RSS

Fear Motivation

Sejujurnya, saya? sama sekali tidak tertarik mendengarkan atau mengikuti ceramah tentang agama yang isinya hanya halal dan haram, pahala dan dosa, dan surga dan neraka.? Mengapa harus menggunakan metode fear motivation? Apakah tidak ada metode lain yang lebih membuat suasana lebih fun dan hati menjadi tenang?

Secara umum, dari sejak SD sampai saat ini, metode pengajaran agama yang mengandalkan fear motivation masih dipertahankan. Padahal, “Fear motivation coercions a person to act against will. It is instantaneous and gets the job done quickly. It is helpful in the short run.” (www.laynetworks.com). ?Pertanyaannya :

  • Apakah pernah diadakan penelitian, bahwa metode fear motivation menghasilkan kehidupan beragama yang lebih baik?
  • Apakah terbukti bahwa metode tersebut berhasil mengantarkan manusia menjadi saleh dan saleha?
  • Apakah ?sudah terbukti bahwa metode fear motivation berhasil menjadikan manusia naik tingkat ke jenjang yang lebih tinggi : dari muslimin, mukminin, mustaqim, mukhlisin, sampai muttaqien?

Jika memperhatikan sikap dan perilaku di jalan raya, sulit untuk mengatakan bahwa metode fear motivation berhasil menjadikan manusia lebih baik. Metode fear motivation juga tidak mampu mengendalikan laju pertumbuhan tindak pidana korupsi.

Metode membuat orang menjadi “jinak” dengan cara menakut-nakutin juga tidak mempan terhadap “ABG” (Academician, Businessman, dan Government). Bahkan Good Corporate Governance, Good Governance, dan berbagai Pakta Integritas tidak membuat “ABG” menjadi lebih baik. Entah berapa Kepala Daerah aktif yang terjerat kasus korupsi dan terbukti bersalah. Entah berapa menteri (dan mantan menteri) yang sudah dinyatakan bersalah di sidang Tipikor.

Bahwa metode fear motivation tidak menjadikan kehidupan beragama manusia menjadi lebih baik, bukan berarti metode tersebut salah. Juga tidak salah untuk melulu berceramah tentang halal haram, pahala dosa, dan surga neraka.

Picture courtesy of http://www.babiestoday.info

Analoginya adalah seorang ibu yang memberi makan dan minum susu kepada bayi. Jika si bayi menolak, sulit untuk makan atau minum susu, si ibu bisa saja menjelaskan kepada si bayi berbagai teori gizi dan kesehatan. Misalnya, si ibu mengatakan kepada si bayi bahwa “menurut penelitian ilmiah di negara-negara maju, makanan X,Y,Z mengandung vitamin-vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Atau, menurut Prof. DR. Bla Bla Bla, susu “ABC” mengandung berbagai vitamin untuk pertumbuhan dan daya tahan tubuh.”

Tidak ada yang salah dari isi penjelasan si ibu. Tetapi penjelasan seperti itu sama sekali tidak diperlukan. Apalagi, kemudian si ibu memaksa dan mengintimidasi si bayi. Bayi akan makan dan minum susu karena memang ia membutuhkannya dan fun, bukan karena ia berpikir bahwa jika ia makan dan minum susu maka ia akan menjadi sehat dan cepat tumbuh menjadi besar.

Tampak Siring,? 1 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on December 5, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Where Do I Begin?

Lao Tzu mengatakan bahwa “a journey of a thousand miles begins with a single step”. Pertanyaannya : dari mana memulainya? Langkah pertama selalu penting, tetapi langkah pertama tidak akan pernah terjadi tanpa tujuan yang pasti. Tujuan lah yang menentukan langkah pertama, dan bukan langkah pertama yang akan menentukan proses dan hasil akhir.

Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas dan proses apapun. Itulah sebabnya, mengapa “begin with end in the mind” sangat penting bagi setiap orang. Dalam bukunya yang berjudul 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey (2001 : 98) menjelaskan sebagai berikut :

To begin with the end in mind means to start with a clear understanding of your destination. It means to know where you’re going so that you better understand where you are now and so that the steps you take are always in the right direction.”

Mengetahui tujuan akhir adalah penting. Tanpa memahami tujuan yang akan dicapai, manusia tidak tahu ke mana akan melangkah. Manusia juga perlu membedakan antara tujuan dan konsekuensi.

Surga dan neraka bukan tujuan, melainkan konsekuensi. Surga dan neraka adalah reward dan punishment dari semua perbuatan yang telah di lakukan manusia di muka bumi. Pahala dan dosa juga bukan tujuan, melainkan konsekuensi dari perbuatan manusia, benar atau salah.

Tujuan manusia adalah kembali kepada Allah SWT. Tujuan manusia adalah mempertanggungjawabkan amanah yang telah dilaksanakan. Analoginya, manusia harus menghadapi semacam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa sekali dalam hidupnya. Dalam “RUPS” tersebut, manusia memberikan laporan pertanggungjawaban kepada “Pemegang Saham” (baca : Allah SWT) tentang amanah yang telah dijalankannya.

Amanah apa yang harus dipertanggungjawabkan manusia kepada Penciptanya? Ada 4 hal yang harus dipertanggungjawabkan manusia. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah saw. Bersabda :

“Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal : usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dia pergunakan.”

Manusia lebih terlatih untuk membuat rencana stratejik perusahaan daripada rencana stratejik kehidupan pribadi. Padahal, memiliki rencana stratejik pribadi sama pentingnya – atau bahkan lebih penting – dibandingkan rencana stratejik kehidupan perusahaan.

Image of KRI Dewaruci courtesy of http://www.siradel.blogspot.com

Misi dan Visi

Begin with end in the mind berarti menetapkan misi dan visi kehidupan. Misi dan Visi lebih sering ditemukan di tingkat negara, perusahaan, organisasi dan pimpinan (kepala negara, kepala daerah, pimpinan perusahaan, pimpinan organisasi dan lain sebagainya). Pada dasarnya, masing-masing orang juga boleh-boleh saja – bahkan harus – memiliki misi dan visi.

Sebagai pembanding, definisi misi dan visi untuk perusahaan adalah sebagai berikut :

  • Mission : defines the business , the needs of covering their products and services, the market in which it is developed and the public image of the company.

The mission of the company is the answer of the question : why does the organization exists?

  • Vision : defines and describes the future situation that a company wishes to have, the intention of the vision is to guide, to control and to encourage the organization as a whole to reach the desirable state of the organization.

The vision of the company is the response to the question of: What do we want our organization to be? (www.webandmacros.net)

Jika misi dan visi “ditarik” ke tingkat tingkat individu, maka pertanyaan yang dapat diajukan untuk misi adalah “untuk apa tujuan keberadaan manusia di muka bumi?” dan untuk visi adalah “manusia seperti apakah yang akan diwujudkan”.

Misi dan visi sangat penting bagi manusia. Sebab, misi dan visi mempertanyakan tentang tujuan dan manfaat keberadaan manusia di muka bumi dan target jatidiri manusia yang akan diwujudkan selama di muka bumi.

Tanpa misi dan visi, maka manusia tidak memiliki arah yang jelas untuk menjalankan berbagai aktivitas di muka bumi, dan dari mana ia harus memulai melangkah. Dengan memiliki misi dan visi yang jelas, maka manusia memiliki arah yang jelas akan ke mana ia akan menuju, dan aktivitas apa saja harus dan akan dilakukannya untuk merealisasikan misi dan visinya.

?

Bagaimana Menyusun Misi dan Visi Pribadi?

Menurut pendapat subyektif saya, misi dan visi setiap manusia di muka bumi adalah sama. Demikian juga nilai-nilai yang harus menjadi pedoman untuk menjalankan misi dan mencapai visi manusia. Semua sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an telah disebutkan misi manusia sebagai berikut :

  • “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 30)
  • “Dan Dia-lah yang menjadikanmu para khalifah di bumi.” (Qs. Al-An’am [6]: 165)
  • “Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]: 162)
  • ?“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Al-Dzariyyat [56]: 56)

Sedangkan visi manusia adalah menjadi manusia bertakwa. Visi manusia ?dapat dipahami dari firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai berikut : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS Al Hujuraat (49): 13).

Perbedaan manusia dalam hal jenis kelamin, suku, warna kulit, bahasa, kebudayaan dan lain sebagainya tidak menjadikan manusia memiliki misi dan visi yang berbeda-beda. Perbedaan manusia adalah dalam hal “how to” atau bagaimana merealisasikan misi dan visi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Setiap manusia boleh berbeda ?dalam hal strategi dan rencana kerja untuk mejalankan misi dan mencapai visi. Setiap manusia diberikan kebebasan untuk membuat strategi dan rencana kerja masing-masing untuk merealisasikan misi dan visi. Demikian juga setiap orang bebas untuk menentukan timeframe (penjadualan) dan sumberdaya yang digunakan untuk mencapai misi dan visi. Dengan menggunakan hati dan akalnya, manusia juga diberikan kebebasan untuk menentukan pendekatan dan metode untuk merealisasikan misi dan visi.

Manusia “hanya” diberikan “kisi-kisi” bagaimana untuk merealisasikan misi dan visi yang menjadi amanahnya. Perhatikan sabda Rasulullah SAW dalam dua hadits berikut :

  • ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).
  • ”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (HR. Bukhari).

Media dan kesempatan untuk menjadi manusia berakhlak mulia dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain tak terhitung jumlahnya. Mulai dari sekedar menyingkirkan paku di jalan raya, menyantuni anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa, mendirikan fasilitas pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat, dan lain sebagainya.

Dalam beramal saleh, jumlah bukan hal yang penting. Keikhlasan menjadikan amal saleh seseorang lebih berkualitas. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali : “Semua orang akan rusak, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pun akan rusak, kecuali orang yang beramal. Orang yang beramal pun akan rusak, kecuali yang ikhlas.”

Tampak Siring, 28 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on December 4, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Telling or Sharing

Ada kecenderungan manusia untuk selalu lebih dari orang lain : lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, lebih terhormat, lebih santun, dan sebagainya. Kecenderungan untuk lebih dari orang lain itulah kemudian yang seringkali dimanfaatkan oleh berbagai iklan.

Perhatikan kalimat-kalimat dari berbagai tips, rekomendasi, dan berbagai penawaran pelatihan (training).

  • “Seni Memotivasi Tim Anda”
  • “Seni Untuk Menjadi Pemimpin Yang Visioner”
  • “Seni Untuk Mempengaruhi dan Meyakinkan Orang Lain”.

Terhadap ketiga “kalimat seni” tersebut saya bertanya-tanya : bagaimana orang dapat memotivasi orang lain kalau memotivasi dirinya sendiri tidak bisa; bagaimana orang dapat memimpin orang lain kalau memimpin dirinya sendiri tidak bisa; dan bagaimana orang dapat meyakinkan orang lain kalau dirinya sendiri tidak pernah pe-de (percaya diri).

Menempatkan diri “lebih” dibandingkan orang lain adalah kesombongan, dan kesombongan adalah salah satu sumber dari kejahatan.

Pada awalnya Qabil dan Habil adalah manusia baik-baik. Maklum, babe mereka adalah Nabi Adam A.S. Qabil punya saudari kembar yang bernama Iqlima, dan Habil punya saudari kembar yang bernama Lubuda. Iqlima berparas lebih cantik ketimbang Lubuda.

Nabi? Adam A.S. mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk menikahkan kedua putranya, Iqbal akan dinikahkan dengan Lubuda, dan Habil akan dinikahkan dengan Iqlima. Keputusan tersebut ditolak Qabil yang menurutnya lebih pantas menikah dengan saudari kembarnya sendiri Iqlima yang lebih cantik. Singkat cerita, untuk memuluskan kemauannya, Qabil membunuh Habil.

Angkuh, Iri, Dengki, dan Sombong (AIDS) telah menuntun sikap dan perilaku Qabil. Betapa besar (dan berbahaya) pengaruh dan akibat yang ditimbulkan AIDS terhadap hati manusia.

Masyarakat di manapun di dunia mendambakan kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan. Perbedaan hanya dalam istilah bahasa yang digunakan. Orang Perancis menyebutnya sebagai Liberté, égalité, fraternité. Orang Inggris menyebut ketiganya sebagai Liberty, equality, fraternity. Sementara orang Jerman menyebut ketiganya dengan istilah Freiheit, Gleichheit, Brüderlichkeit. Subtansinya tetap sama, hanya berbeda istilah.

Saya lebih suka menggunakan istilah sharing daripada telling. Dalam sharing tidak ada superordinasi dan subordinasi, semua pihak “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi”. Sementara dalam telling, ada situasi salah satu pihak lebih tinggi dan pihak lain lebih rendah.

Lebih penting lagi adalah kesadaran memahami bahwa setiap benda selalu mengandung dua hal, yaitu energi (positif dan negatif) dan informasi. Dalam pandangan subyektif saya, sharing lebih mengandung energi positif dan telling lebih menebarkan energi negatif.

Dalam proses penyucian hati agar tetap dalam kondisi sesuai fitrahnya (suci, tenang dan ikhlas), kata sharing lebih tepat digunakan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui tingkat kesucian hati masing-masing. Manusia hanya mengetahui, bahwa ia (sendiri atau bersama-sama orang lain), sedang dalam proses penyucian diri.

Setiap orang mungkin memiliki alat dan metode yang berbeda untuk mensucikan hatinya. Demikian pula pengalaman “jatuh bangun” mensucikan hati.? Pengalaman masing-masing orang itulah yang disharing, bukan telling (dalam konteks mengajari orang lain).

Di hadapan Allah SWT, perbedaan manusia adalah tingkat ketakwaan. Tidak ada satupun manusia yang mengetahui tingkat ketakwaannya. Manusia juga tidak mengetahui apakah alat, metode dan proses yang ditempuhnya sungguh-sungguh efisien dan efektif mengantarkannya ke derajat ketakwaan. Tidak ada yang bisa telling (baca : mengajari) orang lain bagaimana caranya bertakwa. Tetapi setiap orang, tanpa memandang status sosial ekonomid dan latar belakangnya, dapat sharing pengalamannya menuju ketakwaan.

Tampak Siring, 10 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on December 1, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Resistensi Terhadap Perubahan

Teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi, berkembang sangat pesat. Sebagian orang tertentu galau melihat perkembangan teknologi yang sangat cepat. Mereka khawatir teknologi akan merubah kehidupan manusia. Bahkan, dikhawatirkan teknologi tidak sekedar merubah mindset manusia, tetapi lebih jauh pandangan hidup manusia tentang kehidupan itu sendiri.

Tetapi kegalauan terhadap perkembangan teknologi tidak akan ditemukan di dunia sepakbola. Boleh dibilang, teknologi bertekuk lutut dan tidak berkutik di dunia sepakbola. Para “ayatollah” sepakbola sangat tegas dan konsisten membatasi peranan teknologi dalam urusan sepakbola, terutama selama proses pertandingan sepakbola.

Boleh-boleh saja teknologi membantu semua hal yang berhubungan dengan tetek bengek sepakbola. Misalkan, teknologi boleh saja membantu dalam hal penjualan tiket melalui sistem e-ticket. Teknologi boleh juga hadir di lapangan hijau untuk memudahkan para pengadil berkomunikasi. Sudah beberapa tahun terakhir ini kita melihat di kepala wasit terpasang teknologi komunikasi yang memungkinkan wasit “berkicau” (baca : berkomunikasi) sesama mereka.

Meskipun demikian, teknologi tidak boleh mencampuri urusan sepakbola terlalu jauh. Usulan untuk menggunakan teknologi kamera yang merekam semua kejadian di depan gawang ditolak mentah-mentah oleh para “ayatollah” ?sepakbola. Alasan penolakan pun sangat sederhana : teknologi kamera akan menghilangkan “sisi manusiawi” dari sepakbola. Alamak!

Entah sudah berapa timnas sepakbola yang dirugikan dengan keputusan wasit yang membatalkan atau tidak mengesahkan bola yang telah melewati garis gawang. Contoh klasik adalah timnas Inggris melawan timnas Jerman (saat itu masih Jerman Barat) di Piala Dunia 1966. Saat itu timnas Inggris yang “diuntungkan”. Bola belum melewati garis gawang, tetapi wasit memutuskan bahwa bola telah melewati garis gawang timnas Jerman. Itulah “kadeudeuh” terindah bagi negara yang disebut-sebut sebagai tempat sepakbola dilahirkan. Berkat keputusan wasit Inggris berhasil memboyong Piala Dunia 1966.

Bild

Foto : http://www.sundul.com

Saat PD 2020, dendam timnas Jerman seakan terbayar lunas saat wasit tidak mengesahkan tendangan Frank Lampard yang telah melewati garis gawang timnas Jerman sebagai gol. Melalui rekaman yang diputar berulang-ulang sangat jelas bola telah melewati garis gawang timnas Jerman yang dikawal Neuer.

Derai air mata para pendukung timnas Inggris tidak berlangsung lama. Di Piala Eropa 2012 yang diselenggarakan di Polandia dan Ukrania, kembali timnas Inggris “diuntungkan” oleh keputusan wasit yang tidak mengesahkan bola yang telah melewati garis gawang timnas Inggris sebagai gol. Keputusan wasit akan dikenang oleh timnas Ukrania dan para pendukungnya sebagai pengkhianatan terhadap fair play.

Meskipun sudah banyak contoh-contoh keputusan wasit yang salah dan derai air mata di dunia sepakbola, FIFA bergeming untuk menolak penggunaan teknologi kamera. Mungkin dalam logika analisa FIFA, wasit kan juga manusia. Jadi, kalau wasit salah dalam mengambil keputusan, itu sangat manusiawi. Mungkin ada yang tersakiti, tetapi itu juga sangat manusiawi.

***

Penolakan penggunaan teknologi kamera di dunia sepakbola merupakan salah satu contoh penolakan terhadap perubahan. Penolakan itu sangat menarik, karena hanya berurusan dengan tendang-menendang bola. Resistensi terhadap perubahan akan lebih kuat dan sistematis untuk bidang-bidang yang berkaitan dengan sendi-sendi kehidupan individu, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara.

Secara teoritis dan praktis, manfaat potensial dari kehadiran teknologi dalam kehidupan manusia dapat dan mudah untuk dibuktikan. Tetapi fokus resistensi terhadap kehadiran teknologi tidak terletak pada manfaat teknologi itu sendiri. Kegalauan terhadap teknologi seringkali berkaitan dengan kepentingan, keamanan, dan kenyamanan yang terusik.

Secara umum, resistensi terhadap perubahan seringkali seperti mengada-ada. Alasan “teknologi kamera akan menghilangkan sisi manusiawi sepakbola” kan juga seperti mengada-ada. Tetapi alasan yang sederhana seperti sudah cukup membuat semua jalan menuju perubahan seolah-olah buntu.

Karena itu, salah satu kunci untuk mengintroduksi keberhasilan adalah dengan memahami resistensi terhadap perubahan. Semua pihak yang bermaksud mengadakan perubahan tidak bisa tergesa-gesa memaksakan perubahan tanpa memahami “ipoleksosbudhankam” (ideology, politik, ekonomi,? dan sosial budaya) dari individu, kelompok, masyarakat, bangsa, dan negara yang akan diubah.

Ada beberapa sebab atau alasan yang melatarbelakangi resistensi terhadap perubahan. Dalam buku “Armstong’s Handbook of Human Resource Management Practice, Michael Armstrong menyebutkan sebab-sebab resistensi terhadap perubahan sebagai berikut :

  • The shock of the new – people are suspicious of anything that they perceive will upset their established routines, methods of working or conditions of employment. They do not want to lose the security of what is familiar to them.
  • Economic fears – loss of money, threats to job security.
  • Inconvenience – the change will make life more diffi cult.
  • Uncertainty – change can be worrying because of uncertainty about its likely impact.
  • Symbolic fears – a small change that may affect some treasured symbol, such as a separate office or a reserved parking space, may symbolize big ones, especially when employees are uncertain about how extensive the programme of change will be.
  • Threat to interpersonal relationships – anything that disrupts the customary social relationships and standards of the group will be resisted.
  • Threat to status or skill – the change is perceived as reducing the status of individuals or as de-skilling them.
  • Competence fears – concern about the ability to cope with new demands or to acquire new skills.

?

***

Setelah memahami faktor-faktor yang mendasari resistensi terhadap perubahan, maka strategi perubahan yang akan disusun fokus mengatasi faktor-faktor tersebut. Banyak strategi dan pendekatan yang dapat digunakan, antara lain pendekatan “klasik” dari Kurt Lewin (1951) dengan model “Unfreezing-Change- Freezing” maupun pendekatan “modern” dari John Kotter (1995) dengan “8 Langkah Perubahan”.

Apapun pendekatan dan strategi yang dipilih untuk mengusung perubahan, perlu diingat bahwa perubahan pada dasarnya juga berarti perubahan terhadap kebiasaan manusia. Mengubah kebiasaan manusia tidak mudah. Ironisnya, seperti dikatakan oleh Mark Twain : “Nothing so needs reforming as other people’s habits.” Salah satu ketakutan terbesar manusia adalah mengubah kebiasaannya.

Kebayoran Baru, 13 Juni 2013

?

 
Image

“Il Maestro”

 
Leave a comment

Posted by on November 19, 2013 in Photography

 

Silbermond

Selama di Indonesia, saya belum pernah nonton pagelaran musik baik yang diselenggarakan di dalam gedung, apalagi di lapangan terbuka. Ada beberapa alasan yang sangat pribadi. Pertama, saya “parno” berada di tengah kerumunan yang bisa mendadak sontak menjadi gerombolan liar dan biadab. Kedua, saya takut diinjak-injak, terinjak-injak, dan menginjak-injak orang lain. Ketiga, saya takut diminta naik panggung untuk menyanyi (he……he….).

Saat tinggal di Mannheim, saya justru menyempatkan diri untuk nonton konser Silbermond, salah satu kelompok musin papan atas di Jerman. Sejatinya, saya ingin nonton konser musik The Scorpions dan melihat dengan mata kepala saya sendiri Klaus Meine menyanyikan lagu Wind of Change. Sayang, selama 1 tahun di Jerman, The Scorpions lagi bersemedi (baca : tidak manggung).

Tetapi kekecewaan saya cukup terobati dengan berkunjung ke kota Hannover yang merupakan “markas besar” dari The Scorpions. Penampilan yang gemilang dari Silbermond juga sudah cukup membuat saya puas melihat grup musik Jerman manggung.

Dalam bahasa Jerman, Silber berarti silver dalam bahasa Inggris atau perak dalam bahasa Indonesia. Sedangkan mond dalam bahasa Jerman berarti bulan dalam bahasa Indonesia. Jadi, secara harfiah Silbermond berarti “bulan perak”.

Berbeda dengan senior mereka The Scorpions yang meliris lagu-lagu berbahasa Inggris, Silbermond hanya mengusung lagu-lagu dengan lirik bahasa Jerman. Hal ini membuat “orbit” Silbermond beredar terbatas di negara-negara berbahasa Jerman seperti Swiss, Austria, dan tentu saja Jerman.

Promosi industri musik Jerman memang tidak besar-besaran dan tidak gegap gempita seperti industri musik pop dari negeri Paman Sam. Untuk menjadi kiblat musik dunia, tampaknya para pelaku di industri musik pop Jerman juga tidak terlalu berambisi.

***

Konser musik Silbermond diadakan pada bulan Agustus 2009, pukul 14.00. Saat itu sedang musim panas. Bagi orang Jerman yang hidup dalam 4 musim, berpanas-panas di lapangan terbuka seperti mendapatkan durian runtuh.? Panas terik musim panas di Jerman juga tidak membuat badan saya menjadi basah kuyup mandi keringat. Kelembaban udara di Jerman yang relatif rendah membuat udara cukup bersahabat bagi pendatang dari negara tropis sekalipun.

Bagaimana kerumunan di Jerman, tepatnya di kota Mannheim? Kerumunan ya tetap kerumunan. Teriak dan jingkrak-jingkrak sudah lumrah. Dalam hiruk pikuk sama saja dengan kerumunan di Jakarta. Perbedaannya, kerumunan di Jerman cenderung tidak rusuh dan situasi tetap aman terkendali.

Padahal, minuman keras bukan barang yang haram di bawa sambil nonton konser. Mulut manusia, udara dan bahkan toilet pun bau minuman keras. Tetapi memang ada perbedaan antara mabuk orang Jerman dengan mabuk orang Indonesia. Paling banter mereka teriak-teriak. Semabuk-mabuknya orang Jerman, mereka masih bisa mengontrol diri mereka. Mengapa? Kalau mereka sampai berulah, urusan hukum sudah menanti.

Satu hal yang juga membedakan kerumunan di Indonesia dengan kerumunan di Jerman adalah saat-saat anak cucu Adam dan Hawa sedang mabuk cinta. Di Indonesia, hampir pasti tidak ada muda-muda yang sedang “mabuk kepayang” akan ciuman di tengah-tengah kerumunan dan ditonton banyak orang. Di Jerman, melihat orang-orang berciuman di tengah kerumunan di siang hari bolong adalah hal yang jamak.

***

Pengetahuan saya tentang musik di Jerman, terutama musik pop, sangat minim. Satu-satunya kelompok musik yang saya ketahui adalah The Scorpions dengan tembang hit Always Somewhere dan terutama Wind of Change. Tidak banyak penyanyi yang saya ketahui. Satu-satunya penyanyi yang saya ketahui adalah Klaus Meine yang menyanyikan lagu Wind of Change di Lapangan Merah, Russia.

Meskipun tergolong awam di bidang musik klasik, saya lebih “fasih” menyebutkan beberapa komponis musik klasik asal Jerman. Dari yang paling terkenal seperti Ludwig von Beethoven, Johann Sebastian Bach, George Frederich Haendel, Johannes Brahms, Johann Pachelbel, Franz Schubert sampai dengan Felix Bartholdy Mendelssohn dan Robert Schumann yang tidak begitu dikenal di Indonesia.

Demikian juga dengan karya-karya musik mereka, saya cukup familiar. Sebut saja “Fuer Elise” karya Bach, Hallelujah dari Haendel, Serenade dari Schubert dan Canon in D Major karya Pachelbel yang sering menjadi wedding song standar di negara-negara barat.

Selama ini kita memang lebih mengenal bangsa Jerman sebagai bangsa yang “serius”, berhubungan dengan pemikiran dan filosofi yang “berat”,? teknologi yang serba canggih, dan disiplin yang sekuat baja panser. Hampir tidak pernah kita mendengar tentang Jerman berkaitan dengan cinta dan musik “ngak-ngik-ngok” (istilah yang digunakan Bung Karno untuk musik Barat dan lagu cinta yang cengeng).

Bild

Foto : http://www.unitedcharity.de

Karena itu, kesempatan nonton konser Silbermond benar-benar saya manfaatkan untuk menimba pengetahuan tentang industri musik pop Jerman. Paling tidak, saya punya pengalaman dan bisa merasakan bagaimana orang-orang Jerman yang pendiam dan dingin bisa berjingkrak-jingkrak mengikuti lagu-lagu yang dibawakan Silbermond.

Kecuali tembang lawas Du yang sudah sangat populer di Indonesia, sungguh tidak mudah memahami lirik lagu-lagu berbahasa Jerman. Tetapi bukan berarti melodi dan lirik lagu-lagu berbahasa Jerman “mati gaya”. Lagu The Beatles “I Want To Hold Your Hand” pun tetap hidup saat dinyanyikan dalam bahasa Jerman “Kommt gib mir deine Hand”.

Meskipun berasal dari negara-negara berbeda dan budaya yang juga berbeda, saya menemukan “benang merah” yang sama di antara para pemusik. Tema cinta, terutama “pemujaan” terhadap kekasih memang tidak pernah “lekang karena panas, dan lapuk karena hujan”. Orang-orang Jerman juga manusia biasa, mereka juga mengenal cinta dan “ngak-ngik-ngok”. Perhatikan penggalan bait dari lagu das Beste (the Best) karya Silbermond berikut :

Versi bahasa Jerman :

Du bist das Beste was mir je passiert ist
es tut so gut wie du mich liebst
Vergesse den Rest der Welt
Wenn du bei mir bist
Du bist das Beste was mir je passiert ist
es tut so gut wie du mich liebst
Ich sag’s dir viel zu selten
es ist sch?n, dass es dich gibt

Dein Lachen macht süchtig
fast so als w?re es nicht von dieser Erde
Auch wenn deine N?he Gift w?r
ich würd bei dir sein solange bis ich sterbe
Dein Verlassen würde Welten zerst?ren
doch daran will ich nicht denken
Viel zu sch?n ist es mit dir
wenn wir uns gegenseitig Liebe schenken

Versi bahasa Inggris :

You are the best I have ever met
it feels good that you love me
I forget the whole world
when you are with me.
You are the best I have ever met
it feels good that you love me.
I should tell you more often:
it′s lovely that you are here

I am addicted to your laughter
almost like it is not from this earth
And if your nearness would be poison
I would stay by your side until I die.
Leaving me would destroy earths
but I won′t think of that.


Tampak Siring, 23 Juni 2013

 

Respect to Diversity

Baru-baru ini, Roy Hodgson, pelatih timnas sepakbola Inggris mendapat kecaman karena dianggap tidak bijak dan tidak pantas mengeluarkan kata-kata untuk memanggil para punggawanya. Hodgson mengaku bahwa ia bukanlah seorang rasialis meskipun ia sering menggunakan kata “kera” untuk memanggil para pemainnya. Hodgson pun berkilah bahwa ia menggunakan kata “kera” sudah bertahun-tahun dan selama ini tidak ada masalah.

Hodgson mungkin jujur dalam pembelaannya, tetapi jelas tidak memiliki emotional quotiens yang memadai dalam hubungan antarmanusia. Sungguh tidak ada relevansi dan urgensi menggunakan kata “kera” untuk memanggil orang lain. Toh semua orang memiliki nama yang jelas dan patut dipanggil sesuai dengan nama orang masing-masing. Ini bukan persoalan bahwa kebetulan Hodgson memanggil Andros Townsend yang berkulit gelap dengan sebutan kera, melainkan memang tidak etis memanggil orang dengan sebutan yang jelas-jelas secara konotatif – terutama di dunia sepakbola – dikaitkan dan isu rasialisme.

Sudah banyak pesepakbola berkulit gelap yang menjadi korban rasialisme, sebut saja nama-nama tenar seperti Roberto Carlos, Samuel Eto’o, dan Kevin Prince Boateng. Para penonton yang tidak suka dengan mereka melempar pisang dan kacang – makanan favorit kera – sembari memperagakan gerak tubuh kera. Hampir di seluruh dunia, kera digunakan menjadi medium untuk merendahkan status sosial seseorang dan rasialisme.

Sungguh tidak dapat dimengerti jika orang sekaliber Roy Hodgson tidak paham dengan tata krama hubungan antarmanusia. Bukan hanya organisasi sepakbola seluruh dunia FIFA yang menyatakan perang terhadap rasialisme dan karena itu menuntut setiap orang berhubungan dengan sepakbola – meskipun hanya sebagai penonton – mampu memberikan respek terhadap siapapun.

PBB bahkan menetapkan respect for diversity sebagai salah satu core values. Setiap orang yang bekerja dan/atau bekerja sama dengan PBB dituntut memiliki dan menunjukkan kompetensi respect for diversity, yaitu “an ability to work effectively, respectfully and inclusively with people from different backgrounds and with different perspectives is critical for all staff members.”

Kebiasaan Hodgson menggunakan kata “kera” untuk memanggil orang lain mengingatkan saya kepada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saya pernah menemukan seorang yang mengikuti Management Trainee memanggil temannya dengan sebutan wedhus. Bagi orang Jawa, wedhus adalah hewan yang serba malas dan lamban, terutama malas mandi dan tidak mampu menjaga kebersihan.

Sungguh saya tidak mengerti mengapa orang itu menggunakan kata wedhus. Meskipun ada “segambreng” alasan, saya tidak melihat ada relevansi dan urgensi untuk menggunakan wedhus. Saya membayangkan jika orang yang dipanggil wedhus balik “menyerang” orang yang memanggilnya wedhus itu dengan sebutan – maaf – anjing atau asu. Kasar dan keterlaluan? Apa kriteria kasar dan keterlaluan?

Tidak ada yang mutlak dalam sistem nilai budaya. Sesuatu yang dianggap benar atau salah, baik atau jelek, indah atau tidak indah, sepenuhnya berlaku mutlak berlaku dan hanya sesuai untuk masyarakat tertentu. Apa yang dianggap kasar bagi oleh masyarakat tertentu belum tentu dianggap kasar oleh masyarakat lain.

Sejatinya, ada kecenderungan manusia untuk kurang paham terhadap apa yang dianggap benar atau salah, baik atau buruk, indah atau tidak indah, dan pantas atau tidak pantas dilakukan oleh manusia yang dibesarkan oleh sistem nilai budaya yang berbeda. Bahkan, sebutan yang kita anggap sebagai baik dan selama ini sebutan itu selalu kita gunakan (dan tidak ada masalah), sejatinya dapat melukai perasaan orang dari bangsa lain. Tidak percaya?

Selama ini, siapapun yang suka sepakbola, suka menyebut timnas sepakbola Jerman dengan julukan “der Panzer”. Kekaguman terhadap kehebatan timnas sepakbola Jerman yang selalu menduduki tempat terhormat di turnamen sepakbola akbar dunia (piala dunia dan piala eropa) mengundang kita untuk memuji dan memuja “Deutschland ueber Alles”. Pernahkah kita bertanya, apakah masyarakat dan bangsa Jerman suka dengan sebutan “der Panzer” dan slogan “Deutschland ueber Alles”?.

Timo Scheunemann, orang Jerman yang berprofesi sebagai pelatih sepakbola di Indonesia, rajin sebagai komentator di layar kaca, dan terampil menulis tentang “match analysis” di beberapa media cetak tentang ?pertandingan sepakbola, menulis sebagai berikut : “Bila anda menyebutkan kedua julukan tadi (“der Panzer” dan “Deutschland uber Alles”) kepada orang Jerman mereka akan bingung bahkan tersinggung karena konotasi kedua istilah tersebut terkait erat dengan perang (masa kelam Jerman) yang tidak dibanggakan oleh masyarakat Jerman” (www.detik.com, 21 Agustus 2013)

***

Ada 1001 jalan untuk mempraktekkan respect to diversity. Tidak harus 1001 jalan tersebut dipraktekkan, cukup 1 saja tetapi sudah menjawab kebutuhan untuk saling menghormati dan toleransi terhadap perbedaan. Paling tidak, itulah yang pernah dilakukan oleh 2 ulama besar di masa lalu, yaitu K.H. Dr. Idham Chalid (tokoh NU) dan Prof. Dr. HAMKA atau lebih sering disebut Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah).

Saat bermaksud menunaikan ibadah haji, kedua tokoh tersebut pernah secara tidak sengaja berada di dalam 1 kapal. Silaturahim antar kedua tokoh sangat akrab dan sholat wajib selalu berjama’ah. Semua berjalan sebagaimana mestinya, sampai kemudian saat melaksanakan sholat shubuh.

Pada kesempatan pertama, K.H. Idham Chalid dipersilakan menjadi Imam. Hal yang tidak biasa terjadi pada saat rakaat kedua, yaitu saat K.H. Idham Chalid tidak membaca do’a qunut. Padahal, membaca do’a qunut pada saat sholat subuh adalah amalan yang biasa dilakukan oleh kaum nahdliyin.

Meskipun tidak ada yang protes, Buya Hamka cukup terkejut dan mengajukan pertanyaan kepada K.H. Idham Chalid, mengapa beliau tidak membaca do’a qunut. Jawaban diplomatis K.H. Idham Chalid kurang lebih begini? : “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”

Di lain hari, gentian Buya Hamka yang menjadi imam sholat subuh. Hal yang tidak biasa terjadi pada rakaat kedua, yaitu saat Buya Hamka mengangkat kedua tangannya dan kemudian membaca do’a qunut. Bagi kalangan Muhammadiyah, membaca do’a qunut pada shalat subuh hampir tidak pernah diamalkan.

Setelah sholat subuh selesai, gantian K.H. Idham Chalid bertanya kepada Buya Hamka, mengapa Buya membaca do’a qunut. Jawaban diplomatis dan menyejukkan pun disampaikan oleh Buya Hamka kurang lebih sebagai berikut : “Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka merendah. (Sumber : www.muslimmedianews.com, 28 September 2013)

Jadi, harus gimana dong? Tumbuhkan empati dalam hati. Mari belajar melihat dan memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang. Bukankah jika anda pada suatu saat berada di kutub utara, pada saat yang bersamaan tidak dapat melihat dan mengetahui apa yang terjadi di kutub selatan? Bukankah dalam ruangan yang gelap, pada saat sorot lampu senter diarahkan pada satu sisi bola tenis meja, anda tidak dapat melihat sisi yang gelap?

?

Kebayoran Baru, 28 Oktober 2013

?

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2013 in Selasar

 

“Small That Beautiful”

Belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak sulit. Tetapi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar seringkali tidak mudah. Dalam beberapa kesempatan saya mencobanya, selalu timbul komentar “miring” dari orang lain. Minimal, saya harus siap dicap suka mengada-ada. Singkat kata, seseorang yang berlagak seperti “Ayatullah bahasa” pasti tidak popular.

Bagi sebagian besar orang Indonesia, termasuk saya, seringkali menganggap bahasa adalah urusan rasa. Domain rasa adalah “enak” dan “tidak enak”, bukan “benar” atau “salah”. Tidak banyak orang yang sependapat bahwa kemampuan berbahasa yang baik dan benar juga menggambarkan kemampuan berpikir analitis, logis, terstruktur, dan sistematis.

Saya sering mengajak para sahabat saya untuk menulis dan bercerita. Sebagian besar menolak dan menganggap menulis itu sulit, ada juga yang “menyalahkan” bakat. Mengapa menulis dianggap sulit? Sebagian besar teman saya berpendapat bahwa menulis yang terstruktur dan sistematis itu sulit. Mungkin yang lebih tepat adalah – jika mereka menulis – “takut” tulisan mereka menggambarkan kemampuan berpikir yang tidak analitis, logis, terstruktur, dan sistematis.

Cukup banyak kata yang digunakan secara tidak tepat dan sudah terlanjur salah kaprah.? Para pengguna bahasa Indonesia tidak mempermasalahkan penggunaan bahasa Indonesia yang “amburadul” dan “acak adul”. Para ahli bahasa mungkin juga sudah kehabisan akal dan tenaga untuk selalu mengingatkan penggunaan bahasa Indonesia yang? baik dan benar.

Analogi “pembiaran” penggunaan bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar hanya beda-beda tipis dengan “pembiaran” pelanggaran lalu lintas. Mungkin, pelanggaran lalu lintas masih dapat ditolerir asalkan tidak terjadi di “kawasan tertib lalu lintas”. Padahal, di “zaman Yus Badudu”, kata “silakan” dan “silahkan” selalu dibahas. Menurut Yus Badudu, yang benar adalah “silakan” (dalam bahasa Inggris please).

Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan bahasa Indonesia yang tidak tepat :

Akhiran “nya”

Kata “nya” seringkali digunakan secara serampangan dan sembarangan dalam berbagai kesempatan, baik bahasa tulisan dan terutama bahasa lisan. Di masa lalu pernah ada novel yang berjudul “Robohnya Surau Kami” dan “Tenggelamnya Kapal van der Wijk”.? Siapa yang dimaksud dengan “nya” dalam kedua judul tersebut?

Kata “nya” dalam bahasa Indonesia adalah kata ganti orang ketiga dan kata kepemilikan. Dalam komunikasi sehari-hari dan bahasa lisan, orang sangat royal menggunakan kata “nya” tanpa bermaksud mengatakan ada orang ketiga atau menunjukkan kepemilikan. Bahasa iklan dan para presenter di televise swasta nasional paling sering menggunakan kata “nya” tanpa memahami telah terjadi kesalahan. Contoh : ahlinya teh, tentunya, pastinya, akhirnya dan lain sebagainya.

Beberapa tahun yang lalu, saat saya tinggal di kota Semarang, saya juga menemukan penggunaan kata “nya”. Ada sebuah perusahaan taksi yang mengusung jargon “taksinya orang Semarang”. Sebuah radio swasta nasional pun memproklamirkan sebagai “radionya orang Semarang”. Masih banyak lagi “ ……nya orang Semarang” yang tak perlu saya sebut satu persatu.

Saya pun sering dibuat bingung oleh ibu-ibu tetangga yang bertanya tentang apakah istri saya ada di rumah, tetapi menggunakan pertanyaan yang salah kaprah “Pak Wisang, apakah istrinya ada? (lebih tepat, “Pak Wisang, apakah istri ada di rumah”?). Saat bertamu di kantor relasi pun saya sering dibuat bingung dengan bahasa Indonesia yang digunakan tuan rumah “Pak Wisang, handphonenya jangan ketinggalan” (lebih tepat, “Pak Wisang, jangan ketinggalan handphone”). Tetapi karena saya dapat “menangkap” arti kalimat yang disampaikan ibu-ibu tersebut, saya tidak merasa perlu mengoreksinya.

Dalam bahasa tertulis seperti laporan resmi perusahaan dan organisasi, salah penggunaan kata “nya” juga lazim ditemukan. Bahkan, dalam skripsi, tesis, dan disertasi pun salah penggunaan kata”nya” bukan hal yang langka. Tetapi karena kita mampu berkomunikasi dengan mengandalkan penafsiran, maka penggunaan kata “nya” yang kurang tepat lebih sering tidak dipermasalahkan. Sementara bagi orang asing yang baru belajar bahasa Indonesia, penggunaan kata “nya” bisa membingungkan.

?

Kata “itu”.

Nasib kata “itu” setali tiga uang dengan kata “nya”, sering digunakan tidak tepat. Sebut saja contoh “kecil itu indah”, dan “bersih itu sehat”.? Jika kedua jargon itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris secara harfiah, maka terjemahannya menjadi “small that beautiful” dan “clean that healthy”. Orang asing akan lebih mudah menterjemahkan ke dalam bahasa Inggris jika kata “itu” diganti dengan “adalah”, sehingga menjadi “kecil adalah indah” dan “bersih adalah sehat”.

Kakek dan nenek moyang kita mempunyai beberapa peribahasa yang “menghilangkan” kata “itu”, tetapi justru tidak mengubah makna dan tidak sampai mengganggu. Sebagai contoh “hemat pangkal kaya” (mengapa bukan “hemat itu pangkal kaya”), “air beriak tanda tak dalam” (mengapa bukan “air beriak itu tanda tak dalam”?)

Sejak dini, di sekolah kita sudah diajarkan untuk “menghilangkan” kata adalah. Menurut saya, kalimat yang tepat adalah “ini adalah Budi” dan “ini adalah ibu Budi”, bukan “ini budi” dan “ini ibu Budi”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dua kalimat terakhir akan berbunyi sebagai berikut : “this Budi” dan “this Budi’s mother”.

Keberadaan kata “itu” jadi mengganggu, terutama jika bagi orang asing. Saat dihilangkan, justru tidak mengganggu makna dan penterjemahan ke dalam bahasa asing. Lebih tepat lagi jika kata “itu” diganti dengan “adalah”. Coba-en Rek!

guruSumber : http://www.kolomkita.detik.com

Kalau begitu …..

“Kalau begitu……” seringkali digunakan untuk mengawali kesimpulan dan mengakhiri pertemuan. Bagi saya, penggunaan “kalau begitu…..” seringkali membingungkan. Contoh : “kalau begitu, saya mengucapkan terima kasih”, “kalau begitu, saya mohon pamit”.

Saat lawan bicara saya mengatakan “kalau begitu……”, saya seringkali pura-pura tidak mengerti dan “usil” bertanya. Apa maksud anda dengan “kata begitu…..”? Bagaimana dengan “kalau begini…..”. Apakah “kalau begini, saya tidak terima kasih”, “kalau begini, saya tidak pamit”.? Ternyata, bukan seperti itu yang dimaksud oleh lawan bicara saya.

Saya mencoba memahami kalimat “kalau begitu, saya mengucapkan terima kasih” kira-kira begini : karena saya sudah diberikan kesempatan bertemu dan menyampaikan keinginan dan harapan saya, maka saya mengucapkan terima kasih. Sedangkan untuk kalimat “kalau begitu, saya mohon pamit pulang” kurang lebih bermakna sebagai berikut : “semua sudah kita diskusikan bersama dan sudah jelas, jika tidak ada hal-hal penting lain yang perlu kita diskusikan, maka saya mohon pamit mundur.

Kalimat versi saya untuk menggantikan kalimat “kalau begitu…..” terkesan panjang dan bertele-tele. Sebagian besar orang Indonesia pasti sudah mengerti makna “kalau begitu….”, meskipun dengan cara menebak dan tanpa klarifikasi lagi. Tetapi bagi orang asing yang baru belajar bahasa Indonesia, kalimat “kalau begitu ……” bisa membingungkan mereka.

Saat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, kita memang seringkali mengandalkan penafsiran dan mengasumsikan penafsiran kita benar. Baru pada saat bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa hukum, kita setuju bahwa penafsiran bisa merugikan diri sendiri.

Pernah ada mantan pejabat orde baru yang lolos dari tuntutan hukuman. Dalam persidangan, jaksa menuduh mantan pejabat tersebut “telah menerima uang suap”. Apa yang dimaksud dengan “menerima”? Menerima dengan tangan sendiri, atau termasuk juga dengan menerima dengan menggunakan tangan orang lain? Singkat cerita, karena tidak pernah “tertangkap tangan” (menerima dengan tangan sendiri), mantan pejabat itu lolos dari jerat hukum. Nah lo!

?

Bahasa Asing

Saya seringkali tidak mengerti mengapa orang suka lebay menggunakan bahasa asing (terutama Inggris) untuk kata yang ada istilahnya dalam bahasa Indonesia. Di toilet di sebuah masjid agung di bilangan Kebayoran Baru tertulis begini : ?“exit”.

Aneh, mengapa harus bahasa Inggris? Bukankah ada istilah “keluar” untuk menunjukkan arah ke luar. Bukankah kemungkinan besar orang-orang yang hadir di masjid adalah umat Islam?. Kalaupun ada tamu asing, kemungkinan besar dari negara-negara yang menggunakan bahasa Arab. Jadi, kalau tetap mau memaksakan diri berbahasa asing, gunakanlah bahasa Arab di lingkungan masjid.

Timnas sepakbola Indonesia yang sempat kecewa dan “sewot” gara-gara harus mengenakan kostum tandang di SUGBK saat meladeni timnas Belanda, ternyata juga tidak konsisten. Saat sesi pemotretan, timnas Indonesia mengenakan kostum merah putih, dengan latar belakang bendara merah putih, tetapi dengan tulisan “my time is now”. Ngono yo ngono, ning ojo ngono.

Orang seringkali lupa saat berkomunikasi menggunakan bahasa asing adalah seperti keping mata uang yang bermuka dua. Di satu sisi, berbahasa asing mungkin dimaksudkan untuk “mendongkrak” status sosial dan sinyal kepada orang lain tentang “siapa gue”. Sisi yang lain, dan ini yang lebih benar, adalah bentuk ketidakpercayaan diri yang parah. Last but not least (maaf, sekali-sekali bahasa Inggris), penggunaan bahasa asing adalah bentuk pelecehan kepada bahasa Indonesia.

***

Bahasa adalah budaya bangsa. Budaya adalah hasil cipta, rasa dan karsa dari masyarakat dan bangsa. Selama menggunakan bahasa Indonesia yang tidak tepat dan tidak benar tidak menimbulkan masalah dan konflik sosial, mungkin kita tidak akan berusaha belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar dan menggunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi pengguna bahasa, rasa berbahasa lebih penting ketimbang baik dan benar. Itulah sebabnya, ketika dahulu Pak Harto sering menggunakan akhiran “ken” daripada “kan”, tidak ada yang berani mengingatkan. Bahkan, kebiasaan Pak Harto dicontoh oleh banyak orang. Setelah Pak Harto wafat, saya jarang mendengar orang mengucapkan “ken” lagi.

Ada sebuah lelucon tentang kebiasaan Pak Harto menggunakan “ken”. Konon, karena sering diisukan atau diberitakan “macem-macem”, mbak Tutut mengadu kepada Pak Harto. Karena sibuk, Pak Harto hanya menasehati mbak Tutut dengan kalimat yang singkat dan padat “biar-ken Tut” (baca : biar kentut). Tentang lelucon ini memang benar-benar ada atau mengada-ada, silakan anda investigasi sendiri. Saya pastikan, “isi lelucon di luar tanggung jawab penulis”.

?

Tampak Siring, 3 Agustus 2013

 
Leave a comment

Posted by on October 27, 2013 in Selasar

 

If Tomorrow Never Comes

Istri saya suka banget lagu “If Tomorrow Never Comes” yang dilantunkan oleh Barry Manilow. Saya juga suka lagu tersebut, tetapi menurut pendapat subyektif saya Ronan Keating lebih menunjukkan greget membawakan lagu itu. Tetapi, sejatinya, bukan lagu itu yang menarik perhatian saya. Saya lebih tertarik pada judul lagu If Tomorrow Never Comes.

Apa yang bisa kita lakukan “If Tomorrow Never Comes”?. Tidak ada. Kalau besok tidak ada lagi, berarti sudah “tutup buku”. Dalam bahasa agama, if tomorrow never come berarti kiamat kecil. Tetapi manusia masih bisa melakukan banyak hal sebelum tomorrow never comes. Benar, urip mung mampir ngombe (hidup hanya mampir minum). Atau dalam istilah Butet Kertarajasa, urip mung mampir ngguyu (hidup hanya sempat untuk ikutan tertawa). Intisari dari nasehat tersebut adalah betapa singkat kehidupan manusia.

Betapa cepat waktu berlalu. Waktu berjalan pelan tetapi pasti dan ketika sadar ternyata sudah dalam hitungan windu dan dasawarsa. Begitu terasa cepat waktu berlalu. Rasa-rasanya baru “kemarin” saya mulai bekerja, tetapi tanpa terasa saya sudah pensiun dari pekerjaan formal.

Dua tahun yang lalu, para sahabat di jurusan Sosiologi UGM mengadakan reuni 30 tahun. Saya tidak sempat hadir. Meskipun telah 3 dasa warsa tidak saling bertatap muka, seolah-olah mereka baru “kemarin” tidak pernah bertemu. Reuni itu memang tidak akan pernah lengkap, beberapa di antara kami sudah lebih dahulu menghadap Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Bulan Agustus yang lalu saya bertemu dengan para sahabat saya di perusahaan lama tempat saya dahulu bekerja. Sebagian besar tidak pernah bertemu dengan saya lagi lebih dari dua puluh tahun. Tetapi seolah-olah baru “kemarin” kami tidak bertatap muka. Saat saya bertanya Pak atau Ibu atau Mas atau Mbak “Anu” sekarang di mana, beberapa nama yang saya sebut ternyata sudah mendahului kami semua.

5 perkaraSumber : http://www.twicsy.com

Saya masih ingat saat-saat David Beckham, Gary Neville, Paul Scholes, Nicky Butt mulai masuk tim senior Manchester United sekitar 20 tahun yang lalu. Saya masih ingat tendangan Beckham dari jarak jauh (dekat garis tengah lapangan sepak bola) memperdaya David Seaman, kiper nomor satu timnas Inggris saat itu. Tetapi kini Beckham, Neville, Scholes dan Butt semua sudah gantung sepatu. Seolah-olah, baru “kemarin” mereka malang melintang di liga utama Inggris.

Badai pasti berlalu, tetapi kapan berlalunya tidak tidak ada yang tahu. Tetapi waktu sudah pasti berlalu. Bagi manusia, pergantian waktu semakin mendekatkan kepada keadaan “if tomorrow never comes”. Secara umum, orang-orang yang sudah berusia lanjut memang relatif “lebih dekat” dibandingkan dengan keadaan if tomorrow never comes. Apa memang begitu?

Hampir tiap hari saya mendengar berita duka cita. Setelah sholat subuh, ada pengumuman dari mesjid di kompleks perumahan maupun di lingkungan kampung di sekitar perumahan, tentang seseorang yang telah meninggal. Saat shalat Dzuhur di sebuah masjid di bilangan Kebayoran Baru Jakarta, ada lagi berita duka cita.

Tidak semua yang meninggal tersebut adalah para manusia usia lanjut. Usia orang-orang yang meninggal tersebut sangat beragam, mulai dari orang-orang yang sudah berusia lanjut, orang-orang yang masih aktif bekerja, remaja, anak-anak, dan bahkan bayi. Apa maknanya?

Adalah kekeliruan besar jika kita beranggapan bahwa udzur sudah pasti manusia usia lanjut. Tidak benar bahwa bayi, remaja, pemuda, orang tua, bukan tergolong udzur. Sejatinya, setiap orang dan semua orang dalam keadaan udzur dan dekat kematian. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti kapan akan mati, dan kematian bisa setiap saat menghampiri siapa saja, maka sejatinya setiap orang dalam keadaan udzur.

Tampak Siring, 20 Oktober 2013

 
Leave a comment

Posted by on October 26, 2013 in Selasar

 

Bibit, Bebet, Bobot

Saya sama sekali tidak terperangah saat mengetahui Rudi Rubiandini (saat itu Kepala SKK Migas), Akil Mochtar (saat itu Ketua Mahkamah Konstitusi), Andi Alifian Malarangeng (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga) dicokok oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (“KPK”) dan kemudian digelandang ke rumah tahanan KPK di kawasan Kuningan, Jakarta.

Saya juga tidak tertarik dengan “bisik-bisik” yang menyebutkan bahwa ketiga orang yang ditangkap oleh KPK adalah “orang baik-baik”, sebab setiap orang cuma tahu kedalaman laut tetapi tidak tahu qalbu orang lain. Saya lebih tertarik mengetahui usia masing-masing tersangka korupsi tersebut. Mengapa?

Dengan mengetahui usia ketiga orang tersebut, maka kita “mengantongi” kunci untuk membuka “pintu masuk” pola asuh di zaman mereka masih kanak-kanak, sekaligus dapat “mereka-reka” bibit, bebet, bobot para pengasuh yang hidup di zaman mereka.

Berikut data singkat tentang ketiga tahanan KPK tersebut yang saya kutip dari id.wikipedia.org (19 Oktober 2013) :

·?????? Prof. Dr.-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 9 Februari 1951.

·?????? Dr. H.M. Akil Mochtar, S.H., M.H. lahir di Putussibau, Kalimantan Barat pada tanggal 18 Oktober 1960.

·?????? Dr. Andi Alifian Mallarangeng, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada tanggal 14 Maret 1963.

Ketiga tersangka kasus korupsi tersebut berusia di kisaran 50 s.d 53 tahun. Usia yang tidak jauh beda dengan tersangka kasus korupsi yang lain Luthfi Hasan Ishaaq yang berusia 52 tahun. Hanya Ahmad Fathanah yang berusia lebih muda (47 tahun), tetapi masih dapat dikelompokkan dalam generasi yang sama, hidup pada zaman yang sama, dan pola asuh oleh generasi yang sama juga. Mari bersama-sama kita lihat bibit, bebet dan bobot generasi yang mendidik dan membesarkan mereka.

***

Saat Akil Mochtar ?tertangkap tangan oleh KPK, isteri saya bertanya kepada saya : “akan seperti apakah Indonesia 20 tahun sampai dengan 40 tahun yang akan datang?”. Meskipun sudah “mengantongi” jawaban yang benar (tentu saja benar menurut saya), saya tidak menjawab dan diam seribu bahasa.? Saat Andi Alifian Mallarangeng dicokok oleh KPK, isteri saya kembali bertanya : ”akan seperti apakah Indonesia 20 tahun sampai dengan 40 tahun yang akan datang?”.

Jawaban saya cukup mengejutkan isteri saya : “keadaan Indonesia ?20 s.d. 40 tahun yang akan datang akan tetap sama seperti saat ini. Minimal keadaannya sama, bisa lebih buruk, tetapi jelas tidak akan lebih baik kondisinya daripada kondisi saat ini.” Pesimis? No way bro! Saya bukan manusia kecengan yang gampang pesimis dan putus asa.

Saya memang bukan futurolog seperti Alvin Toffler yang mampu “melihat jauh” masyarakat yang akan datang dan secara tepat memetakan perubahan sosial dari masyarakat pertanian, masyarakat industri, dan kemudian masyarakat informasi. Kemampuan saya juga jelas kalah jauh dibandingkan dengan Peter Ferdinand Drucker, pakar manajemen yang mampu membaca dan “meramal” perubahan-perubahan dalam manajemen dan dampak yang ditimbulkannya.

Tetapi, sejatinya, untuk memahami masyarakat tidak selalu harus menjadi futurolog. Saya masih ingat cerita guru besar sosiologi UGM Prof. Soedjito Sosrodiharjo (almarhum). Saat itu beliau seringkali ditanya oleh para “kuli tinta” tentang apa yang akan terjadi setelah militer mengadakan kudeta terhadap Perdana Menteri Thailand. Prof. Soedjito selalu bilang bahwa konflik politik di Thailand tidak akan destruktif karena siapapun? yang akan menjadi Perdana Menteri selalu melakukan ritual yang sama : “sowan” dan membutuhkan “ridho” dari raja Thailand.

Benar, setelah pemimpin kudeta “sowan” kepada raja Thailand dan kemudian raja memberikan restu, semua pihak mengakui pemimpin kudeta sebagai Perdana Menteri yang baru. Tidak ada penolakan, “penggembosan”, dan sabotase. Semua tunduk kepada titah Baginda Raja.

Mengapa Prof. Soedjito mampu “meramal” penyelesaian konflik politik di Thailand. Setiap kejadian dalam masyarakat selalu berulang. Orang Perancis bilang “l’histoire se repete”. Kejadian-kejadian dalam masyarakat yang selalu berulang membentuk pola dan keajegan. Melalui keajegan itulah kemudian, siapapun orangnya, dapat membaca situasi dan “meramalkan” apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kecuali terjadi revolusi dan “tsunami” politik, semua akan berulang dan berlangsung secara ajeg.

***

Kembali kepada pertanyaan istri saya, bagaimana saya bisa “memastikan” bahwa keadaan Indonesia 20 tahun sampai dengan 40 tahun yang akan datang akan sama saja?

Secara sederhana, manusia terdiri dari otot, otak, dan qalbu. Dari segi otot, Indonesia yang akan datang sangat mungkin lebih baik dibandingkan kondisi saat ini. Akan sangat mungkin, prestasi olahragawan/wati di masa yang akan datang akan meningkat, baik di tingkat Asia maupun dunia.

Dari segi otak, kompetensi orang-orang Indonesia sudah diakui oleh dunia. Banyak putra-putri terbaik Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional di luar negeri. B.J. Habibie adalah salah satu putra Indonesia yang memiliki otak yang diakui oleh industri penerbangan. Demikan juga Prof. DR. Sri Mulyani yang mampu menduduki jabatan strategis di Bank Dunia. Jadi, dari segi otak, kemampuan orang Indonesia saat ini maupun yang masa-masa yang akan datang akan selalu kompetitif dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.

Bagaimana dengan qalbu? Masalah terbesar manusia, baik sebagai individu, kelompok, masyarakat, dan bangsa adalah di bidang qalbu (baca : mentalitas). Sejak zaman kemerdekaan sampai dengan saat ini, hampir tidak banyak yang berubah dalam hal mentalitas manusia Indonesia. Memang telah banyak terjadi perubahan di Indonesia, tetapi tidak dalam hal perubahan mentalitas.

blognuestrasfallas.blogspot

Sumber : http://www.blognuestrasfallas.blogspot.com

Dalam hal perubahan mentalitas yang sangat lambat, bangsa Indonesia tidak sendirian. Perlu lebih dari 200 tahun bagi bangsa Amerika Serikat untuk menerima seorang kulit hitam menjadi presiden. Meskipun ideologi dan konstitusi Amerika Serikat meyakini persamaan hak semua manusia, dalam praktek tidak seindah yang tertulis.

Prediksi saya, bangsa Indonesia membutuhkan waktu paling kurang 100 tahun lagi (dari sejak tulisan ini dibuat) untuk menjadi bangsa yang lebih baik dalam hal mentalitas. 40 tahun ke depan, bahkan 80 tahun ke depan, mentalitas bangsa Indonesia tidak akan lebih baik dari mentalitas bangsa Indonesia saat ini. Bagaimana logikanya?

***

Berbagai bangsa memiliki peribahasa yang dapat menjelaskan mentalitas manusia dari generasi ke generasi. “Like father like son”, “like mother like daughter”, “buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya”, “kacang ora ninggalke lanjaran”, “bapak polah anak kepradah”, dan lain sebagainya. Mentalitas anak-anak tidak akan berbeda jauh dengan mentalitas orang tua dan kakek-nenek moyang mereka.

Para koruptor yang saat ini masih menjadi tersangka, menjalani sidang, maupun yang telah mendapat vonis hukuman berkekuatan tetap, berada di kisaran usia 35 sampai dengan 55 tahun. Para orang tua mereka telah berhasil membuat mereka “jadi orang” dan “pemimpin”. Dari segi otot dan otak, mereka boleh jadi lebih baik dibandingkan dengan orang tua mereka. Tetapi dari segi qalbu, sama sekali tidak lebih baik dari para orang tua mereka. Apa yang mereka lalukan dan mentalitas mereka tidak berbeda jauh dengan para orang tua yang mendidik mereka.

Seperti apakah Indonesia pada dekade 60an dan 70an?. Prof. Koentjaraningrat, seorang antropolog, mengamati kehidupan (terutama mentalitas) masyarakat Indonesia yang terangkum dalam buku Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (1982). Buku itu ditulis (cetakan pertama) tahun 1974, tetapi pengamatan Prof. Koentjaraningrat sudah dilakukan sejak pasca kemerdekaan.

Prof. Koentjaraningrat (1974 : 45) menyebut ada lima kelemahan mentalitas yang timbul setelah revolusi, yaitu “(1) sifat mentalitas yang meremehkan mutu; (2) sifat mentalitas yang suka menerabas; (3) sifat tak percaya kepada diri sendiri; (4) sifat tak berdisiplin murni; dan (5) sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.”

Meskipun sudah setengah abad berlalu, mentalitas manusia Indonesia masih tetap sama dengan mentalitas dekade 60-an dan 70-an. Tidak aneh jika saat ini mentalitas menerabas masih menjadi mentalitas “favorit” manusia Indonesia.? Para “pemimpin” yang saat ini berusia 40 sampai dengan 55 tahun yang merupakan generasi hasil karya generasi dekade 60-an dan 70-an. Para orang tua yang saat ini berusia setengah baya inilah yang kemudian “menggambar kertas putih”, yaitu generasi yang saat ini berusia 20 – 30 tahun. Mereka “menggambar kertas putih” dengan bekal 5 kelemahan mentalitas yang diwariskan generasi terdahulu.

Generasi penerus yang saat ini berusia 20 – 40 sudah banyak yang berkeluarga. Mereka pun bertindak sebagai orang tua yang “menggambar kertas putih”. Hasil “menggambar kertas putih” pun saat ini sudah ada yang mulai kelihatan, antara lain “membiarkan” anak di bawah umur untuk mengemudikan kendaraan bermotor (roda dua dan/atau empat), tawuran antarpelajar dan antarmahasiswa, terlibat narkoba, dan lain sebagainya.

Sejatinya, bukan salah bunda mengandung. Anak-anak juga dilahirkan dengan qalbu dalam keadaan suci. Pola asuh, bebet, dan bobot para “pengasuh” yang akan menentukan generasi macam apa yang akan meneruskan tongkat estafet.

Tampak Siring, 19 Oktober 2013

 
Leave a comment

Posted by on October 19, 2013 in Selasar

 
 
slot 体育新闻| 8868体育| 8868体育| 体育新闻>| <蜘蛛词>| <蜘蛛词>| <蜘蛛词>| 8868体育| 8868体育| 8868体育|