan juga Systemic Thinking merupakan mata kuliah wajib dan diajarkan pada awal perkuliahan.

Metode Kerja dan Pengambilan Keputusan.

Metode kerja mempengaruhi proses dan hasil pengambilan keputusan. Mengingat karakteristik sumber daya adalah terbatas, terutama waktu adalah sumber daya yang tidak terbarukan, maka prinsip opportunity cost dalam proses pengambilan keputusan harus menjadi pertimbangan utama. Contoh berikut menunjukkan bahwa untuk mengambil keputusan dapat dilakukan dengan berbagai metode kerja dan kualitas keputusan yang dihasilkan akan berbeda.

Seorang Kepala Bagian Umum sedang mengadakan tes pengetahuan dan keterampilan terhadap 4 orang calon pengemudi. Salah satu materi tes adalah instruksi kepada pengemudi untuk memeriksa volume bahan bakar minyak. Masing-masing calon pengemudi dipersilakan menunjukkan pengetahuan, pengalaman dan keahlian mereka dalam memeriksa volume BBM dan kemudian melaporkan hasilnya.

Pengemudi pertama memeriksa BBM tanpa menggunakan peralatan apapun. Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya, dengan menggoyang-goyang bodi mobil dan mendengarkan suara gemericik dari dalam tangki BBM ia dapat menyimpulkan volume BBM yang ada dalam tangki sebanyak 20 liter.

Pengemudi kedua, menggunakan tongkat? yang telah diberi skala. Kemudian ia memasukkan tongkat tersebut ke dalam tangki BBM. Tongkat kemudian ditarik kembali dan setelah memeriksa bagian yang tongkat yang basah dan membandingkannya dengan skala, maka menurut perhitungannya volume BBM dalam tangki adalah 25 liter.

Pengemudi ketiga, menggunakan selang dan 2 jerigen masing-masing dengan kapasitas 10 liter. Setelah menguras semua isi tangki BBM dan kedua jerigen terisi penuh, ia menyimpulkan volume BBM dalam tangki adalah 20 liter.

Pengemudi keempat melihat dashboard mobil. Jarum penunjuk informasi tentang volume BBM persis tegak lurus di pertengahan skala. Mengingat kapasitas penuh tangki mobil yang sedang diperiksa adalah 50 liter, maka jawaban pengemudi keempat adalah 25 liter.

Contoh di atas menunjukkan bahwa perbedaan metode kerja dapat berdampak pada proses (terutama dalam hal waktu) dan hasil keputusan. Jika keempat pengemudi dapat menjawab secara tepat, maka waktu menjadi variabel yang sangat menentukan.

Tetapi lebih penting adalah memastikan bahwa dalam suatu organisasi terdapat prosedur kerja dan metode kerja standar bagi semua orang untuk melakukan pengolahan data. Terlalu berisiko untuk membiarkan setiap orang menggunakan prosedur kerja dan metode kerja sendiri, sebab kita tidak dapat berandai-andai bahwa yang penting adalah hasilnya.

Kesimpulannya adalah bahwa untuk mendapatkan keputusan yang berkualitas baik dalam waktu yang tepat, suatu organisasi tidak dapat hanya memperbaiki sistem dan teknologi yang digunakan dalam proses komunikasi dan proses pengolahan data/informasi. Pertama dan utama adalah memperbaiki kualitas manusia : pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental dalam proses komunikasi dan proses pengolahan data/informasi. Last but not least, karena budaya masyarakat dan terutama budaya organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku manusia, perhatian pengaruh sistem nilai budaya terhadap proses komunikasi dan pengolahan data/informasi tidak dapat diabaikan.

Bumi Serpong Damai, 12 April 2011.

 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2011 in Management

 

Strategic Inflection Point

Tanpa saya sengaja, ternyata saya sering kali membaca dan menulis tentang dua orang Yahudi yang sama-sama pernah “tersesat dalam lembah kematian”. Mereka adalah Victor Emir Frankl dan Andrew S. Grove. Frankl “hanya” satu kali “tersesat dalam lembah kematian”, yaitu ketika ia berada di kamp konsentrasi tentara Nazi di Auschwitz, Polandia. Frankl dicatat sebagai salah seorang yang secara luar biasa mampu lolos dari holocaust. Sedangkan Grove adalah “dedengkot” Intel Corporation, tidak pernah mengalami kamp konsentrasi, tetapi selama dua dekade memimpin Intel harus menyelematkan Intel dari lembah kematian.

“Lembah kematian” pertama adalah ketika di dekade 80-an Intel dihajar oleh pabrikan Jepang yang mampu membuat dan menjual memory chip dengan kualitas yang sama bagusnya dengan produk-produk Intel, tetapi dengan harga yang lebih murah. Intel yang dibangun oleh Grove bersama Bob Noyce dan Gordon Moore adalah perintis bisnis memory chip dan selama hampir dua dekade menjadi “maharaja” bisnis ini. Krisis pertama ini menunjukkan bahwa Intel dikalahkan di medan yang menjadi keahliannya dan dikuasainya.

Intel menghadapi kenyataan bahwa permintaan terhadap? memory chipnya anjlok dan krisis ini baru berakhir sampai satu tahun. Suatu hari di tahun 1985, setelah terlibat diskusi dengan Gordon Moore, CEO Intel saat itu, Intel memutuskan harus melepaskan “gelar” maharaja bisnis memory chip, keluar dari bisnis ini dan masuk ke bisnis microprocessor. Diskusi Grove adan Moore menjadi cerita yang melegenda di industri memory chip, sebagaimana ditulis Grove dalam memoarnya Only Paranoid Survive yang saya kutip sebagai berikut :

“Jika dewan direksi memecat kita, dan mereka mengangkat CEO baru, menurutmu apa yang akan ia lalukan?” Gordon menjawab tanpa ragu-ragu, “Ia akan mengeluarkan kita dari bisnis memori.” Saya terpaku menatapnya, kelu, lalu berkata, “Kalau begitu, kenapa kau dan aku tidak keluar dari kantor ini, lalu kembali, dan melakukannya sendiri?”

Intel kembali? “tersesat dalam lembah kematian” kedua kalinya pada pertengahan dekade 90-an. Meskipun titik perubahan strategis kedua ini “hanya” memaksa Intel kehilangan uang sejumlah setengah milyar Dollar Amerika Serikat, dampak yang ditimbulkan tetap dirasakan berat oleh Intel. Gelar “maharaja mikro prosesor” tak bermakna apapun, Intel harus menghadapi “cacat floating-point” yang ditemukan pada produk utama Intel, prosesor Pentium. Atas keputusan Grove untuk melakukan penggantian chip setiap orang yang telah membeli sebagaimana diminta, Intel harus melakukan “pemutihan (write-off) yang sangat besar – senilai US$ 470 juta” (Heller, 2008)

Lolos dari “lembah kematian” pertama merupakan berkah terselubung bagi Grove dan Intel. Beralih ke bisnis baru dan memusatkan ke sumber-sumber yang mereka miliki ke teknologi baru microprocessor terbukti merupakan keputusan yang tepat dan menjadikan Intel sekali lagi meraih “gelar” maharaja microprocessor. Krisis yang dialami oleh Intel juga memungkinkan Grove melejitkan istilah “strategic inflection point” (“SIP” atau titik perubahan strategis), yaitu “titik di mana sebuah perusahaan berhadapan langsung dengan perubahan besar, sebuah perubahan yang cukup besar untuk mengancam kehidupan perusahaan tersebut.”

Dalam buku Only the Paranoid Survive, Grove (1996) mendefinisikan SIP “…a strategic inflection point is a time in the life of a business when its fundamentals are about to change. … Let’s not mince words: A strategic inflection point can be deadly when unattended to. Companies that begin a decline as a result of its changes rarely recover their previous greatness.”

Perbedaan antara perubahan biasa dengan sebuah titik perubahan strategi adalah dalam hal besarnya potensi dampak perubahan terhadap bisnis, atau dalam bahasa Grove “ ….. titik perubahan strategis bukanlah perubahan biasa. Hal itu seperti arus sungai Tahap VI – arus deras mematikan yang bahkan membuat pengarung jeram profesional pun berhati-hati mengarunginya – dibandingkan arus biasa.”

Saya menganalogikan SIP dengan tsunami yang tidak dapat dihindarkan, tidak dapat dihentikan, dan akibatnya dapat mematikan kehidupan perusahaan atau bahkan suatu industri. Grove menggambarkan SIP sebagai “perubahan 10 x lipat”, yang berarti SIP adalah perubahan yang besarnya 10 kali lipat perubahan biasa yang terjadi di dunia bisnis.

Teknologi merupakan salah satu “kontributor utama” terhadap SIP. Contoh klasik adalah kehadiran teknologi GSM dan CDMA yang mematikan perusahaan-perusahaan dan industri radio panggil. Demikian juga penemuan mobil produksi massal Ford Model T yang menimbulkan SIP bukan hanya bagi bisnis kereta kuda, namun juga para pembuat kereta kuda.

Sesungguhnya, titik perubahan strategis tidak hanya disebabkan oleh perubahan-perubahan di bidang teknologi. Hampir semua perubahan eksternal perusahaan dapat mempercepat terjadinya titik perubahan strategis, antara lain persaingan atau perubahan baru, perubahan peraturan, jalur distribusi baru, dan lain sebagainya. Para pelaku bisnis pembalakan hutan mungkin tidak pernah melupakan SKB Tiga Menteri yang melarang ekspor kayu gelondongan. Kehadiran peraturan yang berlaku pada dekade 80-an tersebut membuat industri kehutanan sempat kelimpungan, beberapa perusahaan ada yang harus gulung tikar dan sampai banyak juga perusahaan HPH yang masih mampu bertahan hingga kini. Pembukaan jalan tol Cipularang (Cikampek, Purwakarta, Padalarang) menghadirkan kerugian sejumlah Rp. 36 milyar (per Desember 2009) bagi PT. KA Daop II dan memaksa KA Parahyangan yang beroperasi sejak tahun 1971 mengucapkan “sayonara”.

Tantangan Bagi Organisasi

Ada tiga hal penting yang harus dilakukan oleh setiap organisasi terhadap SIP. Pertama, mengetahui dan mampu memprediksi akan terjadi titik perubahan strategis. Kedua, mempersiapkan organisasi untuk menghadapi perubahan strategis. Ketiga, menetapkan solusi untuk keluar dari titik perubahan strategis.

Memprediksi Titik Perubahan Strategis.

Meskipun titik perubahan strategis jarang memperlihatkan tanda-tanda kemunculannya dan karena itu tidak dapat dipastikan secara tepat waktu terjadinya, perubahan-perubahan kekuatan kompetitor dan intensitas persaingan di suatu industri, dapat mengindikasikan akan adanya titik perubahan strategis di suatu industri. Grove memberikan “resep” untuk mengenali serangan berkekuatan 10 kali lipat itu sebagai berikut :

1.??? Pesaing utama Anda akan berubah.

Peringatan awal sedang terjadi guncangan dan akan terjadi perubahan besar dalam industri antara lain diperlihatkan oleh perusahaan yang selama ini menjadi pesaing utama tidak lagi menjadi perusahaan yang paling ditakuti.

2.??? “Pelengkap” utama Anda akan berubah.

Perubahan dalam hal kekuatan strategic partner dan pemasok. Jika terjadi perusahaan yang selama ini menjadi sekutu terbesar Anda mungkin tak lagi sepenting dulu – baik di pasar maupun bagi Anda, maka hal itu merupakan tanda-tanda kemungkinan datangnya titik perubahan strategis.

3.??? Kemampuan manajemen untuk “mengetahui situasi” mulai berubah.

Jika anggota tim manajemen merasa tidak mengetahui apa yang benar-benar sedang terjadi di luar perusahaan, itu merupakan tanda bahwa perubahan-perubahan di luar mungkin terjadi lebih cepat dibanding perkiraan Anda.

Dalam konteks mengenali tanda-tanda kemunculan titik perubahan strategis, peringatan Moeller dan Bradi tentang kegagalan dalam proses business intelligence perlu diperhatikan. “Intelligence failures”, demikian Moeller dan Bradi (2008) “generally occur despite the wealth of information available, because of a lack of suitable analysis for decision makers to draw upon”.

Kegagalan business intelligence tersebut bisa terjadi jika para pemimpin tidak mengetahui apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin. ?“Most of the companies’ external sensory functions”, demikian Moeller dan Bradi (2008) “were either not working or not registering at the policy level. According to two Wharton professors, the President and CEO was not a “vigilant leader” but rather an operational leader (more controlling, focused on efficiency and cost cutting and doesn’t explore outside potential).

Mempersiapkan organisasi menghadapi Titik Perubahan Strategis.

Barangkali hanya Intel yang secara khusus mempersiapkan diri menghadapi titik perubahan strategis. Grove menyebutkan ada tiga cara bagi organisasi untuk menghadapi serangan dari pihak lain, yaitu pertama dengarkan orang-orang yang mudah khawatir; kedua, mendorong diskusi dan debat sengit; dan ketiga teliti dan curigai data yang ada.

Grove menggunakan istilah Cassandra (nama tokoh dalam mitologi Yunani), yaitu “orang-orang yang selalu menyatakan bahwa langit akan runtuh” (Kramer, 2005). Mereka adalah para “perwira menengah” (baca manajer madya) yang berada di garis depan, ?berhubungan langsung dengan pelanggan dan karena itu mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di pasar. Mereka berfungsi sebagai sensor eksternal bagi perusahaan dan karena itu informasi yang mereka ketahui, termasuk kekhawatiran-kekhawatiran yang mereka sampaikan, merupakan informasi yang sangat berharga.

Grove juga menekankan perlunya diskusi dan debat sengit. Sebab, hanya dengan mengutarakan semua dampak yang mungkin ditimbulkan sesuatu yang terlihat seperti sebuah titik perubahan strategis, sebuah organisasi dapat menentukan apakah organisasi benar-benar sedang menghadapi bukan sekedar perubahan biasa.

Data adalah fakta yang sangat penting. Meskipun demikian, dalam konteks membuat keputusan tentang SIP, pertimbangan naluri sangat diperlukan, karena SIP berkaitan dengan sesuatu yang akan terjadi di masa depan dan karena itu serinkali tidak terukur.

Memimpin organisasi keluar dari Titik Perubahan Strategis.

Tidak ada “resep” yang berlaku untuk semua perusahaan dan industri. Apa yang dilakukan oleh Intel untuk keluar dari titik perubahan strategis mungkin tidak sesuai dan tidak mudah untuk dilakukan oleh organisasi lain di industri yang berbeda. Salah satu pelajaran berharga dari Intel keluar dari titik perubahan strategis adalah kemampuan Intel untuk menjadi organisasi yang paranoid sehingga ketika menghadapi titik perubahan strategi untuk kedua kalinya Intel sangat siap dengan solusinya.

SIP mampu membuat perusahaan “knock out” dan ada juga segelintir perusahaan seperti Intel yang mampu bangkit. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah “pertama,? titik perubahan strategis jarang memberikan tanda-tanda kemunculannya dan SIP mampu mempengaruhi sebuah perusahaan atau seluruh industri; kedua, kemampuan untuk mengetahui bahwa arah angin sudah berubah dan untuk mengambil tindakan yang diperlukan sebelum Anda mengaramkan perahu Anda sangat penting bagi masa depan sebuah perusahaan; dan ketiga, ketika organisasi mendekati dan berhadapan dengan SIP, pola pikir perusahaanlah yang menentukan.” (Krames, 2005 : 127-128).

Belajar dari pengalaman Intel menghadapi SIP, ada dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, deteksi awal terjadinya titik perubahan strategis merupakan kunci penanganannya. Kedua, pola pikir perusahaan seperti rasa puas diri merupakan pola pikir terburuk. Kewaspadaan adalah salah satu unsur yang menentukan keberhasilan perusahaan mengetahui tanda-tanda kemunculan SIP, menghadapinya dan kemudian mengatasi akibat-akibat yang ditimbulkan oleh SIP. Itulah kunci keberhasilan Intel menghadapi dan mengatasi “tersesat di lembah kematian”, sebagaimana dikatakan oleh Grove sebagai berikut :

“Menurut saya, kemampuan Intel mempertahankan kesuksesannya disebabkan oleh sikap waspadanya yang terus menerus terhadap berbagai ancaman, entah yang berupak perkembangan teknologi ataupun pesaing. Kata paranoid dimaksudkan untuk menyiratkan sikap seperti itu, sikap sekalu waspada terhadap ancaman bagi kesuksesan Anda.” (Krames, 2005)

Bagi perusahaan yang masih berada dalam tahap siklus bisnis birth dan growth, mungkin sangat sulit untuk membayangkan akan terjadi titik perubahan strategis dalam waktu dekat. Tetapi apapun dapat terjadi di dunia bisnis dan itu berarti bahwa mengetahui tanda-tanda akan terjadi titik perubahan strategis, mempersiapkan diri untuk menghadapinya, dan menemukan solusi keluar dari titik perubahaan strategis adalah keniscayaan. Jika anda seorang pemimpin, mungkin tidak perlu mengulangi kesalahan Grove dalam kasus “cacat floating point” yang ditemukan pada produk utama Intel, prosesor Pentium. Saat itu Grove mengakui bahwa “diperlukan badai kritik untuk membuat diri saya sadar bahwa sesuatu telah berubah.” (Heller, 2008)

Bumi Serpong Damai, 26 Maret 2011

 
 
slot 体育新闻| 8868体育| 8868体育| 体育新闻>| <蜘蛛词>| <蜘蛛词>| <蜘蛛词>| 8868体育| 8868体育| 8868体育|