RSS

Monthly Archives: June 2011

Amazing Camera?

Sebuah artikel berjudul “Stop wishing for that Amazing Camera and Appreciate The One You’ve Got” yang ditulis oleh Dan Dyer, seorang Guest Contributor untuk? http://www.digital-photography-school.com, mampu membuat saya “turun gunung” untuk menulis artikel tentang fotografi. Sebagian dari artikel tersebut saya kutip sebagai berikut :

All cameras have are essentially the same thing, a shutter that exposes light on a light-sensitive surface. Sure, there are differences in engineering tolerances and technical ranges and the latest technology. But Ansel Adams didn’t have today’s latest gadget. He had know-how, and practice. The real difference between an average photo and an amazing photo, is the photographer, not the camera.”

Saya katakan “turun gunung”, sebab dalam jangka pendek belum ada niat untuk menulis tentang fotografi. Selama ini saya “hanya” menjadi pemerhati fotografi, terutama karya-karya pewarta foto yang mendapatkan penghargaan Pulitzer. Pandangan subyektif saya lebih tertarik kepada foto jurnalistik, termasuk foto-foto pewarta foto perang.

Pemahaman saya terhadap fotografi mungkin juga berbeda dengan kebanyakan orang yang menekuni hobby fotografi. Bagi saya, fotografi adalah media untuk berekspresi. Kemampuan saya untuk menyampaikan gagasan relatif terbatas. Selama ini saya “hanya” menggunakan teks sebagai media untuk menyampaikan gagasan. Tetapi ternyata tidak semua gagasan bisa saya ekspresikan melalui teks. Karena itu, saya membutuhkan media lain untuk mengekspresikan gagasan.

Pilihan saya adalah gambar / visual. Karena saya tidak mampu menggambar dan menulis, maka pilihan jatuh kepada fotografi. Secara harfiah fotografi berarti melukis dengan cahaya. ?Bukankah orang bijak berkata “a picture is worth a thousand words”?.

Sejak fotografi memasuki era digital, jumlah orang yang “gandrung” dan memilih hobby fotografi kian bertambah banyak. Bahkan seorang businessman yang “bingung” memilih hobby untuk memasuki usia pensiun, “patuh” terhadap saran-saran dari anak dan menantunya agar menekuni dunia fotografi.

Kegandrungan orang kepada fotografi semakin menjadi-jadi setelah sebuah media sosial bernama facebook “memfasilitasi” hasyrat untuk “mejeng”. Tidak tanggung-tanggung, foto dengan kualitas “amburadul” yang diambil dengan menggunakan fasilitas kamera dari sebuah handphone dan blackberry, tetap dipaksakan untuk diupload.

?

Fotografi dan Simbol Status.

Fotografi bisa disebut hobby murah sekaligus hobby mahal. Sebuah restoran mengusung tagline “harga kaki lima, kualitas bintang lima”. Artinya, setiap orang bisa makan makanan yang berkualitas bintang lima (“enak tenan, “maknyus”, dan “nendang”), tetapi dengan harga kaki lima, dan tentu saja tidak perlu ke restoran di hotel bintang lima. Begitu juga dengan fotografi, siapa saja dapat menghasilkan karya foto dengan kualitas “bintang lima” dari sebuah kamera dan lensa berharga “kaki lima”.

Untuk menghasilkan sebuah foto yang baik dan berkarakter, tidak harus menggunakan sebuah kamera DSLR yang berharga relatif mahal. Seorang fotografer profesional tetap saja mampu menghasilkan sebuah foto yang baik dan berkarakter “hanya” menggunakan sebuah kamera saku yang berharga relatif murah.

Tetapi alat-alat fotografi juga mengenal “kasta-kasta”. Sebuah kamera dan lensa misalnya, ada “kasta” entry level di lapisan paling bawah, medium, dan premium sebagai “raja” di tingkat paling atas. Harga lensa (terutama tele dan premium) juga relatif lebih mahal dibandingkan dengan kamera. Fotografi menjadi sebuah hobby yang relatif mahal kalau semua peralatan utama dan penunjang dilengkapi, terutama kamera dan lensa kualitas premium.

Barangkali karena ada “kasta-kasta” peralatan utama dan penunjang fotografi tersebut menjadikan manusia mempunyai sikap dan perilaku yang “menyimpang” terhadap fotografi. Bagi sebagian orang, memiliki hobby fotografi merupakan prestise sosial, dan karena itu? diharapkan mampu “mendongkrak” status sosial.

Tetapi, di Indonesia ini apa sih yang tidak “dimanipulasi” menjadi sebuah simbol status? Seperti halnya handphone yang menjadi simbol status dan digadang-gadang alat untuk “redefining success”, sebagian orang memperlakukan fotografi sebagai “diferensiator” lapisan sosial. Sejatinya, kualitas fotografer tidak dapat dibedakan dari kamera dan lensa. Kualitas sejati seorang fotografer dibedakan dari karya-karya fotonya.

?

Kamera Hanya Alat.

Apa kegunaan kamera, lensa, filter, tripod, dan berbagai alat lainnya dalam fotografi? Jawabannya sangat sederhana : semua benda-benda tersebut hanya merupakan alat utama dan alat bantu untuk memotret. Tidak lebih dari itu.

Saya senang dengan pesan yang disampaikan oleh Bung Toga Tampubolon, seorang fotografer dan salah seorang staf pengajar fotografi di Darwis Triadi School of Photography. Menurut “halak hita” ini (halak hita adalah bahasa Batak, artinya “orang kita” juga), “kamera, lensa, filter dan alat-alat lain di dunia fotografi adalah sekedar alat bantu”. Sebagai fotografer memang tidak sepatutnya “menghamba” kepada berbagai alat bantu tersebut.

Alat utama dan alat bantu dalam fotografi digunakan untuk melukis dengan cahaya. Teknologi kamera dan lensa memang selalu berkembang, bahkan semakin cepat berkembang. Meskipun demikian, seberapapun canggih kamera dan lensa, prinsip the man behind the gun tetap berlaku.

Teknologi kamera dan lensa boleh semakin canggih. Tetapi sebuah foto yang indah dan berkarakter bukan hasil dari teknologi kamera dan lensa yang canggih. Sebuah foto yang indah dan berkarakter adalah perwujudan visi dan kreativitas dari seorang fotografer.

Meskipun demikian, adalah “normal” jika seorang pemula di dunia fotografi tidak percaya diri terhadap perlatan fotografi yang dimilikinya. Menurut Laura Radniecki (www.digital-photography-school.com) salah satu dari “5 penyakit” orang-orang yang hobby fotografi adalah tidak percaya diri dan mereka pada umumnya berkata “my gear isn’t good enough”.

Untuk mengatasi rasa tidak percaya diri terhadap peralatan fotografi yang dimiliki, Radniecki memberikan tips sebagai berikut : “Expensive gear doesn’t necessarily equal good photos. If you don’t know how to use a camera to its full potential, the most expensive gear in the world won’t give you great photos. That said, fantastic photos can come from all ranges of equipment”.
Memotret, Menyempurnakan, dan Memanipulasi.

Tanpa bermaksud membandingkan kamera analog dan kamera digital, saya pribadi lebih senang dengan tingkat kesulitan dan tantangan yang ditawarkan kamera analog. Teknologi kamera digital memang jauh lebih unggul, tetapi manusia ?seolah-olah terlalu “dimanjakan” oleh berbagai fasilitas teknologi kamera digital.

Bagi saya, fotografi adalah memotret. Dengan berbagai teknologi kamera, lensa, dan software untuk mengedit sebuah foto, saat ini memang dimungkinkan seorang fotografer melakukan “penyempurnaan” dan bahkan “manipulasi” terhadap sebuah foto. Olah digital memang membuat segala sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin menjadi serba mungkin.

Saya tidak “mengharamkan” orang lain “menyempurnakan” dan “memanipulasi” sebuah foto. Tetapi bagi saya sendiri, karena secara teknis fotografi hampir tidak ada lagi kesulitan memotret dengan kamera digital, “menyempurnakan” dan “memanipulasi” sebuah foto adalah perbuatan merendahkan diri sendiri. Bukankah orang bijak juga sudah mengingatkan “a picture never lies”?.

Taking pictures vs Creating Images.

Matt Dutile memberikan tips untuk menjadi seorang fotografer yang “baik”. Katanya : “Stop taking pictures, start creating images”. Di sekolah-sekolah fotografi profesional juga dijelaskan perbedaan antara tingkat basic dan intermediate. Di tingkat basic, seorang fotografer hanya pintar “taking pictures”. Sementara di tingkat intermediate, seorang fotografer sudah mampu “making pictures” dan membaca foto.

Apa beda “taking pictures” dan “creating images”? (atau perbedaan antara “taking pictures” dan “making images”). Matt Dutile menjelaskan perbedaan di antara keduanya sebagai berikut :

“A picture is what you take when you accidentally mash your hands on the shutter release while your camera sits idle on the living room table. It’s when you bump the camera while it hangs from your shoulder and snap that oddly angled picture of your feet. It’s the photos you took of your friend just because they asked you to. It’s also generally what most of us are shooting the first time we pick up our cameras – myself included.

But if you really want to advance your photography, you’ve got to stop pressing that shutter release just because you can. Instead, take the time to create a vision. Stop taking pictures. Start creating images.” (www.digital-photography-school.com).

Memotret masih bisa digolongkan sebagai kegiatan taking pictures, syukur-syukur creating images. Tetapi tampaknya perlu hati-hati mengkategorikan “menyempurnakan” dan “memanipulasi” sebuah foto sebagai kegiatan “taking pictures”, apalagi “creating images”.

Tampak Siring 27 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2011 in Photography

 

SWOT Analysis

Ada berbagai model untuk menganalisis lingkungan internal dan ekternal organisasi. Jika prinsip KISS (keep it simple and short) menjadi pedoman dasar, maka kecuali SWOT analysis, barangkali tidak ada pendekatan yang lebih sederhana dan mudah dipahami dan dilaksanakan.

Hampir semua pimpinan puncak organisasi sampai dengan tingkat supervisor mengetahui SWOT analysis. Bahkan sebuah majalah berita mingguan (MBM) “papan atas” di Indonesia “hanya” menggunakan SWOT analysis untuk membuat perencanaan jangka panjang dan rencana kerja tahunan perusahaan.

Jika memang mudah, untuk apa dipersulit? Jika dengan SWOT analysis suatu organisasi sudah mendapatkan data dan informasi yang relevan, lengkap, akurat, valid, terkini, mudah dipahami yang dapat dijadikan dasar untuk membuat rencana kerja, “makruh” hukumnya meninggalkan pendekatan atau model analisis lain.

Perlu dipahami bahwa intisari dari swot analysis tidak sekedar mengidentifikasi dan membuat daftar lengkap tentang kekuatan dan kelemahan internal organisasi dan peluang dan ancaman dari eksternal organisasi. Jika kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sudah diketahui, adalah lebih penting bagi organisasi untuk menyusun dan mengeksekusi swot strategy.

?

Apa yang dimaksud SWOT Analysis?.

SWOT merupakan akronim dari Strengths (kekuatan-kekuatan), Weaknesses (kelemahan-kelemahan), Opportunities (peluang-peluang), dan Threats (ancaman-ancaman). Strengths dan weaknesses merupakan kondisi internal organisasi, sedangkan opportunities dan threats merupakan kondisi ekternal organisasi.

Brandname yang kuat, reputasi yang positif di benak pelanggan, akses yang kuat terhadap jaringan distribusi adalah contoh dari kekuatan-kekuatan organisasi. Sebaliknya, brandname yang lemah, reputasi yang negatif di benak pelanggan, dan akses yang lemah terhadap jaringan distribusi adalah contoh dari kelemahan-kelemahan organisasi.

Beberapa contoh dari peluang antara lain adalah kebutuhan pelanggan yang belum terlayani, kehadiran teknologi baru, pemberian insentif bea masuk dan keringanan perpajakan. Sedangkan kondisi eksternal yang dapat menjadi ancaman bagi organisasi antara lain menguatnya bargaining power pemasok dan pembeli, regulasi baru yang membatasi gerak, maupun kehadiran teknologi baru.

Pada prinsipnya, tidak selalu kondisi yang merupakan kelemahan-kelemahan dari suatu organisasi akan selalu dan selamanya menjadi kelemahan organisasi. Tergantung dari kemampuan suatu organisasi menyiasati kondisi yang selama ini menjadi kelemahannya, suatu kelemahan bisa berubah menjadi kekuatan dari organisasi.

Demikian juga dengan kondisi yang menjadi peluang bagi organisasi, tidak selalu berdampak positif bagi organisasi, bahkan dapat berubah menjadi ancaman. Perubahan-perubahan yang relatif cepat di bidang teknologi misalnya, dapat dianggap sebagai peluang sekaligus ancaman terhadap organisasi, tergantung dari kemampuan organisasi menghadapi perubahan teknologi tersebut.

?

Mengapa SWOT Analysis?

Analisis terhadap kondisi internal dan eksternal organisasi sangat penting bagi suatu organisasi sehingga organisasi dapat membuat perencanaan stratejik yang akuntabel. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan internal organisasi serta peluang dan ancaman dari eksternal organisasi, maka organisasi dapat menyusun sasaran stratejik dan? merumuskan strategi yang tepat untuk mencapai sasaran stratejik.

?

SWOT? Interactions

Setelah mengetahui kondisi internal dan kondisi eksternal organisasi, adalah penting untuk mengetahui hubungan-hubungan masing-masing kondisi internal dengan kondisi eksternal organisasi. Menurut Dr. Kevin Lance Jones, hubungan antara masing-masing SWOT dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1. SWOT Interactions

Interaksi antar kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan internal organisasi dengan peluang dan ancaman dari eksternal organisasi akan menghasilkan leverage, constraints, problems dan vulnerability.

Interaksi antara kekuatan-kekuatan organisasi dengan berbagai peluang eksternal membentuk leverage. Artinya, kekuatan-kekuatan organisasi dapat menunjang organisasi untuk memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari peluang. Jika kelemahan-kelemahan organisasi dihadapkan dengan berbagai peluang, maka kelemahan-kelemahan tersebut menjadi constraints bagi organisasi untuk memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari berbagai peluang.

Kekuatan-kekuatan organisasi yang dihadapkan pada ancaman-ancaman eksternal akan menempatkan organisasi dalam kondisi vulnerable. Sedangkan kelemahan-kelemahan organisasi akan menempatkan organisasi dalam masalah jika berhadapan dengan berbagai ancaman eksternal.

SWOT Strategy

Setelah mengetahui karakteristik dari interaksi masing-masing kondisi internal dan eksternal organisasi, langkah selanjutnya adalah menyusun strategi yang tepat. Ringkasan SWOT Strategy ditunjukkan gambar 2 sebagai berikut :

Gambar 2. SWOT Strategy

S-O Strategy berusaha fokus dan prioritas pada berbagai peluang yang sesuai dengan kekuatan-kekuatan organisasi. Organisasi berusaha memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang dimilikinya untuk merealisasikan berbagai peluang yang ada. Sedangkan W-O Strategies fokus dan prioritas mengatasi berbagai kelemahan organisasi yang dapat menjadi constraints dalam menyikapi berbagai peluang. Dalam hal ini, fokus dan prioritas adalah memperbaiki berbagai kelemahan organisasi, bukan pada merealisasikan peluang.

S-T strategies berusaha mengidentifikasi berbagai alternatif cara untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan organisasi menghadapi berbagai ancaman eksternal. Organisasi berusaha memanfaatkan kekuatan-kekuatannya untuk melemahkan atau meminimalkan dampak kemungkinan terjadinya dan dampak negatif dari ancaman dari eksternal. Sedangkan W-T strategies merupakan strategi yang defensif untuk melindungi berbagai kelemahan-kelemahan organisasi sehingga tidak menjadi “sasaran empuk” dari ancaman eksternal.

Dalam menghadapi SWOT organisasi, perlu dipahami bahwa jangan overestimate terhadap kekuatan-kekuatan yang menjadi keunggulan kompetitif organisasi. Sebab, bagaimanapun kekuatan-kekuatan organisasi adalah bersifat relatif dan tidak ada yang pasti dalam hal keunggulan kompetitif yang abadi (silakan baca artikel “Only the Paranoid Survive” dan “Strategic Inflection Point” dalam blog ini, category : Change Management).

Demikian pula dengan menghadapi kelemahan-kelemahan organisasi, tidak perlu underestimate. Kelemahan-kelemahan organisasi juga tidak seharusnya membuat kecil hati dalam posisi “underdog”. Orang Jawa memiliki peribahasa “marwito marganing maruto”. Angin dari buritan dan haluan pada prinsipnya dapat dimanfaatkan oleh kapal untuk melaju ke depan.

Prinsip-prinsip dalam ilmu alam sesungguhnya dapat dimanfaatkan sebagai strategi menghadapi kompetitor. Syamsul Anwar Harahap, mantan petinju nasional kelas welter ringan yang kemudian menjadi komentator pertandingan tinju, seringkali memberikan contoh bagaimana petinju yang semula dianggap “underdog”, justru mampu mengalahkan lawannya yang “Raja KO” dengan kemenangan knock out (KO).

Kekuatan dan pukulan keras seorang petinju tidak berarti apa-apa jika lawan yang dihadapinya selalu bergerak dan mampu menghindar sehingga ia hanya “memukul angin”. Pukulan seorang petinju “underdog” bisa menjadi sebuah pukulan dengan kekuatan dan keras yang berlipat-lipat ganda kalau tepat mengenai sasaran dan pada saat yang bersamaan petinju lawan dalam kekuatan penuh “menyongsong” pukulan. Dalam hal ini, hukum momentum berlaku. Inilah strategi “mengalahkan lawan dengan menggunakan kekuatan lawan”.

Satu lagi strategi yang biasa dilakukan oleh petinju yang “lemah” adalah berusaha “menghindar”. Cara umum yang dilakukan oleh semua petinju adalah berputar menjauhi titik kekuatan lawan dan bergerak menuju titik kelemahan lawan. Jika seorang petinju kuat dalam pukulan kiri atau kidal, maka petinju lawannya akan menjauhinya dengan cara bergerak mundur melingkar menjauhi pukulan kiri kuat dan mendekati pukulan lawan yang relatif lemah. Bukankah memilih melayani niche market pada intinya? adalah strategi menghindari kekuatan lawan?

Dalam olahraga sepakbola, tubuh yang relatif pendek tidak selalu menjadi titik kelemahan. Tubuh para pesepakbola Spanyol yang memperkuat dan merebut Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010 relatif pendek dibandingkan tubuh kebelasan lawan mereka. Tubuh yang relatif pendek ternyata sesuai dengan strategi permainan bola-bola bawah, operan jarak pendek dan relatif cepat.

Bumi Serpong Damai, 19 Juni 2010

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2011 in Management

 

Whistle Blower

Istilah whistle blower kembali “meroket” setelah ibu Siami “menyanyi” tentang kasus contek massal dalam proses ujian nasional ?tingkat sekolah dasar tanggal 11-12 Mei 2011 yang lalu di sebuah SD di Surabaya. Karena telah dianggap mencemarkan “nama baik” sekolah dan kampungnya, sebagian warga masyarakat merasa “berhak” untuk main hakim sendiri dan mengusir keluarga Ibu Siami.

Ibu Siami bukan orang pertama yang menjadi whistle blower. Sebelumnya Agus Chondro -anggota DPR RI dari PDI Perjuangan – juga telah menjadi whistle blower. Komjen (Pol.) Susno Duaji termasuk whistle blower yang mampu membuat merah telinga jajaran kepolisian RI. Bahkan, Gayus Tambunan yang terlibat kasus mafia pajak pun diberikan Whistle Blowing Award pada tahun 2010 (penghargaan yang sama juga diberikan kepada Susno Duadji).

Secara umum, whistle blowing masih merupakan hal yang baru dan langka di Indonesia. Padahal, di negara yang korupsi yang menjadi “budaya”, dilakukan secara “berjamaah”, dan terjadi di semua sektor kehidupan, bahkan juga di lembaga pendidikan, kehadiran whistle blower sangat dibutuhkan dan dapat memberikan manfaat untuk proses pemberantasan korupsi. Meskipun demikian, karena perlindungan yang relatif lemah dan pembuktian tindak pidana korupsi yang relatif sulit, menjadi whistle blower memang tidak mudah.

Definisi Whistler Blower.

Wikipedia mendefinisikan ?whistleblower (whistle-blower or whistle blower)?adalah “a person who tells the public or someone in authority about alleged dishonest or illegal activities (misconduct) occurring in a government department, a public or private organization, or a company. The alleged misconduct may be classified in many ways; for example, a violation of a law, rule, regulation and/or a direct threat to public interest, such as fraud, health/safety violations, and corruption. Whistleblowers may make their allegations internally (for example, to other people within the accused organization) or externally (to regulators, law enforcement agencies, to the media or to groups concerned with the issues).”(www.en.wikipedia.org, diunduh pada tanggal 20 Juni 2011).

Whistler Blower di Organisasi Laba dan Nir-Laba.

Di negara-negara Barat, peran whistler blower di perusahaan swasta beorientasi profit maupun organisasi nirlaba bukan hal yang baru. ?Sebagai contoh program whistle blowing yang dijalankan oleh The Office of Special Council, Amerika Serikat sebagai berikut :

Di Indonesia, salah satu organisasi pemerintah yang telah menerapkan whistle blower adalah BPMIGAS? (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi). BPMIGAS menjelaskan maksud program whistle blower di lingkungannya sebagai berikut? “Program ini dimaksudkan agar setiap pekerja?BPMIGAS dapat menjadi ‘pengawas’ pekerja yang lain, baik staf, penunjang?maupun pimpinan. Pegawai dapat melaporkan jika ada indikasi pelanggaran norma maupun perundang-undangan.? Dengan adanya program ini? diharapkan? akan? meningkatkan?disiplin pekerja.” (www.bpmigas.go.id).

Belum ada penelitian tentang organisasi swasta dan pemerintah di Indonesia yang telah memiliki dan melaksanan program whistle blowing. Gembar-gembor organisasi swasta dan pemerintah yang mengaku telah menerapkan praktek-praktek good corporate governance mungkin lebih baik jika dilengkapi dengan pelaksanaan program whistle blowing.

Di Indonesia, semua organisasi berlomba-lomba untuk merumuskan nilai-nilai organisasi yang isinya indah-indah, tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan. Sebagai contoh adalah nilai-nilai kejujuran (integrity). Hampir semua organisasi menyebutkan bahwa kejujuran adalah nilai yang melandasi sikap dan perilaku seluruh anggota organisasi, mulai dari pimpinan puncak sampai karyawan paling bawah. Tetapi apakah nilai-nilai kejujuran benar-benar dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan, itu lain cerita lagi.

Whistle Blower Award.

Aktivitas masyarakat memang cenderung lebih sigap dan cepat daripada pemerintah. Meskipun peraturan perundang-undangan yang ada saat ini masih belum memberikan perlindungan yang sepantasnya kepada whistle blower, toh dorongan dan dukungan masyarakat terhadap orang-orang yang “berani” menjadi whistle blower semakin menguat. Salah seorang yang pernah menerima Whistle Blower Award 2010 dari Komunitas Pengusaha Antisuap (Kupas) adalah Komjen Susno Duadji.

Beberapa kriteria Whistle Blower Award antara lain (i.) laporan berdasarkan fakta dan bukan fitnah; (ii.) memberikan dampak publik yang luas dan positif; (iii.) bertujuan agar ada langkah-langkah konkret untuk perbaikan ke depan; (iv.) tidak ada motivasi untuk memopulerkan diri dan meraih keuntungan pribadi, baik secara fisik maupun secara finansial; dan (v.) ?serta menyadari sepenuhnya segala potensi risiko bagi dirinya atau keluarganya.(http://politik.kompasiana.com/2010/04/21/sang-whistle-blower/).

Honesty is the best policy.

William Shakespeare pernah mengatakan bahwa “honesty is the best policy”. Saya pikir tidak ada orang Indonesia yang tidak sepakat bahwa kejujuran adalah perbuatan yang baik atau kebaikan. Tetapi masalahnya seringkali bukan berhenti pada mendefinisikan secara tepat makna kejujuran dan berdiskusi mengapa kita perlu jujur. Masalah sesungguhnya bukan what dan why, tetapi how to?

Menjadi manusia jujur berarti siap menjadi a legal alien. Sanksi sosial yang paling ringan adalah sekedar dicemooh “sok jujur”, “munafik” dan lain sebagainya. Sanksi sosial yang ekstrem adalah pengusiran dari lingkungan tempat tinggal atau ancaman pembunuhan.

Sayang sekali, budaya masyarakat dan bangsa Indonesia cenderung pada shame culture (silakan baca shame culture and guilty culture dalam blog ini, category : sosiologi). Bagi orang Indonesia, kesalahan bukan hasil dari kesadaran, tetapi paksaan dari pihak luar. Bahkan, ketika faktanya seseorang terbukti melakukan kesalahan, tetap saja ia mangkir dan tidak mengakui atau merasa telah dikorbankan. Menurut saya, budaya malu kurang mendukung munculnya manusia-manusia jujur.

Bumi Serpong Damai, 20 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2011 in Selasar

 

Birds Of A Feather Flock Together

Tampaknya prosesi “hijrah” Michael Neuer dari klub Schalke 04 ke klub Bayern Muenchen pada musim panas 2011 ini masih menyisakan “pekerjaan rumah” bagi Bayern. Kiper nomor 1 timnas sepakbola Jerman saat ini memang telah lulus seleksi kesehatan. Schalke 04 dan Bayern juga telah sepakat harga transfer di kisaran angka 15 juta Euro. Neuer juga telah menandantangani kontrak dengan Bayern untuk jangka waktu 5 musim kompetisi ke depan. Tetapi untuk melindungi Neuer, Bayern “terpaksa” menyewa ahli teror.

Gerangan apakah yang terjadi? Selidik punya selidik, meskipun Neuer saat ini adalah kiper terbaik di Jerman, pendukung klub Bayern tidak suka kepada Neuer. Saat masih digadang-gadang akan bergabung dengan Bayern pun para pendukung Bayern sudah memperlihatkan antipati terhadap Neuer. Tahun 2010, saat Bayern bertemu Schalke 04 di Piala Jerman, para pendukung Bayern tampil garang membentangkan spanduk bertuliskan “Koan Neuer”, artinya “Tidak untuk Neuer”.

Mengapa para pendukung Bayern begitu antipati terhadap Neuer? Neuer lahir di kota Gelsenkirchen dua puluh lima tahun yang lalu. Gelsenkirchen ialah sebuah kota di Jerman di negara bagian Nordrhein-Westfalen. Ibukota negara bagian Nordrhein-Westfalen adalah Duesseldorf. Sedangkan klub kebanggaan kota dan warga masyarakat Gelsenkirchen adalah FC Schalke 04, salah satu musuh bebuyutan Bayern Muenchen!

Sejatinya, seorang pesepakbola yang bermain di sebuah klub profesional dan kemudian pindah ke klub lain yang menjadi musuh bebuyutannya adahal kejadian yang umum dan lumrah. Bukankah di manapun berlaku “fatwa” cash is the king?. ?Ashley Cole, wing back klub Arsenal pindah ke FC Chelsea yang sama-sama bermarkas di London. Luis Figo pernah membela FC Barcelona selama beberapa musim dan memutuskan untuk “membelot” ke klub Real Madrid. Sebaliknya, Samuel Eto’o pernah membela Real Madrid dan kemudian “berselingkuh” dengan FC Barcelona yang menjadi musuh bebuyutan Real Madrid. Ibrahimovic malah lebih “gila” karena pernah memperkuat Juventus, Inter Milan, dan saat ini AC Milan.

Kekecewaan – dan mungkin kemarahan dan kebencian – ?pendukung klub terhadap Cole, Figo, dan Eto’o memang manusiawi dan dapat dipahami. Pendukung klub biasanya memiliki prinsip yang tidak dapat ditawar-tawar : silakan pindah ke klub mana saja, asalkan bukan klub lawan yang menjadi musuh bebuyutan di negara yang sama. Lazimnya, pendukung yang kecewa dan marah adalah pendukung klub yang ditinggalkan pujaan hati mereka. Pendukung klub kan manusia juga, lebih baik sakit gigi daripada patah hati.

Itulah sebabnya para pendukung Arsenal marah kepada Cole dan memberikan gelar kepadanya “Cashley Cole”. Pendukung Arsenal yakin bahwa Cole adalah pesepakbola yang “mata duitan” dan kepindahannya ke Chelsea tidak lebih tidak bukan untuk memuaskan nafsu serakah terhadap gaji besar. Setali tiga uang, Figo dan Eto’o juga mendapat hujatan masing-masing dari para pendukung FC Barcelona dan Real Madrid. Bahkan, kemarahan pendukung Real Madrid sempat melampaui batas. Eto’o yang berasal dari Kamerun dan berkulit hitam seringkali menjadi sasaran empuk diskriminasi.

Dalam kasus Neuer, justru para pendukung Schalke 04 legowo. Adalah wajar bagi seorang kiper seperti Neuer bermain di level tertinggi di kompetisi Eropa. Bayern Muenchen adalah salah satu klub Jerman yang paling sering bermain di Liga Champion. Penting bagi Neuer untuk meningkatkan kompetensinya dan merasakan persaingan di level tertinggi. Hasil yang diharapkan tentu bukan untuk Neuer sendiri, tetapi timnas sepakbola Jerman juga akan mendapatkan “barokah” jika kompetensi Neuer meningkat dan telah teruji di kompetisi level tertinggi.

Tetapi manusia adalah makhluk yang absurd. Tidak selalu pertimbangan rasional dapat diterima, entah dengan alasan apapun. Yang aneh dan tidak masuk akal selalu mungkin terjadi di dunia. Rafael Nadal – petenis yang “jagoan” bertanding di lapangan tanah liat – adalah asli orang Barcelona. Tetapi apa yang terjadi?. Alamak, Nadal adalah bobotoh Real Madrid!.

Alasan penolakan pendukung Bayern kepada Neuer dilandasi sentimen kedaerahan. Orang-orang Bayern selalu merasa lebih istimewa dibandingkan orang Jerman lainnya. Meskipun orang-orang Bayern tidak memiliki semangat separatisme “separah” orang-orang Catalan Barcelona dan Basque (keduanya di Spanyol), “arogansi” Bayern tetap kuat di kehidupan masyarakat Jerman, termasuk di dunia sepakbola.

Alasan penolakan terhadap Bayern adalah karena Neuer bukan putra daerah Bayern. Padahal, sebagai klub sepakbola profesional idaman di Jerman, sudah lumrah diversitas akan terjadi di Bayern. Lagi pula, kiper-kiper andalan Bayern sebelumnya juga bukan “putra daerah” asli. Sebut saja ?Hans-Jorg Butt (orang Oldenburg, daerah di negara bagian Bremen), dan Oliver Kahn yang berasal dari Karlsruhe.

Secara sosiologis, manusia dipersatukan oleh kesamaan darah, daerah, dan pemikiran / keyakinan. Ferdinand Toennies, sosiolog berkebangsaan Jerman, memberikan istilah untuk ketiga hal tersebut gemeischaft of blood, gemeinschaft of locality, dan gemeinschaft of minds. Biasanya, orang lain yang tidak memiliki kesamaan darah, tidak berasal dari daerah yang sama, dan juga tidak satu pemikiran / keyakinan, dikelompokkan sebagai “bukan orang kita”.

Heterogenitas masyarakat memang dapat “mencairkan” kekakuan terhadap batas-batas darah, daerah dan keyakinan. Meminjam istilah yang diperkenalkan oleh Michael Gorbachev, glasnost (keterbukaan) dan perestroika (reformasi) yang menghembuskan wind of change tidak hanya merobohkan tembok Berlin, melainkan juga membongkar “tembok sosial” di antara manusia.

Sejak November 1989 Jerman memang bersatu kembali. Tetapi sebagaimana masyarakat di negara lain, semangat untuk berbeda tetap tidak dapat dihilangkan. Perbedaan asal-usul darah, kedaerahan, dan keyakinan memang tidak akan pernah hilang. Perbedaan-perbedaan itu akan semakin jelas manakala sudah diletakkan dalam konteks kepentingan.

Batas antara kita dan bukan kita akan semakin jelas pada saat manusia memperjuangkan kepentingannya. Pada saat kepentingan menjadi “panglima”, akan banyak orang yang “dieliminasi” dari “kita”. Peribahasa “sekali lancung seumur hidup orang tak percaya” juga berlaku : sekali orang melakukan kesalahan, maka ia bukan lagi bagian dari “kita”. Ketika susah maunya sama-sama, tetapi ketika sudah sukses, maka “kita” direkonstruksi.

Kepentingan memang tidak pernah mengenal lawan atau kawan. Selama kepentingan sama, lawan atau kawan sama saja. Tidak ada musuh dan sahabat abadi, yang ada adalah kepentingan abadi.

Bumi Serpong Damai, 18 Juni 2011.

 
Leave a comment

Posted by on June 20, 2011 in Selasar

 

Teknologi, Struktur dan Pekerjaan

Sudah sering dibahas, bahwa teknologi memiliki pengaruh terhadap sikap dan perilaku manusia, baik pengaruh positif maupun negatif. Bahkan, dampak teknologi diyakini lebih jauh dari sekedar mempengaruhi sikap dan perilaku manusia. Teknologi mampu mengubah filosofi manusia terhadap manusia, makhluk hidup lainnya dan alam raya.
Dalam bukunya yang berjudul “Alone Together”, penulis Sherry Turkle (2011) mengatakan bahwa “teknologi membuat manusia mempunya pola interaksi sosial yang aneh.” Berdasarkan sebuah penelitian di AS, orang mengaku kini memiliki lebih sedikit sahabat meskipun terhubung dengan banyak teman maya di Facebook. Teknologi juga membuat orang lebih senang berkomunikasi dengan teks daripada percakapan. Mengapa? Karena seluruh kendali komunikasi ada dalam genggamannya. Kapan pun ia boleh memulai dan menghentikan kontak itu. (Kompas Minggu, 12 Juni 2011).
Dengan memanfaatkan teknologi, manusia menjadikan lingkupan hidup menjadi korban keganasannya. Sistem TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia) memang “memaksa” para pemegang HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di hutan tropis Indonesia untuk menebang pohon dengan diameter minimum 50 cm. Asal tahu saja, setiap tahun diameter pohon berkembang 1 cm. Artinya, untuk memiliki diameter 50 cm, dibutuhkan waktu 50 tahun. Sebuah teknologi yang relatif sederhana bernama chain saw mampu merobohkan sebuah pohon yang berdiri kokoh selama 50 tahun hanya dalam hitungan menit.
Perubahan hutan tropis Indonesia yang semula “gondrong” menjadi “gundul” menunjukkan bahwa, kemudahan teknologi sederhana seperti chain saw mampu membuat karakter manusia yang sudah greedy sejak dari sononya menjadi tambah serakah. Teknologi bahkan seringkali mampu membuat orang menjadi arogan. Sebuah teknologi telepon genggam yang relatif canggih misalnya, benda yang sejatinya berfungsi sebagai alat komunikasi yang mampu menyiasati ruang dan waktu, “dipelintir” sedemikian rupa menjadi simbol status yang dapat memenuhi tujuan redefining success.

Kehadiran teknologi juga berpengaruh banyak terhadap dunia kerja, baik dampak positif maupun negatif. Dalam artikel ini, hanya akan dibahas dampak teknologi terhadap struktur organisasi, pekerjaan dan tempat kerja.

Teknologi dan Struktur Organisasi.
Mengapa di berbagai negara terdapat kecenderungan, bahwa struktur organisasi kepolisian cenderung lebih “gemuk” dibandingkan dengan struktur organisasi militer, baik itu angkatan darat, udara dan laut?. Mengapa struktur organisasi angkatan udara di berbagai belahan dunia cenderung relatif lebih “ramping” dibandingkan struktur organisasi angkatan laut, dan terutama angkatan darat?

Teknologi memang memiliki pengaruh terhadap struktur organisasi. Dalam buku mereka yang berjudul Contemporary Management (2006), Jennifer M. George dan Gareth R. Jones menyebutkan ada empat faktor yang mempengaruhi struktur organisasi, yaitu strategi organisasi, lingkungan organisasi, teknologi dan (kompetensi / kapabilitas) sumber daya manusia.

Kehadiran teknologi berpengaruh terhadap struktur organisasi. Dalam masyarakat industri struktur organisasi cenderung bersifat mekanistik, antara lain struktur organisasi fungsional dan divisional. Dalam masyarakat informasi, struktur organisasi cenderung bersifat organistik, sebagaimana diperlihatkan gambar 1 sebagai berikut :

Perbandingan karakteristik struktur organisasi mekanistik dan organik ditunjukkan dalam tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1. Perbandingan Struktur Organisasi Mekanistik dan Organik

Tugas-tugas seorang polisi pada dasarnya lebih banyak berhubungan dengan manusia. Tidak semua bentuk pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat dapat digantikan oleh teknologi. Tetap diperlukan komunikasi tatap muka antara polisi dengan individu dan masyarakat. Karena itu, ada rasio ideal antara jumlah polisi dan penduduk.

Tugas-tugas angkatan udara? pada prinsipnya heavy-techology. Artinya, kehadiran teknologi adalah mutlak untuk menunjang tugas-tugas yang berkaitan dengan pertahanan udara. Demikian juga dengan angkatan laut, relative membutuhkan teknologi dibandingkan dengan angkatan darat. Sebuah kapal induk Nimitz yang berawak 20.000 pasukan dan selalu mobile untuk mengamankan wilayah yang cukup luas semakin menegaskan bahwa kehadiran teknologi dalam matra laut adalah mutlak.

Teknologi dan Pekerjaan.

Di negara berpenduduk relatif padat seperti Indonesia, barangkali tidak ada benda yang menakutkan kecuali produk budaya bernama teknologi. Dalam konteks pekerjaan, kehadiran teknologi memang tidak selalu ramah.

Pada prinsipnya, manusia tetap membutuhkan kehadiran teknologi dan berpendapat bahwa “sampai batas-batas tertentu” teknologi lebih banyak manfaatnya ketimbang mudharatnya. Tidak pernah terbayangkan bagaimana dunia kedokteran tanpa kehadiran teknologi kedokteran. Tidak terbayangkan bagaimana media massa dapat berkembang pesat tanpa kehadiran teknologi di bidang media.

Tetapi teknologi juga menjadi musuh abadi bagi manusia. Kemampuan teknologi untuk menggantikan manusia dan mengerjakan tugas-tugas yang semula hanya dapat dilakukan manusia, sungguh merupakan pukulan telak bagi manusia yang hanya bekerja dengan mengandalkan otot dan tenaga fisiknya saja.

Itulah sebabnya, di negara yang digolongkan sedang berkembang, jargon “teknologi tepat guna” dikedepankan untuk melindungi manusia dari kehilangan pekerjaan. Itulah sebabnya, meskipun di dunia Barat sudah ada teknologinya, teknologi itu “dilarang” masuk agar sistem kerja padat karya? tetap dapat dipertahankan. Siapapun penguasa di republik ini akan senang jika tingkat pengangguran tidak mencapai dua digit.

Teknologi dan Tempat Kerja.

Bill Gates mengatakan bahwa saat ini manusia hidup dan bekerja di era ?era “web lifestyle” (gaya hidup internet) dan “web workstyle” (gaya kerja internet). Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih memang mampu membuat dunia menjadi “rata”? (“the world is flat”, kata Thomas L. Friedman) dan “global village” ?(Marshall McLuhan). ?Semua menjadi serba dekat dan “ramalan” Alvin Toffler tentang dunia kerja yang berubah menjadi kenyataan.

Dalam bukunya yang berjudul “Future Shock” dan “The Third Wave”, ?Toffler mengemukakan bahwa dalam setiap masyarakat akan terdapat perbedaan gaya perkerjaan. Toffler membagi perkembangan masyarakat menjadi tiga, yaitu masyarakat agraris, masyarakat industri, dan masyarakat informasi.

Dalam konteks pekerjaan, perbedaan antara ketiga jenis masyarakat itu antara lain dapat disederhanakan dalam hal tempat tinggal dan tempat kerja. Dalam masyarakat agraris, tempat tinggal dan tempat kerja menjadi satu. Dalam masyarakat industri, tempat tinggal dan tempat kerja berada di tempat yang terpisah. Tempat tinggal semakin menjauh dari tempat tinggal dan berada di kantor-kantor dan pabrik-pabrik. Sedangkan dalam masyarakat informasi, berkat dukungan teknologi informasi dan komunikasi, tempat tinggal dan tempat kerja “rujuk”? kembali dan berada di tempat yang sama, yaitu tempat tinggal.

Melalui sistem kerja yang dinamakan telecommuting, dimungkinkan karyawan dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu bekerja dari rumahnya. Pemborosan waktu untuk perjalanan pergi dan pulang dari tempat tinggal ke tempat kerja dapat dikurangi. Lebih dari itu, barokah yang lebih besar adalah semakin banyak waktu bagi para pekerja untuk berkomunikasi dengan keluarganya dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Dengan kata lain, Toffler berusaha menunjukkan bahwa kehadiran teknologi, jika dimanfaatkan secara tepat, dapat membuat kehidupan dan pekerjaan manusia lebih manusiawi.

Bumi Serpong Damai, ?12 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 15, 2011 in Management

 

Lingkungan Organisasi dan Struktur Organisasi

Meskipun telah terjadi perubahan zaman dalam masyarakat dari masyarakat agraris ke masyarakat industrialis dan kemudian masyarakat pengetahuan, bentuk-bentuk struktur organisasi pada umumnya masih bertahan menggunakan struktur organisasi fungsional dan divisional.

Padahal, seperti dikemukakan oleh Alfred J. Chandler, struktur harus mengikuti strategi. Artinya, jika strategi berubah, maka struktur organisasi juga harus diubah sehingga menjadi struktur organisasi yang efektif untuk mengeksekusi strategi.

Bahkan, jika lingkungan organisasi berubah, maka struktur organisasi juga harus beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan organisasi. Di zaman agraris dan industrialisasi faktor-faktor produksi adalah modal, tanah, dan tenaga kerja.? Di era pengetahuan, faktor pengetahuan menjadi faktor produksi yang penting di samping faktor produksi konvensional. Perubahan faktor produksi tersebut membutuhkan struktur organisasi yang berbeda sehingga faktor-faktor produksi dapat dikelola secara efektif dan efisien.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Struktur Organisasi.

Menurut Jeniffer M. George dan Gareth R. Jones, ada 4 faktor yang mempengaruhi struktur organisasi, yaitu lingkungan organisasi, teknologi, sumber daya manusia, dan strategi organisasi, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut :

Pokok bahasan tulisan ini adalah hubungan antara lingkungan organisasi dan struktur organisasi. Dalam hal ini, lingkungan organisasi ditempatkan sebagai variabel bebas (independent variable) yang mempengaruhi struktur organisasi (sebagai dependent variable)

Karakteristik Lingkungan.

Dengan menggunakan variabel derajat kompleksitas (sederhana dan kompleks) dan variabel derajat perubahan (stabil dan dinamis), maka akan diperoleh empat jenis lingkungan organisasi, yaitu :

  1. Simple – Stable, yaitu lingkungan yang relatif sederhana (tidak kompleks) dan relatif stabil (perubahan yang terjadi relatif kecil, baik dalam skala dan dampaknya).
  2. Simple – Dynamic, yaitu lingkungan yang relatif sederhana tetapi dengan tingkat perubahan relatif dinamis.
  3. Complex – Stable, yaitu lingkungan yang relatif kompleks tetapi relatif stabil; dan
  4. Complex – Dynamic, yaitu lingkungan yang relatif kompleks dan disertai dengan tingkat perubahan lingkungan yang relatif dinamis.

Dalam buku Fundamentals of Management, Mary Coulter dan Stephen P. Robbins (2007) merangkum hubungan antara tingkat kompleksitas lingkungan dan tingkat perubahan lingkungan organisasi, serta karakteristik masing-masing lingkungan organisasi dalam gambar sebagai berikut :

Bentuk-Bentuk Organisasi vs Lingkungan.

Tidak semua bentuk struktur organisasi sesuai untuk setiap jenis lingkungan organisasi. Struktur organisasi relatif lebih sesuai atau efektif untuk menyikapi jenis lingkungan tertentu. Karena itu, jika lingkungan organisasi berubah, adalah penting memahami karakteristik lingkungan organisasi yang baru sehingga organisasi dapat beradaptasi dengan membuat struktur organisasi yang lebih sesuai untuk menghadapi peluang dan ancaman di lingkungan yang baru.

Dari empat jenis lingkungan organisasi maka dapat didesain struktur organisasi yang sesuai dengan masing-masing lingkungan, yaitu struktur organisasi sederhana, fungsional, divisional, matriks / tim / networks. Hubungan antara lingkungan organisasi dan struktur organisasi ditunjukkan dalam gambar berikut (PPM School of Management, 2002) :

Struktur organisasi sederhana sesuai dengan lingkungan organisasi yang sederhana dan perubahan lingkungan relatif dinamis. Struktur organisasi fungsional sesuai dengan lingkungan organisasi yang sederhana dan relatif stabil. Struktur organisasi divisional sesuai dengan lingkungan organisasi yang relatif kompleks tetapi dengan tingkat perubahan relatif kecil (stabil). Sedangkan struktur organisasi Matriks / Tim / Networks? sesuai dengan lingkungan organisasi yang kompleks dan tingkat perubahan yang dinamis.

Bumi Serpong Damai, 8 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 13, 2011 in Management

 

Kolesterol dan Asam Lemak Jenuh

Kolesterol adalah suatu substansi seperti lilin yang berwarna putih, secara alami ditemukan di dalam tubuh kita. Kolesterol diproduksi di hati, fungsinya untuk membangun dinding sel dan membuat hormon-hormon tertentu.

Tubuh kita sebetulnya akan menghasilkan sendiri kolesterol yang kita perlukan. Tetapi, karena produk hewani yang kita konsumsi, menyebabkan banyak orang memiliki kelebihan kolesterol.

Kadar kolesterol yang berlebihan di dalam darah merupakan penyebab utama dari penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah. Kolesterol membentuk bekuan dan plak yang menyumbat arteri dan akhirnya memutusksn aliran darah ke jantung (menyebabkan serangan jantung) dan ke otak (menyebabkan stroke).

Dengan menurunkan kadar kolesterol, anda bisa menghentikan pembentukan plak di dalam arteri dan menyusutkan bekuan yang sudah terbentuk.

Jika anda pernah mengalami suatu serangan jantung atau pembedahan bypass, kadar kolesterol anda harus diperiksa secara rutin. Menjaga kadar kolesterol tetap rendah merupakan jaminan terbaik untuk melawan penyumbatan pembuluh darah arteri.

Memahami Kadar Kolesterol
Kadar kolesterol terbagi menjadi 2 (dua) bagian:
? Kolesterol HDL (High-Density Lipoprotein), merupakan “kolesterol baik” karena kemampuannya untuk membersihkan pembuluh darah arteri.

? Kolesterol LDL (Low-Density Lipoprotein) atau “kolesterol jahat” yang membuat endapan dan menyumbat arteri.
Kadar kolesterol HDL diatas 60 berarti sangat baik. Makin tinggi kadar kolesterol HDL, makin rendah resiko untuk mendapat serangan jantung atau stroke. Kadar kolesterol LDL yang baik adalah lebih rendah dari 130, dan semakin rendah, akan semakin baik.

Pemeriksaan kadar kolesterol paling baik dilakukan setelah berpuasa selama 12 jam. Pemeriksaan darah juga akan mengukur komponen darah seperti trigliserida. Seperti halnya kolesterol, trigliserida merupakan sejenis lemak yang ditermukan di dalam makanan seperti daging, keju, ikan dan kacang-kacangan dan juga dibuat sendiri oleh tubuh.

Bagaimana menurunkan kadar kolesterol?

Berikut ini cara menurunkan kadar kolesterol, yaitu :
? Berolah raga secara teratur.

? Menjaga berat badan yang sehat.

? Mengurang jumlah alkohol, karbohidrat dan lemak jenuh dalam makanan.

? Banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, roti gandum, sereal dan buncis.

? Hanya mengkonsumsi susu skim, keju, krim asam dan yogurt yang rendah lemak.

? Konsumsi/pilihlah daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit dan ikan.

? Menghindari makanan yang banyak mengandung lemak dan kaya akan kolesterol, seperti kentang goreng dan makanan cepat saji lainnya, tortila, sosis, daging babi, hot dog, kue, kue kering dan hidangan pencuci mulut lainnya.

? Jangan menggoreng makanan anda, tapi masaklah dengan microwave, direbus, dipanggang atau dibakar.

? Hindari juga lemak jenuh, yang terdapat di dalam daging atau produk hewan lainnya. Lemak jenuh meningkatkan kadar kolesterol darah, meskipun makanan yang mengandung lemak jenuh diberi label “bebas kolesterol”. Contohnya, kue bebas kolesterol mungkin kaya akan lemak jenuh seperti minyak palem atau minyak kelapa, yang akan menaikkan kadar kolesterol anda.

? Tidak ada anjuran mengenai jumlah asupan total lemak perhari. Meskipun demikian, anda harus mencoba untuk membatasinya sampai 30% atau kurang dari total kalori setiap harinya dan lemak yang berasal dari lemak jenuh harus kurang dari 10%.
Bagaimana mengurangi lemak jenuh dalam makanan?

Berikut ini cara bagaimana mengurangi lemak jenuh dalam makanan, yaitu:
? Kurangi produk hewan yang berlemak dalam makanan anda, seperti hamburger, daging babi, sosis dan jeroan (hati, otak, ginjal).
? Bacalah label secara seksama dan hindari makanan yang mengandung minyak sayur yang terhidrogenasi, mentega coklat, minyak palem atau minyak kelapa, lemak sapi dan lemak babi.

? Lepaskan kulit dari unggas dan hilangkan lemak dari dagingnya sebelum dimasak.

? Siapkan minimal satu kali makan tanpa daging setiap harinya.

? Gunakan susu skim atau susu rendah lemak dan produk-produknya.

? Nikmatilah makanan kecil bebas lemak, termasuk pretzel (kue kering asin), popcorn (jagung berondong) dan buah-buahan.

? Hindari permen dan hidangan penutup, terutama yang mengandung coklat, yang terbuat dari gula merah dan mentega dan karamel.

? Masaklah telur bagian putihnya saja.

? Hindari makanan siap saji (kue, kue kering dan pastel) yang dijual di toko-toko.

? Masak dan pangganglah makanan dengan menggunakan minyak sayur seperti kanola, bunga matahari, jagung, kedelai dan minyak zaitun.

? Buatlah saus salad anda sendiri dengan menggunakan minyak-minyak di atas.

? Gunakanlah margarin yang ringan/lembut.

Menurunkan berat badan, juga akan membantu

Apakah anda kelebihan berat badan ? Jika ya, menurunkan berat badan akan membantu anda menurunkan kadar kolesterol. Yang paling baik adalah penurunan sebanyak ? -1 kg/minggu, karena hal ini biasanya menunjukkan bahwa anda sudah merubah kebiasaan makan anda menjadi lebih baik.

Sebaiknya anda menghindari diet yang berlebihan, penggunaan pil atau larutan penurun berat badan. Berolah raga juga akan membantu menurunkan berat badan dan kadar kolesterol anda.

Latihan yang baik meliputi berjalan, joging, bersepeda, berenang, aerobik dan dansa. Cobalah untuk menemukan kegiatan yang anda sukai dan lakukanlah 3-4 kali/minggu selama 20-30 menit setiap kalinya.

Obat-obatan yang diresepkan
Jika dokter anda memberikan resep obat untuk menurunkan kolesterol, minumlah sesuai petunjuk dan aturan. Ada beberapa obat penurun kadar kolesterol yang juga menurunkan kadar trigliserida.

Bila anda menderita penyakit hati atau keadaan lainnya yang membuat anda tidak dapat mengkonsumsi obat penurun kadar kolesterol, niasin (vitamin B3) dosis tinggi (1000-2000 mgr/hari) bisa membantu menurunkan kadar kolesterol anda. Mintalah kepada dokter anda untuk membantu memulainya pada dosis yang rendah dan menaikkannya secara bertahap.

Sumber : http://medicastore.com/stroke/Kolesterol_Asam_Lemak_Jenuh.php; diunduh pada tanggal 6 Juni 2011.

 
Comments Off on Kolesterol dan Asam Lemak Jenuh

Posted by on June 10, 2011 in Body | Mind | Soul

 

Nilai Transfer Pesepakbola

Akhirnya Michael Neuer, saat ini penjaga gawang nomor 1 timnas sepakbola Jerman, berlabuh ke klub Bayern Muenchen. Setelah melalui perundingan alot dan panjang, Schalke 04 dan Bayern Muenchen sepakat jual beli pemain di angka 15 juta Euro. Apakah harga itu layak untuk seorang Michael Neuer (sebelumnya Schalker mematok harga tranfer Neuer adalah 25 juta Euro)? Tulisan ini berusaha menjelaskan harga pesepakbola yang pada umumnya dapat dibedakan menjadi harga obyektif dan harga subyektif.

Jika orang yang ditanya adalah Oliver Khan – mantan penjaga gawang timnas sepakbola Jerman dan klub Bayern Muenchen – pasti bilang terlalu mahal. Khan bahkan sudah mengingatkan para petinggi Bayern Muenchen untuk tidak bertindak ceroboh memboyong Neuer dengan harga terlalu tinggi. Sebab, musim panas 2012 kontrak Neuer dengan Schalke 04 akan berakhir. Sesuai dengan aturan yang berlaku di FIFA, pemain yang berakhir kontraknya dengan sebuah klub berada dalam status bebas transfer. Artinya, asalkan mau sabar sebentar, Bayern dapat memiliki Neuer tanpa harus mengeluarkan uang sepersenpun.

Apa yang disarankan Khan adalah benar. Hanya saja, situasinya tidak ceteris paribus. Masih banyak klub sepakbola lain yang berminat memboyong Neuer. Klub Manchester United sudah pasti harus mencari pengganti Edwin van der Saar yang sudah menyatakan pensiun pada akhir musim kompetisi 2010/2011. Calon yang digadang-gadang pantas menggantikan van der Saar adalah Neuer dan David de Gea (penjaga gawang utama klub Atletico Madrid, Spanyol).

Dalam situasi ini, berlaku “teori gek-gek” atau “teori jangan-jangan”. Saat ini klub Bayern dan MU sama-sama butuh penjaga gawang utama. Meskipun tahu bahwa musim depan Neuer pasti akan berada dalam status bebas kontrak, sulit bagi Bayern untuk mengabaikan fakta bahwa ada MU yang juga sangat membutuhkan penjaga gawang utama dan sangat berminat kepada Neuer. Nah ini dia, jangan-jangan MU berhasil memboyong Neuer.

Probabilitas itu pasti ada, meskipun tidak ada satu orangpun yang dapat memastikan tingkat probabilitas kepindahan Neuer ke MU. Neuer memang pernah menyatakan tidak terlalu tertarik kepada MU. Secara psikologis, Neuer lebih merasa nyaman bergabung dengan Bayern yang secara tradisi selalu memiliki pemain yang bermain untuk timnas Jerman. Toh peribahasa sudah mengatakan bahwa birds of a feather flock together. Tetapi, apa yang tidak mungkin di dunia dan dalam sepakbola? Seorang perjaka imut-imut bisa saja tertarik dengan janda kembang tetapi kaya raya. Harga transfer dan gaji dapat membuat seorang pesepakbola berubah pendirian.

Yang sudah pasti, Schalke 04 dalam posisi untung. Meskipun Schalke 04 sempat bertahan pada angka 25 juta Euro, merelakan Neuer hijrah ke Bayern dengan harga 15 juta Euro tidak bisa dibilang rugi. Di sini berlaku teori time value of money. Semakin mendekati akhir musim panas tahun 2012, Schalke semakin berisiko kehilangan Neuer tanpa mendapatkan uang sepeserpun.

Schalke 04 hanya memiliki kesempatan mentransfer Neuer pada musim panas 2011 dan musim dingin 2012 (pada bulan Januari, biasa disebut sebagai “jendela transfer”). Sudah pasti harga Neuer pada jendela transfer akan lebih rendah dibandingkan jika ditransfer pada musim panas saat ini. Jadi, dalam proses transfer Neuer, bargaining position dan bargaining power Schalke 04 tidak lebih baik dibandingkan Bayern.

Schalke 04 mungkin belajar dari klub Werder Bremen yang melego Mezut Oezil ke klub Real Madrid. Pada saat itu, bargaining position dan bargaining power Bremen relatif mirip dengan Schalke 04. Meskipun Bremen sangat membutuhkan Oezil, Bremen lebih rela kehilangan Oezil. Sulit bagi Bremen menolak tawaran Real Madrid yang bersedia menebus Oezil dengan harga transfer 15 juta Euro. Daripada melepas Oezil dalam status bebas transfer, Bremen memilih menerima 15 juta Euro. Jumlah uang yang relatif cukup untuk membeli satu atau dua pemain baru yang levelnya di bawah Oezil.

Uraian di atas menjelaskan proses pembentukan harga seorang pesepakbola dari sisi kedua klub. Bargaining position dan bargaining power klub-klub pesepakbola yang memperebutkan seorang pesepakbola akan membentuk harga subyektif. Harga seorang pemain sepakbola juga dibentuk oleh kualifikasi pesepakbola itu sendiri dan harga yang disepakati relatif lebih obyektif.

Ada beberapa variabel yang membentuk harga obyektif pesepakbola, yaitu kualifikasi pesepakbola (kemampuan teknis, fisik dan stamina, dan mentalitas), kinerja pada dua tahun terakhir (minimal satu tahun terakhir), sisa jangka waktu kontrak dengan klubnya saat ini, dan umur.

Kemampuan Teknis, Fisik dan Stamina, dan Mentalitas.

Harga transfer Zinedine Zidane dan Christiano Ronaldo dihargai sangat mahal karena kedua pemain tersebut memiliki kemampuan teknis, fisik dan stamina, dan mentalitas terbaik pada masanya. Real Madrid memboyong Zidane dari Juventus dengan harga 76 juta Euro. Sekali lagi Real Madris memecahkan rekor transfer Ronaldo dari MU dengan harga 94 juta Euro (senilai Rp. 1,3 triliun)

Real Madrid juga mendapatkan kontribusi yang pantas dari Zidane dan Ronaldo. Zidane menyumbang beberapa gelar untuk Madrid. Ronaldo memang baru memberikan gelar hiburan Copa del Rei untuk Madrid, tetapi kinerjanya di Madrid dua musim terakhir menunjukkan kualitas teknis, fisik dan stamina dan mentalitas Ronaldo.

Sesungguhnya, Ricardo Kaka (playmaker timnas sepakbola Brazil) juga pesepakbola hebat. Harga transfer Kaka relatif “jatuh” karena faktor fisik dan stamina (Kaka relatif lebih rentan terhadap cidera). Meskipun kualifikasi teknis dan mental Kaka dapat diandalkan, faktor fisik dan staminanya diragukan. Faktor teknis dan mental tidak bermanfaat apapun ketika seorang pesepakbola dalam kondisi cidera atau rentan terhadap cidera. Klub akan menghadapi risiko kehilangan kesempatan untuk memainkan pesepakbola yang rentan terhadap cidera dalam level kompetisi tinggi dan ketat.

Tidak ada yang meragukan kemampuan teknis, fisik dan stamina Mario Balotelli. Itulah sebabnya klub Manchester City rela menggelontorkan dana sejumlah 29 juta Euro untuk menebus Balotelli dari Inter Milan. Sayang sekali kemampuan mental Balotelli tidak berkembang sebagaimana mestinya seorang pesepakbola profesional. Di luar dan di dalam lapangan sepakbola Baloteli sama saja, selalu bertingkah dan membuat onar. Tidak jarang Balotelli mendapat kartu merah yang sangat merugikan timnya. Saat ini, tidak ada klub yang berminat terhadap Balotelli.

Kinerja.

Sebelum memperkuat timnas sepakbola Jerman, Mezut Oezil “hanya” seorang pesepakbola di klub Werder Bremen. Kesempatan bermain di timnas juga diwarnai oleh “keberuntungan”, yaitu saat beberapa pemain senior timnas Jerman (terutama gelandang) didera cidera. Joachim Loew, pelatih timnas Jerman, tidak memiliki pilihan lain kecuali memainkan beberapa pemain muda, salah satunya adalah Mezut Oezil.

Oleh para pelatih dan pemerhati sepakbola, penampilan Oezil di Piala Dunia 2010 yang lalu dinilai luar biasa. Oezil bahkan menjadi salah satu ruh dari timnas Jerman untuk PD 2010. Kinerjanya yang luar biasa berdampak pada proses pembentukan harga transfer. Setelah PD 2010, harga Oezil meningkat menjadi 15 juta Euro (pada tahun 2008 Bremen membeli Oezil “hanya” 4,25 juta Euro). Jika mengingat bahwa musim panas 2011 kontrak Oezil dengan Werder Bremen berakhir, harga transfer Oezil termasuk luar biasa.

Boleh jadi kinerja Oezil yang luar biasa di PD 2010 bukan satu-satunya variabel yang mempengaruhi pembentukan harga transfer. Usia Oezil memang relatif muda, tetapi Oezil sudah menunjukkan kematangan dan prestasi di level tertinggi. Faktor usia muda jelas merupakan value added, sebab klub yang memakainya berkesempatan untuk memanfaatkan kontribusinya untuk jangka panjang. Sementara dari sisi kemampuan teknis, fisik dan stamina, dan mental, Oezil sudah membuktikan di tingkat klub dan timnas Jerman.

Jangka Waktu Kontrak.

Jangka waktu kontrak pesepakbola dengan sebuah klub juga mempengaruhi harga transfer. Sehebat apapun kemampuan teknis, fisik dan stamina, dan mental dan secemerlang apapun kinerja seorang pesepakbola dalam dua tahun terakhir, klub-klub sepakbola tetap mempertimbangkan jangka waktu kontrak.

Dengan asumsi kemampuan teknis, fisik dan stamina, dan mental, serta kinerja pesepakbola dalam kondisi terbaik, berlaku aturan tidak terlulis sebagai berikut (i.) semakin lama jangka waktu kontrak pemain dengan sebuah klub, maka semakin tinggi harga transfer; (ii.) dan semakin pendek jangka waktu kontrak atau sisa waktu kontrak, maka semakin rendah harga transfer. Transfer Michael Neuer dan Mezut Oezil adalah contoh yang menjelaskan kedua hipotesa tersebut.

Tentu saja hipotesa tersebut tidak selalu demikian. Kemampuan teknis, fisik dan stamina, dan mental Rafael van der Vaart (biasa dipanggil VdV) relatif baik, tetapi tidak cocok dengan strategi kepelatihan Jose Mourinho. Real Madrid yang sudah “inflasi” gelandang, terpaksa “banting harga” pada saat window transfer 2011 dan melepas VdV ke Tottenham Hotspur. Semula Madrid mematok harga pasar VdV 18 juta Euro, tetapi Spurs berhasil menebusnya dengan harga 8 juta Euro saja.

Umur.

Menjadi pesepakbola profesional harus paham peribahasa “habis manis sepah dibuang”. Perbedaan antara seorang pahlawan dan pecundang relatif tipis. Faktor umur dapat menempatkan seorang pesepakbola dalam bargaining position dan bargaining power yang relatif lemah dibandingkan dengan klub. Pengecualian berlaku hanya untuk seorang penjaga gawang yang masih mampu beprestasi di usia 40 tahun.

MU, atau lebih tepat Ferguson, melepas David Beckham dan Roy Keane seolah-olah keduanya sudah tidak berharga lagi untuk MU. Padahal, dari segi usia, David Beckham dan Roy Keane sepantaran dengan Paul Scholes, Ryan Giggs, Gary Neville yang sampai musim kompetisi 2010/2011 ini masih bermain untuk MU.

Andrea Pirlo tak mampu menahan isak tangis ketika harus berpisah dengan AC Milan yang sudah dibelanya hampir 10 tahun. Selama memperkuat Pirlo sudah memberikan kontribusi kepada AC Milan meraih 2 kali Piala Champion dan Juara Liga Italia. Pada akhir musim kompetisi 2010/2011 kontrak Pirlo dengan Milan berakhir. Mengingat Pirlo sudah berusia 31 tahun, Milan hanya bersedia menawarkan kontrak perpanjangan 1 tahun. Pirlo menghendaki jangka waktu kontrak minimal 2 tahun. Karena tidak ada kesepakatan, Pirlo meninggalkan Milan, dan Milan merasa tidak kehilangan Pirlo yang telah membantu Milan meraih beberapa piala.

Proforma Financial Statement.

Penetapan besaran gaji dan harga transfer pesepakbola profesional sangat dinamis dan fluktuatif. Hal yang menarik adalah sebuah klub sepakbola profesional seperti FC Arsenal dan MUFC dapat menyusun proyeksi laporan keuangan berdasarkan prediksi besaran gaji dan harga pesepakbola setiap pemain.

Sesuai standar peraturan FIFA, setiap klub memiliki 25 pemain untuk tim utama (kadang-kadang disebut tim A) dan tim pelapis (tim B) yang juga berjumlah 25 pemain. Masing-masing pemain tersebut sudah memiliki harga pasar dan setiap tahun selalu terjadi perubahan harga pemain, naik atau turun.

Dengan demikian, return of investment dari manajemen talenta sebuah klub sepakbola sangat mudah diukur. Proses manajemen talenta di sepakbola dimulai dari pembibitan, pembinaan, latihan, dan pertandingan. Melalui keempat proses utama tersebut terbentuk harga gaji dan prediksi harga transfer seorang pesepakbola.

Arsenal dikenal sebagai klub yang sangat berhasil dalam proses manajemen talenta. Bahkan, Arsenal memiliki data umur setiap pemain muda yang sudah menjadi incarannya. Begitu pemain muda tersebut sudah berusia 16 tahun + 1 hari, Arsenal sudah siap dengan proposal kontrak.Arsenal juga dikenal “jagoan” dalam membeli pemain tidak terkenal dengan harga transfer relatif murah. Setelah “dipoles”, pemain tersebut berubah “kinclong” dan menjadi rebutan klub-klub sepakbola lainnya.

Pada tahun 2006, Arsenal membeli Emmanuel Adebayor dari klub AS Monaco, Perancis seharga 7 juta Euro. Musim kompetisi 2009/2010 (hanya berselang 3 tahun), Arsenal melego Adebayor ke Manchester City seharga 25 juta Euro!. “Otak” di belakang semua proses itu adalah Arsene Wenger. Bayangkan, melalui penjualan 5 orang pemain, Arsenal mendapatkan “keuntungan bersih” kurang lebih 83 juta poundsterling, sebagaimana diperlihatkan dalam tabel berikut :

Bumi Serpong Damai, 5 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 8, 2011 in Selasar

 

Never Change A Winning Team

Ada sebuah “mantra” di dunia olahraga yang diadopsi sebagian besar olahragawan dan pelatih, yaitu “never change a winning team”. Jika suatu team telah menunjukkan prestasi dan konsisten, maka kesimpulannya itulah team terbaik dan sedapat mungkin anggota-anggota team dipertahankan.

Mengapa “haram” mengubah a winning team? Friederike Mengel dari University of Maastricht, Belanda mengadakan penelitian dengan judul “Never change a winning team: The effect of substitutions on success in football tournaments”. Mengel (2009) mengatakan bahwa “We identify a strong and significant negative effect of substitution in (irrelevant) early games in world cup and olympic football tournaments on performance in later rounds. We argue that this effect is due to the psychological consequences of such a decision and evaluate alternative possible explanation.”

Ketika Valentino Rossi memutuskan “hijrah” ke tim pabrikan Yamaha, Rossi mengajukan syarat membawa tim mekanik yang sebelumnya pernah bekerja sama dengannya di tim pabrikan Honda. Tanpa kesulitan berarti Rossi berhasil meyakinkan para petinggi Yamaha untuk menerima tim mekanik satu “paket” dengan kepindahannya ke tim Yamaha. Terbukti kemudian Rossi berhasil 3? kali mempersembahkan kepada tim Yamaha juara dunia Motor GP untuk kelas 1000 cc (tahun 2004, 2005, dan 2008).

Hampir tidak ada perubahan yang signifikan antara skuad FC Barcelona (FCB) tahun 2009 dan tahun 2011, kedua skuad berhasil memboyong Piala Champion. Beberapa pemain inti tahun 2009 seperti penjaga gawang Victor Valdes, barisan pertahanan yang diisi oleh Dany Alves, Gerard Picquet, Carlos Puyol, Eric Abidal, barisan gelandang yang diperkuat oleh Xavi Hernandez, Sergio Busquets, Andreas Iniesta, S. Keyta, dan barisan penyerang yang terdiri dari Pedro Rodriguez, Lionel Messi, masih tetap bermain di final Liga Champion 2011.

Tidak banyak perubahan yang dilakukan oleh pelatih Guardiola terhadap the winning team 2009, kecuali memasukkan Javier Mascherano dan ?David Villa. Kecuali Messi, Mascherano, Abidal dan Keyta, para skuad FCB tersebut adalah para pemain yang memperkuat timnas Spanyol di Piala Dunia 2010 dan mengantarkan Spanyol untuk pertama kali menjadi juara dunia. Bahkan, kebersamaan dalam the winning team sudah dimulai sejak mereka masuk dalam skuad timnas Spanyol untuk Piala Eropa 2008.

Ferguson juga membawa skuad yang relatif sama dengan skuad yang berlaga di final Piala Champion 2009 melawan FCB, kecuali Javier “Chicharito” Hernandez dan Antonio Valencia. Tahun 2009 dan 2011, sebenarnya Ferguson membawa the winning team, sebab pada tahun-tahun itu MU menjuarai Liga Inggris. Tetapi sejatinya, di final Piala Champion 2011, Ferguson membawa the lossing team, yaitu team yang kalah melawan FCB di final Piala Champion 2009.

?

Effective Team.

Bersama kita bisa? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Sebuah group dan team memang bisa membuat segala sesuatu yang jika dikerjakan sendiri mustahil untuk dicapai, menjadi serba mungkin dan mudah dicapai. Menurut Jennifer George dan Gareth Jones (2006), sebuah kelompok dan tim dapat memperkuat kinerja, meningkatkan daya tanggap terhadap pelanggan, meningkatkan inovasi, dan meningkatkan motivasi dan kepuasan sehingga pada gilirannya akan menjadi keunggulan kompetitif. Hubungan antara kelompok dan tim dengan keunggulan kompetitif ditunjukkan melalui gambar berikut:

Tentu saja tidak semua tim yang dibentuk akan berhasil mewujudkan “bersama kita bisa”. Untuk menjadi sebuah tim pemenang, sebuah tim harus memenuhi kriteria efektif. Menurut Mary Coulter dan Stephen P. Robbins (2007), ada beberapa kriteria sebuah tim yang efektif, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut :

Itulah sebabnya, pebulutangkis Icuk Sugiarto pernah meminta “perlakuan khusus” ketika ia menyatakan hanya merasa “enjoy” saat dilatih oleh pelatih fisik Tahir Djide dan pelatih teknik Atik Jauhari. Beberapa olahragawan juga pernah mengalami hal yang sama ketika harus bekerja sama dengan tim pelatih teknik dan pelatih fisik. Di dunia sepakbola, seringkali seorang pemain tidak bersedia memperkuat timnas “hanya” gara-gara tidak cocok dengan karakter, strategi, dan gaya permainan seorang pelatih.

Beberapa kriteria tim yang efektif mungkin mudah untuk diwujudkan, antara lain clear goals, relevant skills, internal dan external support. Tetapi membangun mutual trust dan unified commitment dalam sebuah tim jelas bukan perkara yang mudah. Itulah sebabnya, dalam sebuah timnas sepakbola, cenderung diperkuat oleh mayoritas? pemain yang berasal dari klub yang sama (silakan baca Poros Bayern Muenchen dalam blog ini). Itulah sebabnya, sepakbola perlu mengadakan kejuaraan U-17 (under 17 years old), U-19, U-21, dan U-23 sebagai – meminjam istilah dalam talent management – acceleration pools dan sumber rekruitmen timnas senior.

Membangun the Winning Team.

Dalam legenda candi Roro Jonggrang dikisahkan tentang seorang pemuda bernama Bandung Bandawasa yang naksir berat seorang putri cantik dari kerajaan Wanasegara yang bernama Roro Jonggrang. Kemudian Bandawasa memberanikan diri untuk melamar Roro Jonggrang. Lamaran diterima, tetapi Roro Jonggrang mengajukan sebuah syarat yang “tidak masuk akal”. Roro Jonggrang bersedia menjadi istri Bandung Bandawasa asalkan Bandawasa sanggup membuat sebuah candi yang dilengkapi dengan 1000 patung.

Sejatinya, Roro Jonggrang bermaksud menolak lamaran Bandung Bandawasa. Tetapi karena ewuh pakewuh dan tidak terbiasa to the point, dibuatlah sebuah syarat yang tidak masuk akal. Asumsinya adalah Bandung Bandawasa tidak akan sanggup memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Di luar dugaan, Bandung Bandawasa menyanggupi “order” proyek pembangunan sebuah candi yang memiliki 1000 patung. Dalam waktu sangat singkat Bandung Bandawasa berhasil membentuk project team yang beranggotakan makhlus halus. Tak disangka-sangka, makhlus halus tersebut bekerja sangat efektif dan cepat sebagaimana layaknya tim mekanik lomba formula 1, terutama pada saat menangani pit-stop. Menjelang tengah malam, project team hampir menyelesaikan “order” sesuai dengan spec yang ditentukan.

Roro Jonggrang pun panik. Tetapi Roro Jonggrang sungguh beruntung, sebab kepanikannya tidak sampai menghilangkan kemampuannya untuk menggunakan akal bulus. Singkat kata, Roro Jonggrang siap dengan strategi berikutnya. Roro Jonggrang pun mengerahkan warga untuk memukul lesung dan membakar jerami yang dapat membuat ayam berkokok sebagai pertanda fajar telah tiba. Harapannya, Bandung Bandawasa terpengaruh dan gagal menyelesaikan proyek pembangunan candi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Karena mengira bahwa fajar telah tiba, maka para makhlus halus pun lari tunggang langgang dan tidak meneruskan pekerjaannya. Proyek yang digarap oleh Bandung Bandawasa menjadi berantakan. Sesuai tenggat waktu yang ditentukan, Bandawasa “hanya” berhasil membangun sebuah candi dengan 999 patung. Karena kurang 1 patung, maka Roro Jonggrang memiliki legitimasi untuk menolak Bandung Bandawasa.

Sebuah the winning team dapat dibangun dalam waktu satu malam hanya sebuah cerita, bahkan khayalan. Dalam kehidupan nyata, the winning team tidak mungkin dalam waktu satu malam. Dalam sejarah penyelenggaraan kejuaraan sepakbola piala dunia dan piala Eropa, Spanyol dikenal sebagai tim spesialis perempat final. Artinya, selama bertahun-tahun mengikuti piala dunia dan piala Eropa, prestasi terbaik Spanyol hanya sampai perempat final.

Tahun 2008 adalah untuk pertama kalinya timnas Spanyol berhasil melepaskan diri dari “kutukan” tim spesialis perempat final. Untuk pertama kalinya, Spanyol berhasil melewati semifinal piala Eropa, lolos ke final, bahkan menjadi juara piala Eropa. Demikian juga tahun 2010, untuk pertama kalinya timnas Spanyol berhasil melepaskan diri dari “kutukan” tim spesialis perempat final piala dunia, lolos ke semifinal, kemudian final, dan bahkan menjadi tim ketiga setelah Jerman dan Perancis yang berhasil meraih gelar juara dunia sepakbola setelah sebelumnya menjuarai piala Eropa.

Dalam sepakbola (tentu saja dalam cabang olah raga lainnya), the winning team dibangun selama bertahun-tahun. Beberapa pemain yang memperkuat timnas senior lazimnya adalah para pemain yang pernah bersama-sama memperkuat timnas U-17, U-19, U-21, dan U-23. Bahkan, beberapa pemain telah bersama-sama dalam satu team sejak mereka dididik di akademi sepakbola.

Meskipun setelah menjadi pesepakbola profesional mereka berpencar memperkuat klub yang berbeda-beda, mengumpulkan kembali mereka menjadi satu team yang efektif tidak terlalu sulit. Contoh nyata mengenai hal ini adalah Cecs Fabregas yang saat ini bermain untuk klub FC Arsenal, Inggris. Fabregas pernah dididik di La Masia (akademi sepakbola milik FCB) dan seangkatan dengan Messi, Picquet, Busquets dan Pedro. Karena itu, ketika para pemain FCB memperkuat timnas Spanyol di piala dunia 2010, mereka tetap mampu menjadi tim yang efektif.

Gerah terhadap prestasi tim Red Bull yang berhasil merebut juara dunia pembalap dan konstruktor tahun 2010, Ferrari sempat diterpa isu akan membajak mekanik Red Bull. Entah bagaimana realisasinya, tetapi jika memang benar Ferrari berhasil membajak tim mekanik Red Bull, saya jamin hasilnya tidak akan seketika. Pasti membutuhkan waktu dan usaha yang tidak ringan untuk membangun tim mekanik Ferrari yang merupakan perpaduan dari tim mekanik lama dan tim mekanik baru yang dibajak.

Tampak Siring, 4 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 6, 2011 in Management

 

The Dog and The Shadow

It happened that a Dog had got a piece of meat and was carrying it home in his mouth to eat it in peace. Now on his way home he had to cross a plank lying across a running brook. As he crossed, he looked down and saw his own shadow reflected in the water beneath. Thinking it was another dog with another piece of meat, he made up his mind to have that also. So he made a snap at the shadow in the water, but as he opened his mouth the piece of meat fell out, dropped into the water and was never seen more.

The moral of the story?

Beware lest you lose the substance by grasping at the shadow.

Source : aesopsfables.net concept and illustrations by Bethany Hamilton

 
 
slot 体育新闻| 8868体育| 8868体育| 体育新闻>| <蜘蛛词>| <蜘蛛词>| <蜘蛛词>| 8868体育| 8868体育| 8868体育|